Finally Got it!
May 1, 2009
Left early from office for the ’special day’-which finally arrived- to pick up my new passport. Along the way I was pretty sure that I won’t have to wait anymore.
All counters were closed, but I just ask a lady who was behind her computer to take my note of payment. I asked this woman because another younger woman who actually behind the counter herself, seems too busy or too deaf to hear what I said. Or simply because she couldn’t move because of those heavy make-ups all over her face.
Anyway, the older woman- surprisingly- was actually quite helpful, AND with a SMILE on her face. Not a wide smile but enough. Well well..a change of attitude, maybe start to happening here? She asked whether I still want to keep my old passport. I said yes, and she told me that I will need to fulfill a form and a copy of both my old and new passport.
Ok, no problem. Done it, paid another 8000 rupiahs and I finally got it! Felt so relieved, I done it by my own, ‘following THEIR procedures’, although with all the hustle bustle inside the office. For some it maybe just another day-just another-not-so-important piece of paper, for God’s sake- but I felt great anyway. I congratulated my self and thanked him who always willing to spare his time to stand by my side along those boring process Thanks a lot dear..
Lemot Akut Bureaucracy (part 4)
May 1, 2009
Untuk kesekian kalinya, kembali mengunjungi kantor imigrasi yang sudah berhasil menginspirasi saya menulis hingga menjadi 3 bagian. Hari ini seharusnya waktu untuk mengambil paspor yang-seharusnya- sudah jadi. Saya membayangkan hari ini tidak akan perlu banyak membuang waktu dengan menunggu. Instruksi yang saya ingat ketika wawancara 4 hari yang lalu adalah, “..silahkan kembali 4 hari lagi untuk mengambil paspor baru, cukup serahkan bukti pembayaran (warna putih) di loket.”
Lemot Akut Bureaucracy (part 3)
May 1, 2009
Arrived at 8 am something.Write my name,got number 5 in the list (not bad..or so I thought). Half an hour later got a call to pay at the cashier.No exact amount was written on the form,hopefully still the same,270.000 rupiahs.Another small card to queue,number 14.Hm.How long this will last..Then we wait again,what a boring chairs and view surrounds me…Lucky me,he’s by my side,so I wasn’t that dead bored. A woman beside me complaining about how slow these people are in handling things.I said the same thing to her,these people are to slow,didn’t understand what make them this slow!Haven’t they eat breakfast yet or what?I remember this woman beside me well,she’s the the same woman I saw last week.She was standing by my side at the counter that time,tried to explain that her name is the real one,never been changed before..Quite a dialogue,that’s why I remember her today. Wait about 15 minutes or so,the cashier called my number.What a surprise,before me was number 8!How come the order changed,from 8 to 14?Didn’t get it.So it’s still 270.000 rupiahs.Ok.Next step was to return the yellow sheet back to the counter,and of course,they told me to wait.This time got no queue number.It made me upset,how then I know when will be my exact turn to be called up?They can easily switched my turn to somebody else’s,right?Almost an hour in vain,finnaly I called up to take my pic.I was so upset,it turned out I looked like a ghost in the pic.So be it..Then another seat at the waiting room,then finnaly the interview..About my name,birthday,address,where will I planned to go..where’s my last visit abroad,etc.Some signatures,and then the guy told me it’s done,told me to be back 4 days later to take my new passport.FOUR days?Another days?OMG.What to do,this is all you got with the slow work system,uneffective flow of bureaucracy..
Lemot Akut Bureaucracy (part two)
May 1, 2009
Surat rekomendasi asli sudah ditangan, hasil dari berpacu dengan waktu mengejar tandatangan direktur SDM. Kejadian konyol sehari sebelumnya nyars terlupakan, berkat olah visualisasi kreatif di malam hari. Harapan untuk menyelesaikan segala urusan di hari ini pun terbangkitkan dan perjalanan ke lokasi terasa ringan..
Lemot Akut Birokrasi (part one)
April 7, 2009
Libur di hari kerja memang sering dimanfaatkan untuk mengurus samsat, SIM, bayar membayar tagihan, dan lain-lain. Libur di hari kerja kali ini saya manfaatkan untuk mengurus perpanjangan passport yang sudah habis masa berlakunya beberapa hari lalu. Setelah bertanya kanan kiri -sampai browsing segala untuk mengingat yang perlu dipersiapkan dan dilakukan—saya merasa cukup percaya diri mengurus semuanya sendiri. Itu berarti mengikuti prosedur normal tanpa short cut, baik lewat calo maupun lewat ‘surat sakti’.
Mozaik Pesta Demokrasi 2009
March 12, 2009
Indonesia sedang ‘sibuk’. Sibuk berpolitik, sibuk melakukan banyak hal tidak penting diantara sekian banyak hal penting yang harus diprioritaskan untuk mengelola Negara ini dengan lebih baik. Tentu saja Presiden tidak bisa dituding sebagai satu-satunya akar permasalahan, karena Negara terbentuk berdasarkan kesepakatan individu-individu yang tergabung di dalamnya. Individu-individu inilah- yang kemudian disebut sebagai warganegara- yang sebenarnya memiliki peran menjaga terwujudnya good governance di Negara ini.
Free-spirited Piko
January 29, 2009
Piko- my Balinese breed dog- became part of our family about 4 years ago as a clumsy little dog. From his look, nothing special about him. Dog of his kind is widely known –just for fun- as ‘balinese dalmatian’ because of the mix of black and white spots on their skin. He was given by a friend’s aunt who actually hesitant to let him go, and made me promise that I’ll take a good care of him.
Rabies, Another Side of Story
January 4, 2009
Seandainya saat ini ada manusia se-kaliber Angling Dharma atau Santo Fransiskus dari Asisi, mungkin kita akan lebih mudah memahami berbagai penyakit yang disebabkan atau diperantarai oleh binatang. Kedua tokoh ini memiliki latar belakang yang jauh berbeda dan hidup di jaman berbeda. Angling Dharma seorang tokoh nusantara yang kisah hidupnya menempatkan sang tokoh antara kenyataan dan legenda cerita rakyat. Sejumlah tempat di nusantara mengenal tokoh ini, mulai dari Jawa Barat, Bojonegoro hingga Bali. Sementara Santo Fransiskus dari Asisi, Italia adalah santo pelindung binatang dan anak-anak, ia hidup antara tahun 1182 hingga 1226. Persamaan keduanya adalah kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan binatang-binatang dan menyatu dengan semua ciptaan.
Mendobrak Tradisi Menuai Bencana
December 22, 2008
Bagi sebagian orang yang menganggap dirinya visioner, berpandangan ke depan dan lain-lain yang intinya mendukung adanya PERUBAHAN, judul diatas tentu disimpulkan sebagai sesuatu yang stagnan atau bahkan cenderung anti-perubahan. Mendobrak sebuah tradisi yang sudah lama hidup dan disepakati bersama oleh sebuah masyarakat, memerlukan keterbukaan wawasan, kematangan dalam berpikir, dan tentu saja memahami apa yang sedang terjadi. Mendobrak tradisi tidak dilakukan secara impulsif atau semata untuk kepentingan jangka pendek yang seolah-olah menyelesaikan masalah, namun pada dasarnya justru membahayakan diri sendiri dan sekian generasi berikutnya.
Caleg: Cendawan di Musim Hujan
December 16, 2008
Pemilu 2009 semakin dekat. Atribut pemilihan calon legislatif sudah mulai marak dipasang sejak berminggu-minggu lalu. Sementara kabar-kabari yang mengarah ke arena pemilihan presiden 2009 masih berupa selentingan disana-sini lengkap dengan berbagi jenis prediksi. Hampir seluruh porsi berita di media massa habis untuk memuat berita politik, dengan berbagai cara penyajian. Ada yang menggunakan bahasa sederhana sehingga terlihat jelas motivasi untuk ‘menjual diri’, ada yang dengan cerdas mengemas gaya kampanye sehingga terlihat wajar dan santun.