Ada yang bilang lingkungan kerja tidak pernah benar-benar “sehat”, jadi dengan kata lain, jangan mencari sahabat terpercaya di lingkungan kantor. Sehat tidaknya sebuah lingkungan kerja ditentukan oleh banyak faktor, misalnya tingkat kesejahteraan, efektifitas sistem kerja dan koordinasi antar bagian di perusahaan tertentu, tingkat keprofesionalan orang-orang di dalamnya, tingkat apresiasi yang diberikan employer kepada employee,Dan faktor yang sebenarnya paling penting : sehat tidaknya mentalitas orang-orang yang terhimpun dan terhubung satu sama lain dalam institusi tersebut.
Read the rest of this entry »

New Year, New Life

March 6, 2008

Finally it comes, my most favorite day of the year : Nyepi. It will be the new year of 1930 – Saka Year. The year of 2008 and now Nyepi – both giving me a new chapter of my life.. and I’m grateful to be given such a chance. It’s not that I’ve wasted many things in life, but I tend to let myself carried away in situations which made me feeling numb, became suspicious or worried for things in a way I’ve never imagine before. There was a time when I feel so lack of love so that I begin to question myself although I know it is the last thing I would do if I’m fully ‘awake’.

But each person needs their own time to finally understand how life works for them. I need my own time to realize that I must believe my inner voices. When things didn’t seem alright, maybe it is not alright. But for the sake of ‘love’, we tend to keep our eyes shut and let our ‘memories’ lead the way. But memories are old, it’s not today, it’s not here and now. It’s already passed, however sweet or even unpleasant.

I’m grateful for everybody who ever came into my life, because each is a messenger to me. Whatever experience I had or will have with them, I believe it’s a chance to learn my lessons in life, my own subjective world. Things, people, experiences, thoughts, they’re come and go. Sometimes we will be forced to move on, by the time we really want to stay- only because we become so attached to it and too worried to let go. And if we have enough courage, bravery, guts, insight.. whatever you call it, there’ll be time to DECIDE. My sister told me that once we decide, all the rest is taken care of. Now I can see.

People might think or say anything they want about our life, or even how we live our life. People might support, put distance or even condemn, all is their own rights on how to spend their energy, the energy that should be used to live their OWN life. I’ve been through this, but now I know I take the right decision.

Happy Fulfilling New Year 1930!

Traffic Madness (3)

March 4, 2008

Apakah helm benar-benar menjamin keselamatan pengendara sepeda motor? Tergantung. Tergantung jenis kecelakaan dan tergantung kualitas helm. Masih ada tergantung yang lain : tergantung jalan karma, keberuntungan, mukjizat, garis tangan, kehendak Tuhan, nasib, dll yang serupa diluar pemahaman nalar biasa. Di Bali dan mungkin juga Jakarta, sudah menerapkan aturan berlalu-lintas terkait penggunaan helm standar (helm yang menutupi sebagian besar bagian kepala samping dan belakang). Jadi jika coba-coba menggunakan helm dengan tampilan mirip helm proyek, pasti akan kena tilang (mau jalan damai atau lewat pengadilan, tergantung anda dan polisi).

Suasana agak berbeda di Bangkok, lebih-lebih di Phnom Penh. Sebenarnya suasana lalu lintas Bangkok agak mirip Jakarta, jadi tidak terlalu terasa di luar negeri, kecuali karena bahasa dan tulisannya yang mirip-mirip huruf Bali/ Jawa. Dan disini, tidak wajib helm, rambut bisa berkibar-kibar untuk para lelaki yang ingin memamerkan kegondrongannya, mungkin..

Di Phnom Penh, mereka sepertinya cukup berbakat menjadi pemain sirkus, karena satu sepeda motor bisa mengangkut 3-5 orang dewasa! Bukan lagi mobil keluarga, melainkan motor keluarga. Itu baru sepeda motor. Jenis angkutan umum lainnya yang sejenis tuk-tuk di Thailand, bisa muat sampe 10 orang, padahal setelah dicoba, kapasitas normal untuk anatomi tubuh orang awam hanya untuk 4 orang, plus barang-barang bawaan dibawah kaki. Kenapa bisa muat sampai 10 orang? Karena areal dibawah kaki yang biasanya untuk barang, bisa dimanfaatkan untuk menambah jumlah penumpang! Jangan lupa, masih ada kesempatan untuk bergelantungan disisi kanan kirinya..

Meski tidak sehiruk pikuk di Bangalore, pengguna jalan di Phnom Penh bukan tipe penyabar. Traffic light berfungsi dengan baik, hanya saja pengendara sepeda motor biasanya berhenti tidak pada batas traffic light, tapi kira-kira setengah meteran SETELAH traffic light. Jadi sebenarnya mereka tidak tahu kapan lampu akan berubah hijau, yang jelas begitu kendaraan dari seberang berhenti, mereka akan segera melaju. Data statistik menunjukkan tahun lalu jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas bisa mencapai 4 orang/ hari! Jumlah ini belum ada apa-apanya dibandingkan ketika Khmer Rouge ruling the country dengan tragedy the killing field saat itu, but it’s still worrisome, no?

But it might be another ‘healing’ process for them after years of such tragedy, breaking out, live a ‘disorder’ life for some time, to be able to find and trust the life in order. Mungkin..

Traffic Madness (2)

March 4, 2008

I thought Jakarta have the worst traffic, at least di seantero Indonesia. Selalu ada kelegaan tersendiri ketika meninggalkan kota ini dan kembali ke kota kelahiran yang lalu lintasnya lebih ‘masuk akal’.

But not until one short visit to Bangalore, India. It really changed my opinion about Jakarta’s traffic. How’s that happen? Begini ceritanya..

Mendarat di bandara di Bangalore, kesan pertama memang jauh dari kesan bandara internasional, sempit, kusam dan secara fisik nyaris mirip dengan terminal bus biasa. Waktu itu sekitar tengah malam, dan seakan untuk memperkuat hal itu, ada seseorang yang sedang tidur diatas.. carousel! Kami para penumpang yang sedang menunggu bagasi memang antri di carousel di sebelah, but that sleeping man didn’t seem to be disturbed at all. Meskipun agak shock karena suasana yang sangat hiruk pikuk, ada harapan mungkin diluar bandara suasana akan jauh lebih hening karena it’s midnight, for God’s sake!

But nooooo way. Way no way..

Semua duduk anteng di mobil (yang lumayan bagus, sejenis Avanza mungkin) sambil berharap bisa merehatkan badan yang nyaris sudah sekaku kursi pesawat. Ternyata ada kejutan lain, pak sopir nya ngebut sekali dan mengklakson tiada henti..(is it true? In 1 o’clock in the morning?) Badan pun kembali sekaku kursi pesawat.. Ternyata semua orang perilakunya sama..mengklakson tiada henti dan super ngebut. I was too afraid to imagine how’s the traffic will be in daylight..

Daylight and things got worse. Since I can looked around and see clearly now, I realize this is the most crowded city I’ve ever been to. Kecepatan tinggi dan klakson adalah satu paket sempurna. Plus gontok-gontokan sesama sopir (meski hanya ngomel dari mobil masing-masing lengkap dengan gaya khas kepala yang bergeleng-geleng). Tidak ada cerita spion nangkring pada tempatnya – you know, left side right side. Semua kaca spion-terutama mobil dicopot karena pasti akan disenggol kendaraan lain. Jadi satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaan kendaraan lain : klakson, atau tulisan “horn please” dibelakang mobil. Dengan semua hiruk pikuk itu, mereka yang berasal dari Jakarta akhirnya bisa mensyukuri lalu lintas Jakarta yang belum semeriah ini..

Hari pertama, masih takjub dengan suasana meriah lalulintas Bangalore (atau sekarang Bengaluru?) plus serangkaian kejutan dan omelan. Hari kedua masih agak takjub dan mulai bisa menertawakan diri sendiri dan lingkungan. Hari ketiga -didalam mobil- only silence remains..karena semua orang kecuali sopir : tidur! Ada benarnya, manusia itu makhluk yang sangat adaptif..

Traffic Madness

March 4, 2008

“Nothing can stop the rain from falling”..Tapi mungkin akan lain ceritanya kalo di Bali atau di Jawa yang familiar dengan keberadaan pawang hujan. So, it’s negotiatable, lah.. Masalah sukses nggaknya seorang pawang hujan, ya tergantung kekuatan pikiran si pawang dan orang-orang yang ‘dipawangi’. Karena meskipun sebagian besar masih menggunakan sekian banyak sesaji dan serangkaian ritual, ada juga yang hanya menggunakan ‘bantuan’ dupa, tentu saja dengan keyakinan penuh bahwa kekuatan pikiran akan melakukan semuanya.
Hubungannya hujan dengan traffic madness? It increase the madness!

Hujan gerimis maupun lebat, akibatnya bagi pengguna jalan sama saja, naik motor maupun mobil : kepanikan melanda, everybody suddenly in a rush, mencoba mendahului yang lain. Dan gampang ditebak apa yang terjadi selanjutnya : macet! Kalo pengguna motor mengalami kepanikan mendadak, mungkin cukup bisa dimaklumi. Tapi yang naik mobil kok panik juga, ya? Kan gak akan basah kuyup? Meaning.. meski sudah bermobil, mungkin perasaannya masih bawa motor sehingga tetep panik? Atau bisa jadi karena semua orang pada saat hujan, secara otomatis switch channel ke otak purba mereka- berlindung di gua-gua ketika hari hujan.. Apapun motivasi dibelakangnya, again : traffic madness.
I’ve read it somewhere bahwa keadaan lalu lintas suatu tempat bisa jadi merupakan refleksi kondisi mental masyarakatnya. True or not, let’s say it’s just another opinion from one of us who try to understand the world around us.

Yang pernah ke Jogja pasti setuju bahwa lalu lintas di Jogja sangat ‘rupa-rupa’. Ada mobil keluaran terbaru sampe yang sudah harus dipensiunkan, sepeda, becak….sepeda motor apalagi. Beberapa ruas jalan tertentu sudah bisa dipastikan macet setiap hari (dengan traffic light –dan polisi lalu lintas- yang berfungsi seperti biasa). Dari sekian hal ‘ajaib’ yang mungkin terjadi di lalu lintas dimana saja, di Jogja ada kesepakatan umum bahwa setiap belok kiri adalah, atau harusnya “jalan terus”. Jadi meski tidak ada tanda yang bilang ‘belok kiri jalan terus’, orang-orang akan mengklakson dengan penuh semangat jika kita coba-coba berhenti di jalur kiri saat lampu merah di jalan-jalan tertentu. Another traffic madness.

Pernah ada kejadian cukup lucu waktu masa-masa reformasi di tahun 1998. Nah, traffic light di sebagian besar kota Jogja saat itu jadi sasaran, dilempar batu, dirusak, sehingga selama sekian hari Jogja ‘bebas’ traffic light. Funny things happen (just like shit mostly like to happen once in a while in life) : lalu lintas kota Jogja tiba-tiba lancar! Mungkin karena justru tidak ada traffic light (baca : aturan), semua orang jadi lebih mampu mengurus dirinya sendiri, lebih waspada berlalulintas karena kemalangan/ kecelakaan- kemudian- porsinya jadi ‘sama dan sebangun’ untuk setiap orang.

Ketika traffic light berfungsi kembali di seluruh kota Jogja, bisa ditebak apa yang terjadi : macet dimana-mana! Who’s to blame? It’s really hard to tell.. Mungkin hanya karena aturan berlalulintas belum cukup lama kita adopsi, seperti halnya kedangkalan berpikir umum terjadi ketika orang-orang belum cukup lama melalui budaya membaca sebelum memasuki budaya televisi.