BookWorm (3)
October 27, 2008
Seandainya disini ada Social Agency, mungkin Gramedia bukan satu-satunya pilihan berburu buku. Tapi syukurlah ada Toga Mas-alias ToMas biar gampang sebut- yang kurang lebih sama seperti Social Agency : toko buku diskon. Memang tidak se-chick tampilan Gramedia dalam hal display, tapi bagi mereka yang cinta buku, rasanya ini bukan masalah besar. Just scroll up and down the racks, you’ll find a lot of interesting books. Ini juga berlaku di Gangarams Book Bureau, di Bangalore. Display yang teratur dan rapi sama sekali bukan hal utama disini, tentu saja tanpa mengabaikan kualitas/ kelengkapan koleksi buku..
BookWorm (2)
October 22, 2008
Sebelum ke Sydney, ada pre-departure dulu selama 3 bulan di Jakarta. Uang saku per bulan cukup besar, terutama buat mereka yang dari daerah. Pernah sekali waktu, my beloved yang tugasnya anter jemput (waktu itu belum status pacaran, masih ‘hanya’ kerabat) ada kuliah di kampus Depok, jadi aku statusnya dititip di Gramedia Matraman. Dari Kuningan ternyata jauh buanget, bener-bener bikin lemes. But once nyampe di Gramedia..huaaaa..ilang semua lemesnya. I end up beli buku se-plastik besar, trus ngopi di cafetraianya (sempit bener) sambil baca buku. I thought to myself, this is life, mau beli buku.. uang ada, dengan kopi dan buku di depan mata, life IS good!But that was only the beginning of my journey with books..
BookWorm
October 21, 2008
Waktu kecil dulu, bacaanku paling awal adalah si Kuncung (inget dengan kertasnya yang buram dan bau khasnya) trus Bobo, Ananda..Donald Bebek. Dari cerita kakak-kakakku, mereka waktu kecil dulu dilangganin Bobo ama ortu. Jadi ketika harinya tiba, mereka berempat sudah stand-by nungguin orang yang bawain Bobo. Kadang sampe rebutan dan musuhan (berempat jadi dua group). Heran juga, pas aku seusia mereka, kok tidak langganan Bobo lagi, ya? Mungkin karena umurku terpaut jauh dari kakak-kakakku ya?
Mayday! Bloody Flood!
October 16, 2008
Rumah kebanjiran sebenarnya bukan hal baru buat keluargaku. Banjir sampai terjadi bukan karena tinggal di perkampungan kumuh, bukan karena dilingkungan kami banyak sampah. Tapi hanya karena posisi rumah yang lebih rendah ketimbang jalan. Maklum, rumah kami dibangun tahun 70-an, sebelum aku lahir, dan merupakan rumah pertama ditengah-tengah sawah, sampai berangsur-angsur menjadi pemukiman padat seperti sekarang. Tata ruang yang tambal sulam, terutama masalah drainase, membuat lingkungan rumah selalu menerima kado banjir dari areal yang lebih tinggi di utara. Tetangga kanan kiri juga mengalami masalah sama, tapi tidak separah rumah kami.
(EVALUASI) PERHELATAN AKBAR PESTA KESENIAN BALI
October 16, 2008
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30 tahun 2008 sudah berlalu. Perhelatan rutin ini dari tahun ke tahun menuai berbagai pendapat, seringkali yang bernada sumbang : PKB monoton, PKB bagaikan pasar malam, tidak benar-benar menjadi media pelestarian budaya Bali…dst. Meski demikian, PKB terus berlanjut, diadakan setiap tahun disekitar bukan Juni atau Juli, selama sebulan penuh. Jika diamati, ajang PKB terutama di malam hari, memang tak ubahnya pasar senggol alias pasar malam, khususnya bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Memang disana-sini, diantara sekian kalangan (panggung tradisional) dan panggung modern yang terdapat di Art Centre, ada saja pertunjukan kesenian yang diselenggarakan. Dan masyarakat pun sebenarnya memiliki cukup banyak pilihan untuk menikmati kesenian tersebut. Hanya saja, yang sering terjadi, hiruk pikuk pedagang dan aneka barang dagangannya menjadi lebih menarik ketimbang seni pertunjukan itu sendiri. Pengunjung seringkali justru terlena diantara gelaran barang dagangan, sehingga pagelaran sebuah seni pertunjukan pun terlewatkan.
Old Friend in Bali!
October 14, 2008
For as long as I remember, I didn’t have many friends. I picked my friends carefully. I never enjoyed hang out with so many people like many teenagers usually did. I never enjoyed being with so many people talking loudly about almost nothing. It’ll be so tiring for me.