Archive for November, 2011

November 30, 2011

Lighten Up, Be More Responsible to Your Dear-Self!

Akan selalu ada pahlawan-pahlawan kesiangan yang ingin mendapatkan kredit berhati mulia dihadapan orang banyak. Motivasi mereka adalah untuk mendapatkan sebanyak mungkin dukungan dari orang lain jika suatu saat mereka menghadapi masalah. Yang mendasari kejahatan mental semacam ini adalah kurangnya rasa tanggung jawab untuk mengurus diri sendiri, kekecewaan hidup, ketidakpuasan terhadap pasangan, kebiasaan untuk membuat orang lain terlihat buruk dalam segala kesempatan..dengan kata lain, para pecundang, big losers. Mereka adalah pribadi-pribadi palsu yang lemah jiwanya, gampang tersesat dalam berbagai agenda kepentingan to save their own ass.

Sangat melelahkan untuk berdekatan dengan orang-orang seperti ini. They will drag us down, untuk ikut berkubang dalam kegelapan jiwa tersesat mereka. Jika mereka merasa terancam, mereka akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan diri, dengan menghasut orang-orang lain untuk setuju dengan cara pandang mereka yang terkontaminasi. Ditengah berbagai masalah pribadi yang seharusnya mereka bereskan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap diri sendiri, justru menyibukkan diri mengurus orang lain, mengamati orang lain, mencuri-curi kesempatan untuk intervensi dan membuat diri mereka sendiri terlihat baik, peduli, dan yang mulia-mulia palsu lainnya.

They will never know themselves any better, karena mereka moving outwards, bukannya inwards,meniti jalan ke dalam diri.

Penyakit alias dis-ease, kurang lebihnya bisa diartikan akibat ketidaknyamanan, ketidaktenangan. Semua penyakit adalah psikosomatis, that’s what I believe. Tumpukan-tumpukan emosi, kekecewaan, pikiran-pikiran menyakiti orang lain..semuanya akan end up pada penyakit dalam berbagai bentuknya. Salahkan bakteri, salahkan virus, salahkan orang lain yang mungkin ‘menularkan’ penyakit ..whatever, you name it. Tapi satu yang harus diingat, energi mewujud menjadi materi. Pikiran-pikiran sesat akan mewujud menjadi penyakit. Kalaupun kita kadang-kadang sakit, don’t blame it on anything. Your body is your responsibility, so watch out your mind. Sadari saja, tubuh punya kecerdasannya sendiri, if people get sick, that’s the time they should really have big acceptance for it, to then evaluate themselves, looking inward. Jangan buru-buru kalap nyari dokter. Apalagi koar-koar menginformasikan orang lain supaya semakin banyak orang yang prihatin. Even if the worst thing happen, you should have some guts to accept, that it happened because of you. Something in you allows it. Kadang-kadang tubuh mencoba menginformasikan kita if something goes wrong. Just sit back and listen. If people get so sick, it’s really depend on them how the next phase is going to be. Akan menjadi sehat, tetap sakit tapi menerima penyakit tsb sbg bagian dari kehidupan saat ini, atau semakin memburuk karena tidak ada penerimaan dari dalam, or what?

Jika pikiran kita isinya hanya lack of self respect, strategi-strategi untuk mencelakakan orang, it registers. Apapun hal negative yang kita sempat pikirkan, rencanakan, lakukan, akan tercatat dalam buku kehidupan kita. Kita sendiri yang mencatatnya, without our conscious knowing. Dan alam semesta juga punya arsip ini, sehingga kenapa kaget if something ‘bad’ is happen to us? Tidak bisa juga kita kategorikan itu sesuatu yang buruk, let’s say it’s a happening that we don’t wish to happen.

Jika sesuatu terjadi pada diri kita, just accept, don’t seek for sympathy, gak usah terlalu mengasihani diri apalagi minta orang lain membezuk. Bukannya yang dibutuhkan ketika sakit adalah istirahat (body and mind), jadi jika terlalu banyak pengunjung, mereka yang sedang “sakit” seharusnya terganggu,kan? Karena harus berulang-ulang melewati ‘adegan’ yang sama. Pembezuk datang, basa basi, dialog yang kurang lebih sama..dst dst. Tentu saja, bagi sebagian orang, this kind of visit might help, to make them feel that people have attentions for them. Mungkin malah bisa jadi obat yang lebih mujarab ketimbang obat dokter. Tapi jika kita memang tidak berharap DARI AWAL bhw people will visit or showing sympathy (jangan lupa, bagi para pembezuk, kegiatan ini juga menimbulkan feeling good dalam diri mereka, diakui maupun tidak, they can see themselves as such a nice people, misalnya).. apakah dengan tidak ada penjenguk, membuat sakit mereka tambah parah? Gak perlu juga begitu, toh?

Kalau saja semua orang mengurus dirinya sendiri dengan baik, dengan layak, karena segala tanggung jawab kelahiran kita adalah milik kita sendiri, tidak akan ada cukup waktu untuk mencari-cari kesalahan orang lain, kekurangan orang lain, bahan-bahan gossip gres untuk dijadikan topik diantara para pengemis perhatian itu. Sebuah pikiran yang sangat sederhana, uruslah diri sendiri dengan baik, selesaikan dulu masalah-masalah pribadi (yang mungkin masih sangat banyak), sebelum sibuk membicarakan orang lain behind their back, seolah-olah sudah beres dengan kehidupannya sendiri. Please deh, ah..buktinya masih bisa sakit, masih DIS-EASE, berarti belum cukup beres to be called sehat jasmani dan rohani.

Nobody’s perfect, true. But that’s why we have to WORK ON IT. Hentikan kesibukan mengasihani diri sendiri and blaming others. Lighten up, be more responsible to your dear self, and things will be just fine. Get to know yourself, terlalu banyak yang bisa ditelusuri, dan mungkin bisa mengurangi sekian banyak waktu yang dihabiskan untuk menyusun strategi-strategi ajaib untuk membuat orang lain terlihat buruk dalam berbagai kesempatan dan mendapatkan nama baik out of it. \m/

November 30, 2011

Acquaintance With Death: A Brand New Beginning

Most people fears Death because it is something unknown, or one thing that most people avoid to talk about, or even to think about. Kematian identik dengan ratapan tangis keluarga yang ditinggalkan. Perasaan kehilangan yang menyisakan sebuah lubang di hati, yang mungkin akan pulih seiring waktu, mungkin tidak akan pernah pulih.

Pertemuan pertama saya dengan kematian adalah ketika Kakek (paman dari Bapak) meninggal karena gangguan paru-paru. Kakek memang perokok berat. Sampai sekarang saya masih ingat aroma rokok yang menguar dari t-shirt putih tipis yang dipakainya jika kebetulan tidur bersamanya. I love that smell. And the way he breathed, it’s quite funny. Sometimes I just watched him breathing, and that moment was such a personal moment for me. Ketika itu saya mungkin masih kelas 3 SD.

I knew death come by to our home when I got up one day dan melihat Ibu sedang memasukkan baju-baju ke dalam tas sambil menangis. Dalam memori saya, she told me to ‘see’ him in the next room. I just sat there quietly, watched his dead body, trying to grasp the idea that he’s already gone. He died in his sleep, quiet and calm. I watched my grandma cried, my sister cried heavily and so silently I cried.

Ambulance datang, kami semua pulang kampung karena upacara ngaben diadakan disana and the rest was just a memory fading by..

He has done a lot for his nephews and nieces, he never did had his own children. My father was his most concern to get appropriate education, He continued to do so to us, my father’s children. He taught us a lot, how to have dignity, to behave as an educated and qualified person. Ada kebanggaan tersendiri ketika pulang kampung menyerahkan buku raport kami masing-masing dan melihat wajah sumringah nya karena kami memang selalu juara kelas. Bersamaan dengan buku raport, kami selalu membawakan Bobo. To think about it now, I thought it’s kinda sweet, mungkin kakek juga punya rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia anak-anak, atau mungkin cuma karena haus bacaan. Somehow it makes us, unconsciously, have the same eager to read anything. Ada juga hari-hari dimana kami merasa bosan membuat ‘gigi barong’ kedalam berlembar-lembar buku tulis, agar tangan terbiasa menulis tegak dan melatih konsistensi kemiringan/ ukuran huruf. Latihan yang melelahkan dan membosankan bagi anak-anak yang sering sulit memusatkan perhatian pada satu hal dalam waktu lama. Manfaatnya saya rasakan sekarang, tulisan tangan yang terbilang nyaman dimata, tidak cakar ayam.

The time to ‘have’ him as somebody I dearly called grandfather, maybe too short to learn many things from him or to know him better as a person, not only as a ‘grandfather’, but I knew that those time was so precious, which we valued until this very day.

Masih dalam memori masa anak-anak, ada seorang saudara jauh di kampung yang cukup dekat dengan kami. Usianya sepantaran kakak sulung saya, berarti 11 tahun lebih tua dari saya. Saya selalu menikmati waktu dengannya, meski jarang bertemu, tapi dia pribadi yang luar biasa hangat. Selalu tersenyum lebar, memberikan pelukan yang luarbiasa nyaman untuk anak-anak seusia saya ketika itu, yang kadang-kadang merasa gamang berada di tengah-tengah orang-orang ‘besar’. Dia juga tidak pernah keberatan untuk membawa saya ke pangkuannya. Senyuman, pelukan, percakapan sederhana yang khas ditujukan ke anak-anak, saya ingat dengan baik. Seperti saya masih ingat dengan baik ketika kabar buruk itu datang dan saya ingat harus melanjutkan menjemur cucian sambil menangis. Saudara jauh itu meninggal akibat luka bakar tingkat tiga, karena api menyambar tubuhnya ketika menghadiri upacara ngaben dikampung kami. Dia seorang penari, dan menurut kepercayaan orang-orang, sudah takdirnya meninggal di usia muda, karena ‘alam sana’, ‘alam para dewa’, yang memintanya.

Apapun alasan yang mencoba menjelaskan kehidupannya yang singkat, saat itu juga saya menyadari, things will be way different. Tidak ada lagi sambutan hangat, godaan khasnya yang selalu berhasil membuat saya merasa senang dan nyaman berlama-lama duduk didekatnya. Saya tidak ingat pasti apakah saya hadir saat upacara ngabennya atau tidak. Yang jelas her warmth is really something worth to be remembered.

Kematian nenek dari pihak ibu, terjadi ketika saya SMP. Kami sudah menduga ini akan terjadi, ketika ia mengalami stroke yang kedua. Nenek dulu seorang penari arja, an artist. Memori saya tentangnya, sosok ringkih dan sangat lembut yang selalu mencoba kuat memangku saya, meski saya seringkali menolak karena tahu, fisiknya tidak cukup kuat berlama-lama memangku saya. Aroma tubuhnya yang khas, juga saya ingat dengan baik. Ketika itu yang ada di pikiran saya, apakah semua orang yang sudah tua, aroma tubuhnya kurang lebih seperti ini? Campuran antara keringat dan minyak ramuan tradisional yang bahkan aromanya melekat di alas tempat tidur.

Saya tidak pernah benar-benar mengenal nenek dari pihak Bapak karena sudah meninggal ketika saya masih kecil. Tapi ada ingatan samar-samar waktu nenek menyelipkan uang seratus rupiah lama berwarna merah. Belakangan saya tahu dari cerita kakak-kakak saya, nenek memang menyimpan uangnya dalam buntalan kecil di lipatan kain yang dipakainya. Bagaikan kantong doraemon, seperti itulah kira-kira keajaiban buntalan kecil itu di mata kakak-kakak saya.

Kedua kakek saya (dari pihak ibu dan bapak) meninggal dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, suatu kejadian yang membuat kami merasa ‘kehilangan’ berturut-turut. Kakek dari pihak ibu (kami memanggil beliau Gungkak = kakek) adalah petualang, sejak muda malang melintang di Sumatera sana, dan kami sering menjuluki kakek : pendekar, dengan segala macam jurus silat yang dulu sekali sering diperagakannya, terutama ke kakak laki-laki saya. Sementara kakek dari pihak bapak (kami memanggilnya Sikak = kakek), kurang lebih juga petualang, karena di masa itu Sikak sudah melaut sampai ke Temasek atau Singapura, menjual sapi. Jika dibawa ke konteks sekarang, rasanya wajar sekali jika bapak sudah melakukan perjalanan ke sekian banyak negara, tidak hanya Singapura, karena memang seharusnya seorang anak mampu melampaui pengalaman orangtuanya.

Yang paling membekas, jika tidak bisa disebut pengalaman traumatik saya selama sekian tahun adalah ketika Sikak meninggal. Ada momen tertentu pada hari ketika Sikak meninggal, which made me cry EVERYTIME I remember him. I wish that day never came, I wish I had more time with him, to realized just how great this man I called grandfather was. Even when am writing this sentences at this very moment, I couldn’t help myself from crying. I still connecting myself to his soul whenever I need guidance, once a while in my life (I usually easily find that courage in my big brother’s and—now– my husband’s). I always being grateful and proud to be his youngest grandchildren, to whom he can’t resist to tell folklore each time he’s been asked to.

Yang saya sebut nenek sebenarnya bibi dari bapak. Sebagai anak bungsu dengan jarak umur cukup jauh dan kedua orangtua bekerja, praktis waktu saya lebih banyak bersama nenek ketimbang siapapun yang ada di rumah kami. Bahkan dalam bank memori saya, terutama di usia balita hingga SD, lebih banyak diisi nenek ketimbang orangtua saya sendiri. Nenek pelindung saya, teman bermain, teman tidur, “tong sampah” saya setiap kali bete, dan tentu saja, ‘bankir’ saya dalam hal jajan. Nenek yang tidak tahu baca tulis, bahkan ikut ‘sekolah’ ketika saya ada di bangku TK, karena saya memang sering merasa tidak aman jika tidak melihat wajah nenek diantara para pengantar. Saya memilih untuk menyendiri ketimbang berlarian di halaman sekolah bersama anak-anak lain. I thought it was just so tiring and uninteresting activity, running around for nothing. Tidak heran, di raport TK saya, tercantum “sering murung”, meski tidak ada masalah dlm hal menangkap pelajaran. I simply having a bad mood (all the times). I guess it was just an evil side for being the youngest in the family, and quite a spoiled one. Ha-ha.

There were times when I felt such a tremendous love for her, at my young age. I will set up the table, prepared the plates and glass just for the two of us having a ‘decent’ table manner. She was just sat there and watched me doing all this. I even cleaned all the dishes. It was fun.

I got so attached with her at my young age, I always have the same prayer everyday, I prayed to “God” that I’ll be dead at the same time with her. What a prayer. I didn’t remember another prayers at that time but that one. Dan ketika saya sedang menyelesaikan skripsi di Jogja, berita buruk itu datang. Nenek jatuh dari tempat tidur, dan kehilangan kesadaran. I cried so hard that night, dada terasa sangat sesak. I thought am gonna lose her. Saya tidak bisa pulang, karena waktu yang sangat terbatas, sehingga basically setiap hari di Jogja saya cemas setiap saat, akan ada berita dari rumah bahwa nenek benar-benar akan ‘pergi’. Setiap deringan telpon membuat dada saya sakit. Belakangan kami tahu, bahwa panggul nenek patah terlebih dahulu (yang membuatnya terjatuh dari tempat tidur), mungkin karena usia. Mengenai kehilangan kesadarannya ever since, I really didn’t have a clue.

Ketika akhirnya saya menyelesaikan skripsi, kesadaran nenek datang dan pergi. Kadang dia terlihat mengenali saya, kadang terlihat terlalu ‘sopan’ dengan saya, seakan saya orang baru, tamu yang sedang membesuknya. She saw things we didn’t see. Perlahan tapi pasti, I lost her, I didn’t know her anymore. Tubuhnya masih ada, dengan fungsi biologis yang masih normal, but her soul hidden somewhere in between. Nenek berada dalam kondisi tersebut selama sekitar 2 tahun setelahnya, dan ada banyak peristiwa yang membuat saya semakin siap untuk ‘ditinggalkan’. Sekarang saya tahu, seandainya nenek meninggal saat saya di Jogja, luka hati itu pasti takes a very long time to be healed. Nenek akhirnya benar-benar ‘pergi’ hanya sehari sepulang saya dari Australia. Saya percaya sepenuhnya, she really knew me by heart and know that I might ‘mentally’ died if she gone that fast without ‘preparing’ me to be ready to let her go.

I dreamt about her a few times after she’s gone. It was always the same old feeling, she still there for me, watching me close and never let me taking foolish choices in my life.

Acquaintance with death, every now and then, makes us grow within. Death brings to life a new beginning, a new way to see life we often take for granted. The most valuable lesson that death give us, is the power of letting go and guts to embrace a fresh new beginning, another lesson to experience this moment of life.

November 30, 2011

Plain Truth on One Fine Family Outing

….(dalam sebuah bus pariwisata yang sesak oleh wisatawan asing yang berangkat dari Denpasar) ..”now, ladies and gentlemen..we’re heading to Taman Soekasada Ujung, located in Karangasem regency. But I must remind you to put on your eye mask, and only open it when I asked you to. The journey is meant to make you only remember the beauty of Bali, so THAT will be my main priority. Now please put on your eye mask…”

….(bus melewati sebuah jalan by pass)…hening selama sekitar 15 menit dan para turis mulai gelisah.

…”NOW! Open your eye mask! “ (para turis bergegas membuka penutup mata masing-masing dan mengerjapkan mata, menahan silau. Dan si pramuwisata pun meneruskan, “at your left you can see the beautiful rice paddies. You see, this kind of view, can be found nowhere else but here! Now…may you please put it on again..” (the journey continues).

Ketika para turis mengenakan penutup mata kembali, si guide dengan nanar menatap pemandangan sepanjang jalan tersebut. Sebelah kiri, bertebaran warung-warung sederhana nyaris kumuh, yang dibangun seadanya..pedagang kaki lima yang menjual kacamata merk palsu, sandal/ sepatu buatan luar daerah. Belum lagi sekian banyak truk yang sedang bongkar muat maupun sedang di-servis di bengkel-bengkel yang bertebaran disepanjang jalan. Semuanya jauh dari asri. Jauh dari pemandangan yang layak diingat wisatawan. Tidak ada penataan sama sekali.

Sambil menghela nafas, si guide mengarahkan pandangannya ke atas, menatap langit dan…lampu jalan. Betapa mengecewakan desainnya, mencuat memanjang bagaikan huruf “T” besar. Dan bentangan kabel-kabel listrik bagaikan benang kusut, sulit rasanya mendapatkan ruang untuk menatap langit tanpa melihat kabel terlebih dahulu. Tadinya si guide berpikir, mungkin desain ini berguna untuk menerangi kedua sisi jalan dengan lebih optimal..namun belum habis berpikir, tatapannya tertumbuk pada lampu jalan YANG LAIN di sisi kiri. Untuk apa ada dua lampu jalan, karena dari kondisinya, lampu di sisi kiri sepertinya lampu yang lama, namun belum dihilangkan.

Mencoba mengalihkan perhatian, si guide melihat ke sisi kanan, dan matanya terpaksa melihat kekacauan yang lain. Proyek jalan beton sedang berjalan, dan kenapa beton, si guide juga tidak tahu. Samar-samar ia ingat sebuah artikel tentang dampak konstruksi beton terhadap lingkungan. Tidak ada pilihan, si guide melirik kearah puluhan tamu asingnya, sambil berharap pemandangan akan segera berganti di depan sana.

…(tiba-tiba) “QUICK!Open the eye mask now NOW! So you’ll see at your right are the uniquely designed traditional Balinese houses..” etc…etc..

Dan tentu saja, situasi tadi hanya sebuah analogi.

November 30, 2011

Eat Love and Pray: Another Personal Experience of Knowing Bali

Setiap orang yang berkunjung ke Bali memiliki pengalaman pribadi yang bisa jadi membuka wawasan, atau bahkan mengalami pencerahan yang kelak diingat sepanjang hayat. Bagaikan candu, banyak orang ingin mengulangi momen bahagia tersebut, berkali-kali di pulau ini. Pengalaman pribadi ini tentu saja tidak melulu pengalaman manis dan positif, bisa juga pahit dan tidak layak diingat sepanjang hayat. Mungkin ada yang kecewa ketika berkunjung pertamakali, menemui kenyataan bahwa Bali tidak seindah gambarnya di internet, TV atau kartu pos. Atau kecewa karena setelah berkali-kali datang ke pulau ini, kemudian menyadari bahwa Bali sungguh membosankan sebagai tempat berlibur. Terlepas dari segala pengalaman dan pendapat pribadi terkait Bali, masyarakat Internasional tampaknya sepakat bahwa Bali layak menyandang berbagai predikat atas keberadaannya. Sebut saja, The Best Spa in The World- versi majalah Senses Wellness, The Best Island in Asia Pasifik- versi majalah pariwisata DestinAsia (4 kali berturut-turut), The Best Island of The World- versi Majalah Travel and Leisure, dll. Penghargaan ini berdasarkan hasil polling para pembacanya, dilihat dari berbagai sisi sebuah destinasi wisata.

 

Beberapa waktu lalu, saya menerima e-mail dari sebuah LSM yang concern pada perkembangan perfilm-an dan aktif berkontribusi untuk penyelenggaraan festival film. Isi e-mail tersebut, pengumuman mengenai kesempatan bermain film mendampingi “bintang film internasional“. Ketika e-mail itu saya terima, sudah banyak artikel/ posting yang beredar tentang syuting film Eat Pray Love (EPL) yang akan dilakukan di Ubud Bali, dan kabarnya akan diperankan oleh Julia Robert (salah satu favorit saya), sehingga e-mail itu tidak terlalu mengejutkan. Buku karya Elizabeth Gilbert ini sendiri sudah lama saya masukkan dalam list buku-buku yang ‘ingin’ saya beli. Namun selalu batal, tergantikan oleh buku-buku lain yang lebih menarik dan fulfilling. Jadilah buku ini semakin terdesak semakin ke belakang, dalam list must-have books imajiner saya. Ketika akhirnya ada kesempatan ke toko buku, saya MEMUTUSKAN untuk membeli buku EPL dan berusaha keras mengabaikan yang lain. Sebenarnya edisi bahasa Inggris jauh lebih menarik karena dengan bahasanya sendiri, tentu pengalaman si penulis lebih ‘berasa’ ketimbang terjemahan Indonesia-nya yang hanya ‘mendekati’, ditambah lagi pengalihbahasaan yang disana sini mungkin kurang tepat dan sulit dicari padanan katanya. Tapi lagi-lagi, tetap ada perasaan ‘tidak rela’ harus mengeluarkan uang ekstra untuk edisi bahasa Inggris, padahal kalau dibandingkan dengan harga buku-buku Osho, rasanya belum seberapa. Anyway, EPL sudah ditangan, siap dibaca.

 

Fast-forwarding…

 

Ketika ada beberapa buku yang secara bersamaan saya baca (biasanya dua- tiga buku) atau memilih beberapa DVD, seringkali ada ‘benang merah’ diantara buku atau DVD tersebut. Seperti saat tulisan ini dibuat, ada 3 buku yang bergantian saya baca: ‘The Winner Stands Alone’ –Paulo Coelho, Perahu Kertas –Dewi Lestari dan ELP –Elizabeth Gilbert. Secara singkat, benang merahnya kira-kira begini: Perahu Kertas dan ELP sama-sama memiliki bagian berlatar belakang Ubud Bali, lekat dengan nuansa inspiratif yang dipancarkan Ubud. Namun yang memiliki pertalian paling kuat adalah antara EPL dan The Winner Stands Alone.

 

Seperti banyak kisah berlatar belakang ‘penemuan jati diri’, ELP secara garis besar menceritakan perjalanan si penulis yang berusaha menemukan keseimbangan batin setelah bercerai dari suaminya. Perjalanan bernuansa spiritual tersebut membawanya ke Italia, India dan Bali, Indonesia. Saya mencoba membaca buku ELP sambil ngopi bersama kakak laki-laki dan suami saya, namun ternyata tidak cukup berhasil. Buku itu sebenarnya menarik, tapi entah apa yang kemudian membuat saya kehilangan minat melanjutkan membaca. Apakah terjemahannya/ pemilihan padanan kata yang kurang ‘mengalir’, atau karena ketika membaca saya merasa semuanya ‘standar’ dan biasa-biasa saja.

 

Setiap orang adalah pribadi yang unik, yang seringkali hidup dalam dunia subyektif, meski selalu mengagung-agungkan objektifitas. Pengalaman yang terjadi pada setiap orang -oleh karenanya- juga sangat unik dan very personal. Pengalaman mencerahkan yang dialami penulis ELP ketika bertemu dengan Ketut Liyer, juga merupakan pengalaman yang sangat personal. Penulis menyebut Ketut Liyer sebagai healer, medicine man dan kemudian diterjemahkan dalam edisi Indonesia sebagai ‘dukun’. Dukun generasi kesembilan. Dalam konteks Bali, apakah maksudnya adalah ‘balian’? Pemilihan kata yang berbeda dapat memberikan makna yang berbeda dalam konteks yang juga berbeda.

 

Saya tertarik dengan ungkapan ‘dukun generasi kesembilan’. Di Bali ada begitu banyak Ketut Liyer- Ketut Liyer yang lain, yang mungkin juga merupakan generasi ke-sekian dari silsilah keluarga mereka, dan mungkin jauh lebih ‘mandraguna’. Ada sisi ke-Bali-an saya, yang sempat memunculkan pikiran: dengan publikasi sebanyak ini, apakah pak Ketut Liyer dalam posisi berbahaya, apakah ada kiriman-kiriman ‘tak terlihat’ yang berniat menguji kedigjayaan pak Ketut Liyer? Well, dalam dunia ‘perdukunan’ segala hal mungkin terjadi. Pikiran adalah energi, yang dapat mewujud menjadi materi. Ada banyak sekali cerita seputar ‘lalu lintas pengiriman energi’ini. Orang Bali manapun familiar dengan hal ini, hanya dengan kadar percaya-tidak percaya yang berbeda-beda.

 

The Winner Stands Alone memberi banyak insight mengenai kehidupan para aktor/ artis internasional, segala macam intrik yang terjadi dalam sebuah industri super-mahal perfilman. Taburan ‘bintang-bintang internasional’ di Festival Cannes terkesan memang sebatas ‘taburan’ saja, dengan arti keberadaan yang ala kadarnya, pemanis, sama sekali jauh dari kesan penting dan VIP seorang ‘superstar’. Taburan bintang ini siap melakukan banyak hal demi sebuah kesempatan diundang makan siang/ malam, siapa tahu mendapat pulung kebagian peran kecil dari film yang akan dibuat atau dekat dengan segelintir orang penting di industri film. Bagaimanapun juga, toh akan selalu bermunculan bintang film baru. Dengan kata lain, movie stars are replaceable, the (movie) industry stay (= dari kreasi ulang jawaban Prince Edward kepada Queen Victoria yang bertanya mengapa harus menyelamatkan dirinya sampai Prince Edward terluka tembak dalam film Young Victoria: “I’m replaceable, YOU stay.” )

 

Dalam buku itu juga digambarkan kompromi-kompromi yang dilakukan oleh perusahaan film ataupun representatifnya dengan para penulis buku ayang bukunya akan diadopsi menjadi film layar lebar. Ada ‘prosedur’ tertentu yang kerap dilakukan, yang membuat saya kehilangan sebagian minat saya terhadap film-film yang diadopsi dari buku. Penulis skenario film semakin langka dan mungkin perlu waktu dan biaya yang lebih besar ketimbang mengadopsi cerita dari buku ke layar lebar.

 

Membaca buku Paulo Coelho untuk saya pribadi memang selalu berhasil membuka wawasan dan melihat hal-hal yang saya pikir saya ketahui, melalui jendela yang berbeda. Begitu menutup halaman terakhir buku The Winner Stands Alone, lagi-lagi saya berhitung: seandainya buku untuk membeli EPL itu saya beli untuk buku yang lain…. misalnya bukunya Jumpha Lahiri atau Chitra Banarjee Divakaruni, mungkin efeknya kurang lebih sama seperti ketika saya menutup halaman terakhir Paulo Coelho. I was regretting, to buy EPL, sorry to say. Memang impresi setiap orang terhadap sesuatu akan selalu berbeda-beda, dan EPL mungkin memang bukan untuk saya. Anyway..

 

Di mata industri film, mungkin EPL menawarkan tema yang sangat layak jual. Putus cinta, perceraian, kehilangan jati diri..those can happen to us all, no? Berhasil keluar dari depresi yang mendera dan menemukan jati diri (yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar ‘hilang’), merupakan alur yang membangkitkan harapan, bahwa semua akan berakhir bahagia. Dan umumnya orang lebih menyukai cerita yang happy ending.

 

Balik lagi ke hiruk pikuk media tentang syuting film ini di Bali, hampir semua media memberikan laporan yang sama, betapa sulitnya menembus penjagaan di lokasi syuting. Hampir semua,let’s say: semua, belum pernah berhasil memotret Julia Roberts maupun lawan mainnya dengan cukup baik, selalu dari kejauhan. Apalagi jika kameranya kualitas pocket, bisa dipastikan, pembaca hanya menebak-nebak dari postur/ gesture profil yang dipotret dan meyakinkan diri bahwa itulah Julia Roberts. Penjagaan di lokasi syuting begitu ketat, bahkan kunjungan sekelas Menteri ke lokasi syuting pun tidak mampu membuat bintang Holywood tersebut muncul ke hadapan publik diluar jadwal syuting yang mungkin sangat padat.

 

Pasar tradisional Ubud yang menjadi salah satu lokasi syuting film EPL pun dipermak sedemikian rupa, ditutup sana sini demi kepentingan setting yang pas. Satu dua pedagang mengeluh karena pada hari tersebut pemasukan kosong – meski mereka sebenarnya sudah mendapatkan kompensasi. Dan tidak semua pedagang mengetahui SIAPA Julia Roberts. Yang mereka tahu, ada syuting film dan bintangnya bernama Julia Roberts. Semua orang sibuk dengan kegiatannya, dan rasanya tidak ada yang tergerak untuk meminta tandatangan atau foto bersama..

 

Dengan perhatian yang sedemikian besar tertuju pada Bali, khususnya Ubud dan sekitarnya, masyarakat Bali umumnya tidak terlalu peduli atau mengalami euphoria karena kedatangan bintang film tenar. ‘Fenomena’ ini sempat diulas oleh salah satu majalah wanita, betapa kehidupan berjalan seperti biasa di Bali, ditengah hiruk pikuk ekspose media terhadap syuting ini. Kendaraan-kendaraan trailer super besar yang merayap di sepanjang jalan-jalan Ubud yang memang sempit, pasar Ubud yang tiba-tiba jadi tertutup, pantai Padang-padang dijaga ketat, seharusnya bisa menarik perhatian orang-orang, tapi sepertinya yang bersemangat ingin melihat atau bahkan bertemu Julia Roberts adalah wisatawan asing yang kebetulan berada di Bali. Bahkan ada yang sengaja datang ke Bali untuk mencoba peruntungan bertemu dengan Julia Roberts atau lawan mainnya,

 

‘Sumber inspirasi’ memiliki banyak bentuk dan makna yang berbeda bagi setiap orang. Inspirasi adalah penambah energi untuk moving forward, bertumbuh sesuai potensi diri dan berada dalam ranah pribadi. Inspirasi bisa didapat dari mana saja, hal-hal sederhana pun bisa menjadi inspirasi terciptanya karya besar di bidang apapun.

 

Sudah banyak film yang dibuat berlatar belakang budaya/ kehidupan di Bali sejak dulu, bahkan ada film hitam putih produksi luar negeri (saya lupa judul dan tahun produksinya). Tapi sepertinya belum pernah ada yang betul-betul dengan tepat menggambarkan ‘Bali’. Entah gaya berpakaiannya yang kurang pas, gaya bahasanya yang dengan lebay dibuat beraksen kental, atau yang parah, cara pandang yang ditampilkan di film jauh dari kenyataannya. Hal-hal inilah yang berpotensi membentuk image tentang Bali yang lagi-lagi berbeda dari aslinya, bentukan dari mereka yang datang ke Bali sejak tahun 20-an yang sebenarnya juga sedang berusaha mengerti tentang pulau kecil ini dengan way of life nya yang unik.

 

Apakah setelah sekian tahun, disaat jurnal-jurnal ilmiah tentang Bali semakin menumpuk, dimana ada 40.500.000 hasil pencarian dengan kata kunci ‘Bali’ di Google, dan penggarapan film Holywood- salah satunya EPL – sudah semakin ‘mahal’,professional dan mumpuni, there’ll be something ‘missing’, STILL? Let’s just wait and see and hoping that it’ll be a box office anyway..it’s Bali, for God’s sake!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.