Archive for December, 2011

December 2, 2011

JENDELA DUNIA

Waktu kecil dulu, bacaan saya paling awal adalah si Kuncung (inget dengan kertasnya yang buram dan bau khasnya) trus Bobo, Ananda..Donald Bebek. Dari cerita 4 kakak saya, mereka waktu kecil dulu dilangganin Bobo oleh ortu. Jadi ketika harinya tiba, mereka berempat sudah stand-by menunggu loper Bobo. Kadang sampe rebutan dan musuhan (berempat jadi dua group). Heran juga, pas saya seusia mereka, kok tidak langganan Bobo lagi, ya? Mungkin karena umur saya terpaut jauh dari mereka, ya?

Anyway, saya selalu menemukan cara supaya punya bahan bacaan. Waktu SD, ada temen dekat yang langganan Bobo, saya sampai kalap melihat koleksi Bobo nya yang satu lemari! Tapi koleksi itu diatur oleh kakaknya, jadi kalopun boleh bawa pulang beberapa, harus benar-benar dijaga-jangan sampe robek-dll sederet persyaratan lain. Mungkin itu yang membuat saya sampe sekarang sangat merawat koleksi buku dirumah..

Kemudian ada buku-buku dongeng hard cover yang gambarnya luar biasa indah penuh warna. Seakan-akan memang sedang bertualang ke negeri dongeng! Buku-buku dongeng bergambar indah ini sudah pasti mahal. Entah bagaimana saya menemukan cara untuk bisa baca buku dongeng itu, yaitu dengan menyewa di perpustakaan mini milik seorang teman yang memang dari keluarga berada. Biasanya saya naik sepeda (waktu itu masih SD), transaksi (lupa sewanya berapa), dan buku-buku indah itu nangkring di keranjang depan sepeda. It was just a paradise for a little girl like me. Waktu itu sih tidak terpikir untuk minta ortu membelikan, entah karena ortu memang tidak mampu membelikan buku-buku dongeng itu, atau memang karena buku-buku itu tidak dijual di Denpasar.

Trus ada komik remaja Nina, dengan ceritanya yang penuh penderitaan dan akhirnya pasti happy ending. Saya sudah baca hampir semua serinya, lagi-lagi menyewa di depan rumah. Rasanya uang saku ketika itu cukup besar, sehingga bisa foya-foya menyewa apapun yang saya mau.

Setelah Nina, ada komik Tintin, semua serinya juga sudah terbaca semua, tapi lupa apakah dari meminjam, menyewa atau beli sendiri. Asterix dan Obelix, Iznogud, Agen Polisi 212, Cedric..memang kebanyakan komik-komik ini dari Belgia, atau Perancis. I love them all. Masa kecil yang penuh buku-buku itulah yang membuat saya selalu cinta buku, terutama aroma buku baru..mmmmm. Bikin mabok.

Ketika kuliah pun selalu berusaha mencari taman bacaan, tapi jarang yang mempunyai koleksi buku baru, sampai akhirnya nemu satu kios penyewaan buku. Tempatnya bersih, keren, deket kost, yang punya cewek pula. Bukunya baru-baru, masih bau toko, majalah-majalah luar juga baru..Huah! Kalap. Agak mahal dan waktu sewanya juga singkat, dendanya gila-gilaan..tapi saya tetap menjadi pelanggan setia. Apalagi di Jogja ada Social Agency yang bukunya selalu diskon, bahu membahu dengan kakak mengumpulkan buku-buku..Kamar kost kami penuh buku. Dari Social Agency juga yang membuat saya terbiasa membungkus buku dengan sampul plastik. Buku bisa jauh lebih awet. Seperti kata Dewi Lestari, melipat halaman buku adalah kejahatan terhadap buku. Jadi mulai juga mengumpulkan beberapa pembatas buku..(aksi dan reaksi banget ya, plus antisipatif).

Sampai sudah waktunya cabut dari Jogjakarta Berhati Nyaman..buku-buku (gabungan milik saya dan kakak) yang dipaketin kerumah sampe 3 dos buesaaar! Apalagi ketika sudah punya uang sendiri..”kecanduan” aroma buku baru ini masih nyangkoolll aja. Bertambah lagi, bertambah lagi..Tapi puncaknya adalah ketika sempat ngikut pelatihan di Sydney beberapa tahun lalu, hobi berburu buku semakin menjadi-jadi… 

Book-hunt       

Sebelum berangkat ke Sydney, ada pre-departure dulu selama 3 bulan di Jakarta. Uang saku per bulan cukup besar, terutama buat mereka yang dari daerah. Pernah sekali waktu saya ‘di-drop’ di Gramedia Matraman. Dari Kuningan ternyata jauh sekali, membuat badan lemas. But once nyampe di Gramedia..langsung merasa bugar kembali! I end up beli buku se-plastik besar, trus ngopi di cafetarianya (sempit sekali) sambil baca buku. I thought to myself, THIS IS LIFE, mau beli buku.. uang ada, dengan kopi dan buku di depan mata, life IS good! But that was only the beginning of my journey with books..

Cerita dipercepat..fast forwarding..I found myself in a beautiful city : Sydney. I adjust myself quite well here. I just love it! I never felt home-sick, never missed anybody back home actually. Selama disana, saya menemukan dua toko yang sangat exciting, koleksi bukunya  banyak. Waktu itu yang terpikir adalah my big brother, setiap kali ke toko buku, I thought a lot about him. He’s my guiding star  through life. Saya sangat menyadari, tidak akan mampu membalas everything he did for me, at least saya tahu dia pasti senang dengan buku-buku baru..

Lagi-lagi karena allowance yang lumayan, dan ternyata harga buku disana lebih terjangkau..lagi-lagi saya mengumpulkan buku. Kind of books that interest me most adalah buku-buku tentang kehidupan, Tarot, Occultism, religions..again, because he likes those kind of books. Toko buku ini letaknya di subway, jadi pulang kuliah biasanya motong jalan di stasiun TV ABC, nyampe deh. Banyak toko-toko lucu disepanjang lorong, kebosanan adalah sesuatu yang mustahil. I can spent hours there. Disitu juga nemu buku otobiografi nya Osho, so I simply believe that it was not a coincidence. I found Him! (or maybe he found me)..

Ada juga Kinokuniya, kalo gak salah tempatnya deket George Street. Yang memperkenalkan Kinokuniya adalah seorang teman pujangga dari Riau, karena ketika ada event sastra di Italia, teman ini sempat ke Kinokuniya disana.

Bahkan sebelum sampe di Kinokuniya saya sudah berdebar-debar..wondering how it would be.. Jadi on one fine day, we decided to go there. My lord..it was soooo big! Serasa satu lantai mal itu cuma ada Kinokuniya.. Buku-buku berbagai warna bertebaran, it smelled so goooood! Lantainya kayu, it’s just a fabulous feeling, being surrounded by great number of books. Cuma sayangnya harganya muahal-muahal, karena mungkin kualitasnya juga berbeda. Akhirnya saya beli buku Deepak Chopra dan buku tentang televisi. It cost me a lot but it’s really worth it. Mungkin ketakjuban saya ini tidak cukup beralasan, mungkin banyak org yang tidak lagi heran dengan toko buku sebesar ini, tp untuk saya pribadi, it’s a WOW.

Saking rajinnya beli buku-buku yang mungkin menurut sebagian besar teman-teman saya topiknya “aneh”, mereka jadi hafal juga dengan buku-buku yang kira-kira menarik menurut ukuran saya. Jadi kalo ada yang kebetulan menemukan buku sejenis itu, biasanya nelpon, apa saya berminat/ tidak, uangnya diganti ketika udah sampai di apartemen kembali. You’re all so nice, guys..thanks a lot.

Masih ada Paddington Market (yang jual buku bisa bahasa Indonesia!), trus The Rock, tempat dimana saya akhirnya menemukan kartu Tarot untuk kakak..I bought 2 set of cards, for my brother and me. Feeling so good, bisa membawakan sesuatu untuknya, meskipun hanya satu set kartu.

Ketika harus say goodbye to ’spectacular Sydney’..buku-buku yang harus saya bawa pulang sampe sekoper.. Untung sebelumnya sudah mendahului mengirim paket ke alamat masing-masing, dan Garuda berbaik hati mengijinkan kami menambah beban bagasi, tapi masih ada juga teman yang over limit bagasinya, jadi harus dibongkar dan di-share dengan teman-teman yang lain..

It was a beautiful experience, yang membuat saya semakin bersemangat berburu buku kalo ada kesempatan traveling kemudian.. 

Seandainya disini ada Social Agency, mungkin Gramedia bukan satu-satunya pilihan berburu buku. Tapi syukurlah ada Toga Mas-alias ToMas biar gampang sebut- yang kurang lebih sama seperti Social Agency : toko buku diskon. Memang tidak se-chick tampilan Gramedia dalam hal display, tapi bagi mereka yang cinta buku, rasanya ini bukan masalah besar. Just scroll up and down the racks, you’ll find a lot of interesting books. Ini juga berlaku di Gangarams Book Bureau, di Bangalore. Display yang teratur dan rapi sama sekali bukan hal utama disini, tentu saja tanpa mengabaikan kualitas/ kelengkapan koleksi buku..

Perjalanan ke India adalah yang pertama kalinya dan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kegiatan selama di India cukup padat, sementara waktu yang tersedia sangat singkat. Begitulah resiko jika bepergian keluar negeri karena pekerjaan, bukannya berlibur..Kali ini baru terasa kebutuhan untuk tinggal lebih lama lagi, karena merasa belum benar-benar ‘menjelajah’ di kota ini, bahkan untuk sekedar menyambangi areal yang katanya bagaikan ‘Silicon Valley’ pun tidak sempat, padahal Bangalore terkenal karena itu.

Akhirnya menjelang hari keberangkatan (pulang) ke Indonesia, baru ada kesempatan untuk menjelajah sedikit. Saya menanyakan dimana toko buku yang bagus, dan kami diarahkan ke toko buku Gangarams itu. Rasanya yang punya tujuan ke toko buku cuma saya dan seorang jurnalis dari Tempo. Mungkin juga karena kami sekamar, rasanya lebih seru kalo ada teman untuk berburu buku juga.

Memasuki toko, rasanya seperti masuk ke toko-toko di tahun 80-an, bangunan yang agak kusam, dengan bau khas debu. Tentu saja jauh dari toko buku Kinokuniya yang super megah. Tapi ketika pandangan saya tertumbuk di sebuah brosur yang tertempel di dindingnya, baru ada perasaan agak merinding-merinding..Brosur itu tentang jadwal Dynamic Meditation-nya Osho! My lord, I felt strongly connected again with Osho.. Begitu sampe didalam toko..My goodness. This is paradise! Memang sih ini toko buku, jadi kearah manapun mata memandang, tentu saja yang terlihat cuma buku dan orang-orang. Tapi disini buku seperti diletakkan begitu saja tanpa ada kode-kode tertentu seperti umumnya toko buku ‘normal’ yang pernah saya kunjungi. Dilantaipun ada tumpukan buku-buku yang mungkin tidak kebagian rak..they just left it there. Tapi memang buku-buku itu masih baru semua, dalam kondisi sangat baik, basically karena kekurangan tempat aja.

Buku Osho pertama yang saya temukan adalah The Book of Woman, nyaris terlompat kegirangan kalau saja tidak segera mengingatkan diri sendiri. Scanning..mencari-cari buku Osho yang lain, ternyata gak ada. Akhirnya memutuskan untuk nanya langsung ke penjaga tokonya. And then I was told that Osho’s Books were on the second floor. My goodness, second floor? Berarti masih ada lagi buku sebanyak ini? Ternyata memang benar, di lantai dua ada banyak buku-buku Osho! Seandainya tidak perlu memperhitungkan budget, mungkin sudah terborong semua itu buku. Anyway, akhirnya terbeli 8 buku Osho dan beberapa buku lainnya. Total kalau dirupiahkan, semuanya sekitar 500 ribu-an! Budget belanja buku terbesar yang pernah saya lakukan ketika itu. God it felt good! Tp lagi2, bagi sebagian org, budget 500rb msh sangat minim, but what to do, sekianlah stamina dompet yang ada :D

Teman seperjalanan ketika itu mungkin bertanya-tanya dalam hati, siapa sih orang bernama Osho ini,yang membuat saya kalap begini.. Kalo dijawab saat itu juga, rasanya akan jadi jawaban yang panjang..Jadi untuk gampangnya, just google ‘osho’, and you’ll find millions of results. The rest, it’s really up to people how they’re gonna pictured him, a spiritual mystic or just another phony spiritualist. For me, he has a tremendous influence on how to be human being.

Waktu untuk berada di surga buku itu sama sekali tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu, rasa lapar..but I promised myself, “I will be back!”

Sekarang ini mungkin orang lebih memilih untuk ber-e-book ria. Karena ketika dunia sedang sibuk dengan topik ‘global warming’..semua tiba-tiba terkesan latah untuk Go Green. Buku yang terdiri dari kertas, menghabiskan banyak pohon (entah berapa angka pastinya, yang jelas membuat para environmentalist sejati menjerit ngeri) dan karena itu e-book dianggap lebih ramah lingkungan. I have my own FREE e-books (download it at some kindhearted website), but I guess e-books don’t have that nice smell like a brand new book, so I still prefer a real book in my hands..

Semua perjalanan ini, memperkaya batin dan make me even more motivated to experience all the nice feelings I’ve had in those’book hunting’ moments. Semua buku memiliki judul masing-masing, demikian juga mereka memiliki ‘cerita’ mereka sendiri, hingga sampai ke tanganku. Those are my personal experience and I appreciate it all by taking a good care each of them because they’ve made me become more human..

Tags: , , ,
December 2, 2011

Mount Sumeru and the Great King

Osho : Mount Sumeru is accepted by Buddhist mythology, Hindu mythology, Jaina mythology – all the three religions born in this country have accepted the story of Mount Sumeru. It will be good for you to understand what is the purpose of Mount Sumeru. The purpose is that only chakravartins – and a chakravartin is an emperor who has conquered the whole world – are allowed to sign their names on Mount Sumeru when they enter into paradise.

One great emperor died with a great desire, because there is nothing greater than signing your signature on Mount Sumeru. It was the tradition of those times that the wife of a man who died would commit sati, and the kings used to have many wives, not just one. All the wives had to commit sati – sometimes a hundred women, sometimes five hundred women. Krishna had sixteen thousand women! So it was a massacre; whenever an emperor died, hundreds of living women ….

When this emperor reached the gates of heaven with his hundreds of wives who had died with him on the funeral pyre, the gatekeeper said to him, ”You take these instruments and sign on Sumeru, but don’t take anybody else with you.”

The emperor said, ”These are all my wives, and what is the point of signing on Sumeru if there is nobody even as a witness? I want all my wives to be with me to see it.”

The gatekeeper laughed and he said, ”I have been here … for generations we have been the gatekeepers. Before me, my father and before him, his father … as long as existence, our family has been on this gate. And everyone on this gate has given the same advice that I’m giving to you. You will be thankful for it. If you insist, I will allow – but then don’t be offended.”

The emperor could not understand, but perhaps the gatekeeper knows more about things … He went alone and was simply amazed at the gatekeeper’s compassion. Because he could not find a small place anywhere on Mount Sumeru to make his signature. All over there were signatures and signatures and signatures.

The meaning is clear: ”You are not the only one. Millions of emperors have passed before you.” He said to the gatekeeper, who was with him, ”This is very humiliating. I used to think I would be the only emperor who is going to sign. And this whole mountain, miles and miles … there is no space for a signature!”

The gatekeeper said, ”Do one thing – another advice that we have been giving since my ancestors. Here is the instrument. Remove somebody’s name and put your name. And this is not new; this has been happening for centuries as far as I know, my father knew, my father’s father knew. You have to remove somebody’s name and create space for your signature.”

The emperor said, ”But that takes all the joy out of it. Somebody will come and remove my name.”

The gatekeeper said, ”That, of course, is going to happen. It is up to you.”

This is the failure of success. Ultimate success brings ultimate failure. And this story may be not a fact; the Sumeru Mountain range does not exist anywhere, but all these three religions have accepted it for the simple reason to show you: Don’t run after the ego. Your ego can take you at the most to the Sumeru Mountains; and then you will see you have wasted your whole life, just to remove somebody’s name. What is the joy of being the greatest celebrity in the world?

Source: “Zen: The Solitary Bird, Cuckoo of the Forest” – Osho

December 2, 2011

A NOTE – A REMINDER

Mengikuti saran seorang teman kuliah untuk mulai ‘mencatat’ kejadian penting yang sempat kita alami, seperti bencana alam yang sedang mendera tanah air ini..saya mencoba mengingat kembali pengalaman pribadi yang rasanya sulit dilupakan.

Pada bulan Mei 2006, saya mendapat tugas dari kantor untuk berangkat ke Bangalore India, untuk menghadiri undangan sebuah brand sepeda motor yang akan melebarkan sayap ke Indonesia. Bersamaan dengan itu, saya juga memenuhi undangan sebagai narasumber dalam acara ‘kuliah bersama praktisi’ –mewakili dirut- di almamater tercinta, jurusan komunikasi, Fisipol UGM. Dua peristiwa penting untuk saya pribadi: mengunjungi negara yang berada dalam daftar visualisasi kreatif saya, dan kebanggan pribadi untuk saya kembali ke kampus tidak dalam posisi sebagai mahasiswa lagi, tapi boleh menyandang embel-embel ‘praktisi’. Tidak terbersit akan ada pengalaman ketiga: menghadapi dampak dari sebuah bencana alam bahkan ketika saya tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi saat itu.

Jadilah tersusun jadwal, berangkat ke Bangalore via Jakarta- 5 hari kemudian kembali ke Jakarta- keesokan harinya pesawat pertama ke Jogakarta- titip barang-barang di Jogja TV (krn saat itu saya tidak punya kontak temen2 kuliah-tidak seperti sekarang, berkat FB)- menikmati sharing dengan mahasiswa dan nostalgia di kampus- pesawat terakhir ke Bali.

Bisa dibayangkan, barang-barang yang harus saya bawa ketika berangkat ke Jogja cukup banyak, mengingat dari Jogja langsung pulang ke Bali. Sebut saja 1 koper tanggung, 1 travel bag, tas tangan yang besar untuk memuat semua pernak-pernik saya, kamera foto, handycam. Bagai kuli barang, semuanya bisa bergelantungan di bahu.

Di bandara Soekarno-Hatta, semuanya terkesan normal. Kalau tidak salah (inilah perlunya catatan untuk membantu memori!), menunggu cukup lama untuk boarding. Sudah duduk manis di pesawat, siap-siap membuka buku, ada pemberitahuan bahwa karena sesuatu dan lain hal, sepertinya tidak bisa mendarat di bandara Adi Sucipto. Turunlah kami semua dari pesawat- kembali ke ruang tunggu dengan wajah bertanya-tanya. Tidak ada yang memberikan keterangan jelas apa yang terjadi di Jogja.

Seorang ibu di sebelah saya sibuk dengan HP nya, dengan muka cemas mencoba berulang-ulang menghubungi kerabatnya. Si ibu ini menerima kabar kalau Jogja dikhawatirkan terjadi tsunami. Tersebut juga kata gempa, dan landasan pacu di Adi Sucipto retak, dll tapi semuanya simpang siur. Terakhir melakukan kontak dengan sopir JogjaTV yang akan menjemput saya di bandara, dia sudah siap berangkat menjemput, jadi saya merasa sudah cukup aman.

Pada akhirnya, ada pemberitahuan bahwa pesawat akan mendarat di Solo dan perjalanan ke Jogja diteruskan melalui jalan darat yang akan dibantu oleh pihak maskapai. Saat itulah saya mulai benar-benar khawatir. Saya kabari keluarga di Jakarta, mencoba kontak dengan sopir yang akan menjemput (tp sdh tidak bisa dihubungi). Sepanjang penerbangan, pikiran kalut karena benar-benar tidak ada informasi apa yang sedang terjadi dan bagaimana ‘nasib’ saya setelah sampai di Solo.

Bandara Solo yang sama sekali asing buat saya, semakin menambah kekhawatiran. Tapi dengan tekad kuat berusaha untuk tetap tenang dan melakukan afirmasi bahwa apapun yang terjadi, saya akan baik-baik saja.

Kepanikan diantara penumpang sangat terasa pada saat mengambil bagasi. Ruangannya sangat sempit, seluruh penumpang berdesakan, situasinya kurang lebih sama seperti antre zakat. Saya menguatkan diri untuk tidak sempoyongan dengan berbagai beban di bahu. Setelah bagasi saya dapatkan, langkah selanjutnya merupakan keputusan penting. Dengan kondisi HP lowbat, saya mencoba menghubungi sopir, sangat sulit dihubungi, namun akhirnya saya mendapatkan info putus-putus, dia tidak mungkin menjemput saya ke Solo, karena kondisi Jogja yang sepertinya cukup parah. Menghubungi keluarga di Jakarta (yang sudah khawatir karena mereka sudah tahu dari TV) untuk menjemput saya (lagi) di Soekarno Hatta. Saya memutuskan untuk pulang kembali ke Jakarta. Pihak panitia di UGM tidak bisa saya hubungi, tapai saya tahu, acara tersebut sudah pasti batal.

Rupanya keberuntungan masih bersama saya. Dengan maskapai yang sama, saya mendapatkan tiket untuk balik ke Jakarta saat itu juga, TUNAI. Tidak bisa menggunakan kartu kredit. Syukurlah, di dompet ternyata cukup. Tidak sampai 10 menit, saya mendapati diri saya kembali berada di ruang tunggu. Di sebelah saya duduk satu keluarga, si istri menggunakan kursi roda karena kakinya di-gips. Rupanya keluarga ini tadinya berlibur ke Jogja dan ketika gempa terjadi, si istri panic, lompat dari jendela kamar di lantai sekian dan kaki patah. Mereka memutuskan untuk segera pulang ke Jakarta.

Sisanya terjadi dengan cepat. Duduk di pesawat yang sama, berulang-ulang membaca tulisan di tray makanan didepan saya, mengatur nafas, menahan tangis dengan semua huru hara sepanjang pagi itu. Baru ketika berada di mobil, ketika semua beban (barang dan pikiran) itu terlepas dari pundak dan kepala, saya ingat menangis sangat keras di mobil. Untungnya sang penjemput- sangat memahami kekalutan sekaligus kelegaan saya hari itu.

Hanya ketika sampai di rumah keluarga di Jakarta lah, saya baru mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi di Jogjakarta. Betapa parahnya Jogja akibat gempa. Yang membuat saya masih merinding adalah bahwa saya bisa saja menjadi salah satu korban akibat bangunan di bandara roboh. Jika saja saya tiba di Jogja lebih pagi, saya mungkin berada disana. Jika saya tiba di Jogja malam sebelumnya, saya tidak tahu apa yang mungkin terjadi, karena saya pasti akan mengalami sendiri gempa tersebut.

Saya pulang ke Bali hari itu juga, dengan pesawat terakhir dan baru di sore hari bisa menerima telpon dari panitia di kampus, karena situasi yang masih kacau. Tempat saya rencananya hadir (kalau tidak salah ruang seminar di Fisipol), atapnya jebol. Salahsatu narasumber yang sudah tiba di Jogja malam sebelumnya, sudah kembali ke kota asalnya, syukurlah dalam keadaan baik-baik saja.

Apa yang saya alami mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan masyarakat Jogja yang langsung mengalami dan menerima dampak dari bencana alam tersebut. Namun bagi saya pribadi, ketidakpahaman akan situasi ketika bencana terjadi- meski berada jauh dari lokasi, bisa membuat orang mengambil langkah yang kurang tepat. Saya sangat bersyukur, berbekal intuisi memutuskan kembali ke Jakarta, meski ada sebagian dari diri saya ingin berada diantara banyak orang yang memilih jalan darat ke Jogja.

Akhir tahun itu juga, saya menjejakkan kaki di Jogja, untuk pelatihan dokumenter. Dan ketika ada kesempatan shooting di daerah Kasongan dan sekitarnya, kembali saya diingatkan peristiwa gempa itu, karena teryata masih ada penduduk yang bernaung di tenda. Bahkan profil yang saya ambil, seorang perajin, sebagian tembok rumahnya masih roboh.

Semoga Jogjakarta Berhati Nyaman segera pulih.. dan kembali menjadi kota yang BERWARNA, tidak abu-abu seperti sekarang. Alam punya intelegensianya sendiri, hukum yang tidak pernah bisa diprediksi dengan tepat oleh manusia. Namun sangat penting bagi kita sebagai bagian dari alam, untuk ‘tanggap bencana’. Perlu lebih dari sekedar mencukupi kebutuhan untuk para pengungsi (yang memang sangat dibutuhkan saat ini), tidak sekedar menghibur anak-anak tapi juga memberi mereka pengetahuan berharga mengenai cara menghadapi bencana, karena di masa mendatang, siapa yang bisa memprediksi kehendak alam?

Teriring doa untuk Jogjakarta …

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.