Sebelum ke Sydney, ada pre-departure dulu selama 3 bulan di Jakarta. Uang saku per bulan cukup besar, terutama buat mereka yang dari daerah. Pernah sekali waktu, my beloved yang tugasnya anter jemput (waktu itu belum status pacaran, masih ‘hanya’ kerabat) ada kuliah di kampus Depok, jadi aku statusnya dititip di Gramedia Matraman. Dari Kuningan ternyata jauh buanget, bener-bener bikin lemes. But once nyampe di Gramedia..huaaaa..ilang semua lemesnya. I end up beli buku se-plastik besar, trus ngopi di cafetraianya (sempit bener) sambil baca buku. I thought to myself, this is life, mau beli buku.. uang ada, dengan kopi dan buku di depan mata, life IS good!But that was only the beginning of my journey with books..
BookWorm
Waktu kecil dulu, bacaanku paling awal adalah si Kuncung (inget dengan kertasnya yang buram dan bau khasnya) trus Bobo, Ananda..Donald Bebek. Dari cerita kakak-kakakku, mereka waktu kecil dulu dilangganin Bobo ama ortu. Jadi ketika harinya tiba, mereka berempat sudah stand-by nungguin orang yang bawain Bobo. Kadang sampe rebutan dan musuhan (berempat jadi dua group). Heran juga, pas aku seusia mereka, kok tidak langganan Bobo lagi, ya? Mungkin karena umurku terpaut jauh dari kakak-kakakku ya?
Mayday! Bloody Flood!
Rumah kebanjiran sebenarnya bukan hal baru buat keluargaku. Banjir sampai terjadi bukan karena tinggal di perkampungan kumuh, bukan karena dilingkungan kami banyak sampah. Tapi hanya karena posisi rumah yang lebih rendah ketimbang jalan. Maklum, rumah kami dibangun tahun 70-an, sebelum aku lahir, dan merupakan rumah pertama ditengah-tengah sawah, sampai berangsur-angsur menjadi pemukiman padat seperti sekarang. Tata ruang yang tambal sulam, terutama masalah drainase, membuat lingkungan rumah selalu menerima kado banjir dari areal yang lebih tinggi di utara. Tetangga kanan kiri juga mengalami masalah sama, tapi tidak separah rumah kami.