Traffic Madness (2)

I thought Jakarta have the worst traffic, at least di seantero Indonesia. Selalu ada kelegaan tersendiri ketika meninggalkan kota ini dan kembali ke kota kelahiran yang lalu lintasnya lebih ‘masuk akal’.

But not until one short visit to Bangalore, India. It really changed my opinion about Jakarta’s traffic. How’s that happen? Begini ceritanya..

Mendarat di bandara di Bangalore, kesan pertama memang jauh dari kesan bandara internasional, sempit, kusam dan secara fisik nyaris mirip dengan terminal bus biasa. Waktu itu sekitar tengah malam, dan seakan untuk memperkuat hal itu, ada seseorang yang sedang tidur diatas.. carousel! Kami para penumpang yang sedang menunggu bagasi memang antri di carousel di sebelah, but that sleeping man didn’t seem to be disturbed at all. Meskipun agak shock karena suasana yang sangat hiruk pikuk, ada harapan mungkin diluar bandara suasana akan jauh lebih hening karena it’s midnight, for God’s sake!

But nooooo way. Way no way..

Semua duduk anteng di mobil (yang lumayan bagus, sejenis Avanza mungkin) sambil berharap bisa merehatkan badan yang nyaris sudah sekaku kursi pesawat. Ternyata ada kejutan lain, pak sopir nya ngebut sekali dan mengklakson tiada henti..(is it true? In 1 o’clock in the morning?) Badan pun kembali sekaku kursi pesawat.. Ternyata semua orang perilakunya sama..mengklakson tiada henti dan super ngebut. I was too afraid to imagine how’s the traffic will be in daylight..

Daylight and things got worse. Since I can looked around and see clearly now, I realize this is the most crowded city I’ve ever been to. Kecepatan tinggi dan klakson adalah satu paket sempurna. Plus gontok-gontokan sesama sopir (meski hanya ngomel dari mobil masing-masing lengkap dengan gaya khas kepala yang bergeleng-geleng). Tidak ada cerita spion nangkring pada tempatnya – you know, left side right side. Semua kaca spion-terutama mobil dicopot karena pasti akan disenggol kendaraan lain. Jadi satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaan kendaraan lain : klakson, atau tulisan “horn please” dibelakang mobil. Dengan semua hiruk pikuk itu, mereka yang berasal dari Jakarta akhirnya bisa mensyukuri lalu lintas Jakarta yang belum semeriah ini..

Hari pertama, masih takjub dengan suasana meriah lalulintas Bangalore (atau sekarang Bengaluru?) plus serangkaian kejutan dan omelan. Hari kedua masih agak takjub dan mulai bisa menertawakan diri sendiri dan lingkungan. Hari ketiga -didalam mobil- only silence remains..karena semua orang kecuali sopir : tidur! Ada benarnya, manusia itu makhluk yang sangat adaptif..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: