Traffic Madness

“Nothing can stop the rain from falling”..Tapi mungkin akan lain ceritanya kalo di Bali atau di Jawa yang familiar dengan keberadaan pawang hujan. So, it’s negotiatable, lah.. Masalah sukses nggaknya seorang pawang hujan, ya tergantung kekuatan pikiran si pawang dan orang-orang yang ‘dipawangi’. Karena meskipun sebagian besar masih menggunakan sekian banyak sesaji dan serangkaian ritual, ada juga yang hanya menggunakan ‘bantuan’ dupa, tentu saja dengan keyakinan penuh bahwa kekuatan pikiran akan melakukan semuanya.
Hubungannya hujan dengan traffic madness? It increase the madness!

Hujan gerimis maupun lebat, akibatnya bagi pengguna jalan sama saja, naik motor maupun mobil : kepanikan melanda, everybody suddenly in a rush, mencoba mendahului yang lain. Dan gampang ditebak apa yang terjadi selanjutnya : macet! Kalo pengguna motor mengalami kepanikan mendadak, mungkin cukup bisa dimaklumi. Tapi yang naik mobil kok panik juga, ya? Kan gak akan basah kuyup? Meaning.. meski sudah bermobil, mungkin perasaannya masih bawa motor sehingga tetep panik? Atau bisa jadi karena semua orang pada saat hujan, secara otomatis switch channel ke otak purba mereka- berlindung di gua-gua ketika hari hujan.. Apapun motivasi dibelakangnya, again : traffic madness.
I’ve read it somewhere bahwa keadaan lalu lintas suatu tempat bisa jadi merupakan refleksi kondisi mental masyarakatnya. True or not, let’s say it’s just another opinion from one of us who try to understand the world around us.

Yang pernah ke Jogja pasti setuju bahwa lalu lintas di Jogja sangat ‘rupa-rupa’. Ada mobil keluaran terbaru sampe yang sudah harus dipensiunkan, sepeda, becak….sepeda motor apalagi. Beberapa ruas jalan tertentu sudah bisa dipastikan macet setiap hari (dengan traffic light –dan polisi lalu lintas- yang berfungsi seperti biasa). Dari sekian hal ‘ajaib’ yang mungkin terjadi di lalu lintas dimana saja, di Jogja ada kesepakatan umum bahwa setiap belok kiri adalah, atau harusnya “jalan terus”. Jadi meski tidak ada tanda yang bilang ‘belok kiri jalan terus’, orang-orang akan mengklakson dengan penuh semangat jika kita coba-coba berhenti di jalur kiri saat lampu merah di jalan-jalan tertentu. Another traffic madness.

Pernah ada kejadian cukup lucu waktu masa-masa reformasi di tahun 1998. Nah, traffic light di sebagian besar kota Jogja saat itu jadi sasaran, dilempar batu, dirusak, sehingga selama sekian hari Jogja ‘bebas’ traffic light. Funny things happen (just like shit mostly like to happen once in a while in life) : lalu lintas kota Jogja tiba-tiba lancar! Mungkin karena justru tidak ada traffic light (baca : aturan), semua orang jadi lebih mampu mengurus dirinya sendiri, lebih waspada berlalulintas karena kemalangan/ kecelakaan- kemudian- porsinya jadi ‘sama dan sebangun’ untuk setiap orang.

Ketika traffic light berfungsi kembali di seluruh kota Jogja, bisa ditebak apa yang terjadi : macet dimana-mana! Who’s to blame? It’s really hard to tell.. Mungkin hanya karena aturan berlalulintas belum cukup lama kita adopsi, seperti halnya kedangkalan berpikir umum terjadi ketika orang-orang belum cukup lama melalui budaya membaca sebelum memasuki budaya televisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: