Fertility Test

Menikah, bagi sebagian besar orang bisa jadi merupakan impian, atau cita-cita semasa anak-anak. Khususnya bagi anak perempuan, pesta pernikahan merupakan dongeng abadi antara putra mahkota dan putri raja yang berakhir “bahagia selamanya” begitu pesta pernikahan usai digelar selama 7 hari berturut-turut dan dihadiri rakyat diseluruh penjuru negeri.

Setiap orang yang memutuskan untuk menikah, memiliki alasannya masing-masing. Umumnya yang paling sering adalah : “karena cinta”, “sudah cukup umur”, “mau nunggu apalagi?”, “permintaan orangtua kedua belah pihak”, dan yang sedang menjadi trend belakangan ini adalah “sudah sekian bulan”, or simply married by ‘accident’.
Is it really an accidental moment, being pregnant? I thought if we really want to ‘create’ a new life, a new human being, I thought it must be done in a sacred way or something like that. I mean if you want to have a good sex life, then do what you must do to be there, but if you get pregnant and then call it as an accident, don’t you think it’s an irresponsible deed you have there, right? How can you say that creating a new life as an accidental moment, unplanned, happen just like that? What kind of human being you bring into this life, if you yourself call his or her existence is come out of an accident?
Selama seminggu ini, ada begitu banyak undangan yang harus dihadiri. Dan sebagian besar pengantin perempuan sudah dalam keadaan hamil, yang membedakan hanya besar kecilnya, tergantung usia kandungan ketika itu. Menurut kepercayaan lokal, begitu upacara pernikahan dilakukan, kehamilan pengantin perempuan akan semakin terlihat karena si janin sudah tidak ‘malu’ lagi. Dengan busana tradisional, sudah tidak mungkin untuk menyembunyikan perut yang membuncit, dan tidak juga bisa dihindari jika pandangan para tamu (sadar maupun tidak) akan mengarah ke perut si pengantin perempuan (dengan pikiran mereka masing-masing).
Everybody have their own way on how to live their own life. I’m not against anything. Things like virginity, living together without marriage, for me it doesn’t have to do with mentality or ‘moral’ , because if it makes you happy, or function well as a human being, then fine, do it. But because I’m a human being in a woman body, I can’t help to wonder why this happen.. Is it really accidental? Or is it because the man wants to make sure that the woman he’s married to, is able to get pregnant, so there’s a sense of ‘secure’ and assurance that a child is complementing this marriage. If it is so, then how can the woman let him have such a point of view, it’s just like doubting the woman fertility to be able to get pregnant. Tapi karena si perempuan deeply involved or deeply fell in love, si perempuan menyetujui pikiran pasangannya, untuk berhitung dari awal : ada pernikahan karena akan ada anak yang segera lahir. Atau mungkin karena kesepakatan kedua belah pihak dengan pikiran tidak mau mengambil resiko menghadapi tekanan eksternal jika bertahun-tahun setelah pesta pernikahan, kehadiran seorang anak tak kunjung tiba..
Pikiran bahwa perempuan berada di pihak yang kurang menguntungkan dalam hal-hal seperti ini, benar-benar mengganggu. Beberapa tahun lalu, ada seorang teman yang dengan serius menjelaskan betapa pentingnya ‘tes kesuburan’ dulu sebelum menikah dengan pasangannya, jangan sampai ‘rugi’, sudah menikah ternyata tidak berhasil memiliki anak! Tanpa berpikir lagi, spontan saya jawab dengan keras, “memangnya perempuan mesin pembuat anak?!” I’m sorry to say, but couldn’t help it.
Jika ada perkawinan tanpa keturunan, semua mata- masyarakat- tertuju pada pasangan tersebut, dan tanpa henti menanyakan KAPAN dan KENAPA BELUM. Anggapan klasik, semua permasalahan terletak pada perempuan. Pihak laki-laki, terlebih yang masih memandang dirinya pusat dunia, dan menganggap kesuksesan hanya diukur dari pencapaian-pencapaian sesuai keinginan masyarakat pada umumnya : menikah, punya anak. Seakan kadar kemanusiaan dan kedewasaan seseorang bisa diukur dari status perkawinan dan punya anak biologis atau tidak.
Just think for a moment, Oprah Winfrey misalnya. Menikah ataupun melahirkan anak bukan merupakan pilihan yang dia ambil for this moment of life. Dalam setiap talkshow nya, Oprah menyumbangkan banyak hal untuk kemanusiaan, bagaimana menghargai dan bertanggungjawab terhadap kehidupan yang diberikan kepada kita oleh Keberadaan, bagaimana terhubung dengan semesta, it all lead to make the world a better place to live in. When we see her, instantly we knew, that she’s so alive, and the good energy from her is contagious. She helps so many people, give them a chance to hope. Jika kita kembali ke permasalahan klasik di masyarakat bahwa pernikahan dan kelahiran anak-anak adalah ‘keharusan’ karena disanalah letak kesuksesan, bagaimana kita bisa liat Oprah tidak sukses as a human being, hanya karena dia tidak memilih menikah ataupun punya anak (yet she supports thousands of children)? Mungkin akan tetap ada yang ngotot, “ya beda lah..punya anak sendiri jauh lebih berarti..bla bla bla..”. Is it? Or it’s just another fear that we don’t want to end up feeling lonely when we’re old, without any children who’s going to take care of us? Jika itu menjadi salah satu motivasi terkuat kita untuk berprokreasi, then can we call it business?
Unwritten code in our society, besar kemungkinan ikut membentuk pola pikir individu-individu yang kemudian memilih untuk ‘berhitung’ dan ‘mencuri start’ untuk memastikan tidak ada kerugian yang tidak diinginkan, yaitu menikah tanpa menghasilkan keturunan. I framed my opinion based on what I’ve heard from some male friends of mine on this matter. I don’t know what women think about this, but since I’m a woman, I’m pretty sure women willing to do this for one big reason : for the sake of love. Maybe deep inside they knew that somehow they’re being used, but choose to close their eyes shut, because they face the fear to be blamed on when they can’t have any children in the future.
Life has so much more to offer. Sometimes we can’t have it all, sometimes we take decisions for not choosing certain things on the way. All the benefit and consequences that we may encounter for whatever decisions we made in life is our own responsibility. Maturity as a human being is not necessarily gain from old age or marriage. To think that life can be calculated according to our way of measuring things, is completely losing the point about how life works.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: