What a Shame

Ketika akan menuju kantor, saya melewati Jl. Durian. Di depan ada mobil Avanza (atau Xenia?) berwarna biru muda dengan plat DK sekian sekian CM (saya tidak begitu memperhatikan CM/ QM). Mobil tersebut melaju sangat pelan –padahal di depan tidak ada kendaraan lain. Saya tidak bisa mendahului dari sisi kanan sehingga saya ikuti saja sambil mencoba bersabar (bahkan meng-klakson pun tidak).

Saat berada di sisi belakang kanan mobil tersebut, pengemudinya membuka kaca jendela sehingga saya bisa melihat bahwa pengemudinya adalah pria asing berkacamata hitam dan bertopi. Kemudian tiba-tiba saja pria tersebut (dengan sengaja) membuang secarik kertas seukuran karcis parkir melalui jendelanya sambil tertawa lebar dan melihat saya melalui spion nya.

Saya samasekali tidak mengerti apa maksudnya membuang kertas dengan gaya yang disengaja lewat jendela mobilnya. Ingin sekali saya menghentikan mobil tersebut dan menanyakan pada si pria asing tersebut “what’s that suppose to mean?”- itupun seandainya bahasa ibunya adalah bahasa Inggris- karena di Bali saat ini sudah begitu ‘beraneka warna’. Namun karena tidak ingin menyia-nyiakan energi yang tidak perlu, saya berhenti sejenak hanya untuk memastikan plat mobil yang dikendarai pria asing tersebut (entah mobil pribadi/ pinjawan/ sewa).

Kejadian ini membuat saya berpikir, apakah Bali sudah sedemikian permisif-nya, menyambut dengan tangan terbuka siapa saja yang datang ke pulau ini, termasuk mereka yang tidak punya pengrasa untuk respecting the island and its people? Terlebih jika seandainya pria asing tersebut memiliki bisnis di Bali, dimana Bali merupakan tambang emasnya, kok bisa bersikap sangat tidak sopan seperti itu? Pekerjaan saya di media memungkinkan saya bertemu dengan banyak orang, termasuk orang asing yang di Bali maupun di luar negeri. Saya memiliki cukup banyak teman WNA yang sangat mencintai Bali, mereka tidak hanya tertarik dengan budaya Bali tapi juga berbuat sesuatu untuk Bali. Atau mungkin selama ini saya hanya berkomunikasi dengan teman WNA yang ‘berkualitas’ sehingga ketika mengalami ‘pelecehan’ seperti ini sangat mengejutkan buat saya.

Saya sejak dulu meyakini bahwa orang Bali sangat toleran dan positif, mempunyai kepercayaan tinggi terhadap orang lain. Namun kejadian ini merupakan suatu peringatan, paling tidak buat saya pribadi, untuk mewaspadai bahwa tidak semua mereka yang datang ke pulau ini ‘ada gunanya’ buat Bali. Akan selalu ada orang yang tanpa beban/ merasa berhak untuk seenaknya melakukan apapun tujuan mereka di pulau ini without any feelings or respect towards Bali as a whole.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: