Lucky Balinese

Ternyata buat sebagian orang, menjadi orang Bali merupakan sebuah “keberuntungan”. Entah beruntung karena terlahir di “surga tempat tinggal para dewata”, atau beruntung karena tidak perlu bekerja keras dan uang datang dengan sendirinya – sebuah anggapan klasik bagi sebuah daerah tujuan wisata.

Memang sering saya dengar image orang Bali ‘makmur’ – sejak kuliah di UGM Jogjakarta- banyak teman (non Bali, tentu saja) yang menganggap orang Bali pasti kaya-kaya. Sebenarnya dalam hati saya menjawab,”Kalau saya mahasiswa Bali yang kaya, saya pasti tidak kost di tempat yang airnya dijatah hanya pagi dan sore, tiap musim hujan jadi cemas karena binatang-binatang kecil pasti berhamburan disekitar kamar..dan sedikit berhantu menurut beberapa teman yang “peka”..”

Tapi karena tidak mungkin mendebat sesuatu yang kadang menjadi kepercayaan umum, satu-satunya tanggapan yang bisa saya berikan hanya nyengir. Tidak mengiyakan, tidak juga membantah. Ya begitulah, dimana pun saya berada bersama-sama didalam sebuah kelompok, entah waktu di kampus dulu, teman-teman seperjalanan dari berbagai daerah ketika bertugas liputan keluar negeri, dimana saja, selalu ada celutukan itu : “Wah..enak ya di Bali, bisa main-main terus..” atau “Pengen deh kerja di Bali..” atau “Di Bali sih enak, bisa santai.” It keeps going on and on and on. Everywhere I go people keep saying that..

Buat saya, kadang-kadang menyenangkan juga mendengar mereka sibuk berandai-andai jika mereka di Bali, atau bahkan jadi orang Bali! Saya bisa merasakan kebanggaan membuncah di dada yang berakibat hidung jadi membesar dan nafas agak terengah-engah karena kadang it makes me so excited to hear such a nice things they said about Bali and that how lucky Balinese people are for being Balinese. .

Beberapa waktu lalu saya melanjutkan shooting dokumenter dengan Wawan, partner kerja saya. Tujuan kami hari itu adalah mengikuti kegiatan seorang pekaseh (petugas yang mengurus distribusi air di sawah-sawah dalam sistem Subak di Bali). Kebetulan hari itu sedang ada perbaikan senderan saluran air di sawah yang berada dibawah tanggung jawab bapak pekaseh tersebut. Lokasinya cukup jauh dari jalan dan saya sempat merasa seperti si Bolang saat menyusuri pematang sawah dibawah terik matahari. It was a nice moment, though, karena sudah cukup lama saya tidak ‘terhubung’ dengan sawah, padahal rumah saya dulu berada ditengah-tengah sawah sebelum jadi pemukiman padat seperti sekarang.

Beberapa bulan terakhir, kegiatan produksi dokumenter membuat saya begitu terfokus pada Bali, budayanya, orang-orangnya. Dan sudah cukup lama juga saya tidak mendengar celutukan tentang keberuntungan berada di Bali atau sebagai orang Bali. Sampai akhirnya saya tiba di lokasi perbaikan saluran air tersebut. Dari dialog antara bapak pekaseh dengan para pekerja bangunan, saya kemudian tahu bahwa mereka berasal dari Jawa.

Tadinya pembicaraan hanya seputar ukuran saluran air yang dibuat terlalu lebar dan tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan subak. Entah bagaimana, lagi-lagi saya mengalami rendez-vous ketika salah satu dari mereka tiba-tiba nyelutuk : “Enak ya jadi orang Bali..keluar sebentar, jalan-jalan sebentar, sudah dapat uang. Kalo saya sampai sakit pinggang begini uangnya tetap saja gak seberapa..” Temannya menyahut, “Lho, kamu ini gimana tho. Kamu itu udah di Bali lho..”

Yang lainnya menambahkan, “Iya, saya mau kok mbak, jadi menantu orang Bali. Cewek Bali cantik-cantik. Jadi orang Bali juga mau. Sekarang ini hidup saya susah padahal udah kerja berat.” Bapak disebelahnya langsung protes,”Mbak, dia ini istrinya udah dua lho. Kumis udah putih..siapa yang mau ama orang tua?”

Wah wah.. Saya cuma bisa menanggapi, “Ya nggak semua orang Bali hidup enak, mas..” Tapi mereka tetap saja “sepakat” kalau jadi orang Bali itu enak hidupnya, nggak susah. Kalau dipikir-pikir, dialog ini cuma beda setting, biasanya saya mendengar celutukan itu di kampus, di apartemen, di pesawat…baru sekali ini dengernya di sawah.. But it’s all the same story.

Di perjalanan kembali ke kantor, saya kembali merenungkan dialog dengan bapak-bapak itu. Mungkin ada benarnya, hidup di Bali memang serasa liburan terus, ada banyak tempat yang bisa dituju, mau yang gratisan, ada. Mau tempat nongkrong yang ‘wah’ juga ada. Semua kesenangan tersedia, tinggal pilih kesenangan a la modern atau tradisional (meski sayangnya belakangan ini semakin sedikit kesenangan yang bisa dinikmati orang Bali sendiri, karena semua kesenangan yang diciptakan di Bali semakin hari hanya mampu dinikmati para pemilik dompet tebal, turis, atau para expat yang digaji super tinggi oleh perusahaan-perusahaan di Bali).

Bapak-bapak disawah tadi merupakan representasi dari orang-orang non-Bali yang tidak tahu seberapa besar “beban” yang sebenarnya juga ditanggung oleh orang Bali. Predikat sebagai penghuni pulau dewata, membuat orang Bali sadar tidak sadar, adjusting themselves, sometimes a bit too much, menjadi para penghuni sorga yang baik. Ramah, murah senyum, komitmen penuh menjaga tradisi dan budaya..karakter-karakter atau anggapan atau pengidentifikasian MENURUT orang diluar Bali, entah itu wisatawan, para peneliti asing atau orang-orang yang terlanjur melihat Bali sebagai pulau sorgawi lengkap dengan all the godly things..

Yang mereka tidak tau, ‘biaya operasional’ keluarga Bali sangat tinggi. Tidak hanya basic needs yang harus dipenuhi. Ada sederet biaya-biaya sosial lain yang harus tersedia. Biaya kehidupan social ini meliputi biaya banten/ sesaji setiap hari, hari-hari tertentu dan hari raya (yang jumlahnya banyak). Belum lagi jika banjar atau desa mengadakan kegiatan atau upacara tertentu, ada dana yang harus disiapkan. Belum upacara terkait rites of life (kelahiran, upacara akil baliq, potong gigi, pernikahan dan akhirnya kematian- ngaben).

Besar kecilnya upacara yang dilakukan depends on many many things, terutama ekonomi. Semakin kaya orang Bali, upacara-upacara yang dilaksanakan pun cenderung menjadi semakin meriah, rumit, melibatkan semakin banyak orang. Sebagian melakukan upacara super besar ini didorong oleh keinginan bersyukur, tapi harus diakui juga, they mostly do it because the ego is taking control.

Ketika hidup terasa semakin sulit, people tends to turn their heads (and maybe hearts) to heavenly things : a concept of God, religion, stories of heaven and hell, scriptures, or maybe just keep trying the best to feel fit in a crowd- and then get lost in that same crowd. The question is, are we in the right crowd or in the wrong one? Pernah saya dengar dari seorang teman, adat di daerahnya rumit, banyak kegiatan yang jika tidak dihadiri akan dikenai sanksi adat, padahal kantor tempatnya bekerja sangat ketat terkait disiplin jam kerja. Sementara itu beberapa teman lain mengatakan adat didaerahnya sangat fleksibel, karena kepala adat setempat memahami banyak warganya yang bekerja kantoran, merantau keluar daerah sehingga tentu saja penuh keterbatasan.

Apa yang disebut sebagai “budaya” Bali adalah sebuah Way of Life. Do things according your own free will with responsibility, karena semua orang Bali -terutama orang Bali dulu yang belum terlalu “Hindu”- percaya dengan karma. You harvest what you seed. Semua hal di Bali sangat fleksible, itu sebabnya ada istilah desa mawa cara, setiap tempat memiliki aturannya masing-masing. It is adjustable. Nobody blames you, nobody saying that you’ll go straight to hell if you don’t do things good enough (because you can’t afford to do so or simply don’t want to do so- whatever that is). But when we become one of the crowd, a member of society, then what is “good enough” is not that simple. Kadang rasa identitas ke-bali-an seseorang diukur dari seberapa sering seseorang shows up di setiap kegiatan social/ adat. Lagi-lagi ini tergantung lokasi kita berada, tergantung pemimpin adat macam apa yang “menaungi” kita. Apakah si pemimpin termasuk orang yang memahami bagaimana dinamika orang Bali sekarang DAN cukup memahami budaya Bali yang sebenarnya fleksibel itu? ATAU,apakah si pemimpin termasuk tipe yang “kalap” dengan slogan Ajeg Bali tanpa benar-benar memahami bahwa budaya adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia, sehingga jika si manusia mengalami proses dalam hidupnya, mengalami perubahan, maka dengan sendirinya budaya itu pun berproses?

Kembali ke topic what a lucky bastard Balinese is for being a Balinese, mungkin bapak-bapak yang saya temui di sawah itu atau siapapun mereka yang beranggapan sama, need to see things through the other window. They’ll see that para penghuni sorga ini pun disibukkan oleh berbagai masalah terkait bagaimana menjadi seorang penghuni ‘paradise island’ yang baik. Energy and money, does matters to keep this ‘festive cultures’ alive. And for sure, there’s no purely holiday for Balinese everyday lives, but perhaps it’s full of holy-day according to Balinese calendar, and somehow Balinese find their own way to enjoy the fun of it somewhere in between.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: