Spiritual Relationships

Quite sometimes, now. Lots of things happened. Begitu banyak yang menyalakan bibit-bibit pertumbuhan spiritual dalam diri..I’ve seen things and people changes now. I’ve seen myself changing and growing, too.

Tadi liat Oprah, topiknya tentang “hubungan spiritual”. Bahwa yang terpenting adalah “intentions”, NIAT kita terhadap sesuatu. Terutama terhadap hubungan-hubungan personal yang kita jalin dengan orang-orang dalam kehidupan kita saat ini, terutama keluarga dan pasangan.

Hubungan spiritual allow ourself to grow and to let the other person growing too. Jadi sebenarnya ini semua adalah cinta yang membebaskan. It’s because we love the other person, then we let him/ her to become whatever he/ she have to be. Sekarang rasanya sangat mudah dimengerti, kalau ada orang yang karakternya mendominasi, ‘untouchable’, orang yang selalu terlihat ‘marah’ terhadap sesuatu..it’s because they have fear, they have wounds inside them that waiting to be healed. Tapi alih-alih mengakuinya, terlebih menghadapinya, seringkali kita mengemas that fears menjadi sebentuk kepribadian yang terlihat kuat, terlihat matang, terlihat stabil..So many people among us- their personalities are based on fears. Maybe I am one of them. But thanks God, I have my own living guardian angels who really are my energy source. Not many people out there have such a luck in their life to have their own living guardian angels. I think I must do something good in the past, so this is one of my good karma J

I have my own fire-starter, my reminder, who is also happen to be my big sister. She really tough on me. I have my own therapist, healer, the master who make me watch carefully my own path and not to lose track of my life, and who is happen to be my big brother. Being the youngest in family is not that easy. So you have all the comfort, all the attention, and so what? Rasanya ‘sangat nyaman’ menjadi si bungsu. It’s cute when you’re young by age. But time goes by and you get older, and all that comfort and ‘priviledge’ is not always cute. Sometimes it can even stop you from growing within..

Orangtua, saudara..kadang mereka lupa bahwa si bungsu pun punya pikiran yang tak kalah cerdasnya dengan mereka, bahwa mereka punya pendapat sendiri dan ingin menyuarakannya, bahwa si bungsu pun punya kehidupannya sendiri yang tak melulu harus “bungsu”..they can have a much much mature life compared to other member of the family, they might have such a great potencies waiting to be implemented. Sayang sekali, pelabelan ‘bungsu’ ini jika tidak hati-hati digunakan, it really can ruin everything, it can stop them from growing because they never had a chance to speak up their minds, to live their own life, etc.

It is this close that I be one of those ‘helpless’ youngest in family. But these two guardian angels never let me down. I can be my self even if I try to hide as much as I could- because sometimes to be ourself is quite spooky. This is my spiritual relationships..

It’s really a myth when most of people believe that there is ‘our better half’, ‘soulmate that complete us’ in a way..Nobody really complete us but ourself. Tapi terlalu sering kita terpapar oleh mitos cinta romantis ini- novel, film, topic ngopi di sore hari, even our own imagination keep believing that there are such things. We keep hoping for that person to come to our life. And if they don’t come- at least yet- we then can’t help ourselves but to try to CHANGE the person in our current relationships. Just for the sake to keep that myth alive.

I WAS one of those people who believe in that myth, unfortunately.

Kepercayaan pada mitos ini membuat keinginan untuk mengubah situasi diluar diri menjadi kuat..belum lagi kecenderungan otak perempuan yang memang selalu mencari ‘persetujuan’ bahwa dia cukup dicintai, bahwa dia diterima.. Banyak yang kemudian terjebak di situasi relationship yang tidak membahagiakan, yang tidak membebaskan, yang tidak bertumbuh bersama karena masih terus berusaha dengan sekuat tenaga merealisasikan mitos cinta romantis ini- blindfoldedly. Too bad.

Sebuah hubungan yang berdasar pada ‘harapan’ adalah hubungan yang rapuh. Ada sebuah renungan dari Albert Einstein, “perempuan berharap laki-laki akan berubah setelah pernikahan. Laki-laki berharap perempuan tidak akan berubah setelah pernikahan. Maka dari itu keduanya kecewa..”

So true. Mengapa masih ada sebersit nada penyesalan setelah kemeriahan pesta pernikahan berlalu, “lebih enak ketika masih lajang..” Sebuah keluhan namun dibarengi dengan nuansa kebanggaan, lebih-lebih jika lawan bicaranya masih lajang. Seakan-akan yang sudah menikah merasa lebih ‘dewasa’ hanya karena lebih awal merasa ‘teraniaya’, merasakan sulitnya hidup gara-gara mengikatkan diri dalam sebuah lembaga pernikahan. Why all this regret?

Balik lagi ke masalah harapan, tidak bisakah kita speak up our mind, our concern kepada pasangan, alih-alih berharap semuanya akan sesuai dengan keinginan kita, cepat atau lambat? Apalagi menyimpan harapan bahwa sebuah upacara pernikahan akan menyulap pasangan kita menjadi orang yang sama persis dengan pasangan ideal dalam imajinasi kita..Bahwa sebuah upacara pernikahan otomatis membuat pasangan kita AKHIRNYA memahami kita, apa yang kita mau, dst? Sebagian besar orang akan lebih memilih ‘jalur aman’, menahan-nahan kebutuhan untuk melakukan ‘evaluasi berkala’ terhadap hubungan yang sedang terjalin, tidak mau mengambil resiko harus kehilangan sebuah hubungan, sehingga pada akhirnya hanya bergantung pada sebuah harapan. Harapan bahwa mungkin dengan adanya pernikahan, ‘klik’ itu akan hadir dengan sendirinya..

Sebenarnya hanya kita sendiri yang tahu sebaik apa keterhubungan kita dengan pasangan. Hanya saja, pengetahuan itu kadang menjadi bias karena terlalu banyak perasaan romantis yang terlibat, ego, rasa takut kehilangan..yang pada akhirnya menumpulkan kemampuan kita untuk ‘let-go’. Yang terjadi, orang kemuadian berusaha mempertahankan sebuah hubungan yang sebenarnya tidak lagi sehat, tidak lagi menumbuhkan dan mendewasakan. Sebuah hubungan yang hanya bermodalkan ‘kenangan’. Tidak ada visi yang jelas. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri, tidak ada persenggamaan intelejensia dan kesadaran, yang tersisa hanya persenggamaan fisik yang mungkin hanya berlangsung selama 11 menit (menurut Paulo Coelho).

But that’s how life is for so many people. You have to be one of the crowd to be seen as a ‘normal’ human being. If you try to be different, then people try to ask you loads of questions, or if they do not dare to ask in front of your face, then they might just satisfied to make a final conclusion, that you’re in the wrong path, and most people will able to congratulate themselves because they thought they’re a better person because they’re in a crowd. Osho said, to be in a crowd is quite the same to be in a herd, that you’re a bunch of sheep, no one is unique. It’s a crowd, what can you say..

I don’t believe in myth like there’s somebody out there who is our better half. No way, I am complete as I am. I believe that the right vibration from my side will attract people with the same vibration, that’s how we find our team-work in life, if we have to have one for this moment of life. I believe that life is always alright, it’s our human consciousness which often distracted. I believe that I don’t have to ‘sacrifice’ too much in a relationships, because I am not a martyr. I believe in self-love, we cannot love others properly if we can’t love ourselves in the first place.

We don’t need any guidance from holy book or priests to know our own will, our own need and how to fulfill it for the sake of this self-love. Just evaluate yourself, look deeper, find that ‘I feel good’ in everything that we do. Then life will truly be just fine..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: