Woo-Hoo Well Documented

Just saw another ‘home video’ by mobile. Sepertinya semakin banyak saja orang –terutama youngsters yang mendokumentasikan aktivitas ditempat tidur tersebut (meskipun gak mesti diatas tempat tidur dan gak mesti tertidur setelahnya). I’m not against it, at all. Bahkan jika mencermati ‘alur ceritanya’, tampilan dan kemasannya, they’re treated each other well enough. Meskipun dengan gaya basic dan seadanya, toh they’re treating each other well. Katanya semua ego ditanggalkan seiring menanggalkan pakaian yang melekat. And they did it good enough on that..what an observer, them.

It’s not about that home video itself that makes me wonder, but the Why- why they decide to documented it? Apa sebagai bukti menaklukkan perempuan (bagi si laki-laki) atau sekedar pembuktian cukup dicintai (bagi si perempuan). Semuanya bermuara ke rasa ‘bangga’. Bangga menaklukkan, bangga (karena merasa) dicintai. Atau karena this is the best moment yang layak diabadikan, momen yang mungkin saja segera hilang jika kebosanan dan jenuh melanda sehingga harus sempat didokumentasikan? I never did any research on that, though. Tapi rasanya ini bisa jadi pertanyaan yang unik untuk diajukan untuk mereka-mereka yang demikian pemberani menempuh semua resiko pendokumentasian tersebut. Terutama bagi mereka yang dengan sadar sepenuhnya untuk mendokumentasikannya. Bagi yang sembunyi-sembunyi terdokumentasikan oleh pihak lain tanpa sepengetahuan sepasang sejoli itu, tant pis. Lagi apes aja mungkin.

Perempuan cenderung menjadi objek, it mostly happen in anywhere around the globe, kecuali jika si perempuan cukup punya tingkat kesadaran dan penghargaan diri yang cukup sehingga she will asked a hell out of questions before decide to do things on her free will. Begitu juga yang terjadi di home video-home video ini. Selalu yang terlihat adalah si perempuan yang sedang beraksi, tubuhnya, ekspresi wajahnya. Tak sedikitpun terlihat batang hidung si laki-laki. Ini artinya, he has the control. He hold the camera, adjusting it, in whichever angles he wanted. All angles on the woman. None for the guy. Kalopun kadang wajah si laki-laki terlihat, lebih karena factor ketidaksengajaan diluar kendali, karena pada saat sedemikian sibuknya, tubuh punya pergerakannya sendiri yang gak melulu bisa dikendalikan.

I wonder how he asked the woman about documenting the process. Is he asked : ‘..this is a memorable moment, and I want to keep this forever with you..’? Atau malah si perempuan yang meminta untuk didokumentasikan? Semuanya mungkin. Saat sekarang ini, manusia –diluar jenis kelamin dan kecenderungan perilaku seksual- semuanya sama-sama punya hak untuk berada di win-win solution. Apakah si perempuan tidak bisa balik menanyakan kegunaan pendokumentasian itu? Dan jika si perempuan sebenarnya merasa tidak nyaman dengan pendokumentasian itu, can’t she just speak it up? Mungkin juga semua ini sekedar pemenuhan rasa ingin tahu tanpa ada konsep-konsep njlimet yang melatarbelakanginya.

Because it’s for FUN. It is what sex-in this stage of understanding- is all about, right?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: