(EVALUASI) PERHELATAN AKBAR PESTA KESENIAN BALI

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30 tahun 2008 sudah berlalu. Perhelatan rutin ini dari tahun ke tahun menuai berbagai pendapat, seringkali yang bernada sumbang : PKB monoton, PKB bagaikan pasar malam, tidak benar-benar menjadi media pelestarian budaya Bali…dst. Meski demikian, PKB terus berlanjut, diadakan setiap tahun disekitar bukan Juni atau Juli, selama sebulan penuh. Jika diamati, ajang PKB terutama di malam hari, memang tak ubahnya pasar senggol alias pasar malam, khususnya bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Memang disana-sini, diantara sekian kalangan (panggung tradisional) dan panggung modern yang terdapat di Art Centre, ada saja pertunjukan kesenian yang diselenggarakan. Dan masyarakat pun sebenarnya memiliki cukup banyak pilihan untuk menikmati kesenian tersebut. Hanya saja, yang sering terjadi, hiruk pikuk pedagang dan aneka barang dagangannya menjadi lebih menarik ketimbang seni pertunjukan itu sendiri. Pengunjung seringkali justru terlena diantara gelaran barang dagangan, sehingga pagelaran sebuah seni pertunjukan pun terlewatkan.

 

Beberapa hari lalu, ada tugas untuk mewakili Dirut menghadiri rapat evaluasi Pesta Kesenian Bali ke-30 sekaligus membahas PKB ke-31 tahun 2009 nanti. Peserta rapat terdiri dari instansi terkait, seniman, tokoh masyarakat serta pers, bertempat di kantor Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, di seputaran civic center, Renon.

 

Tema PKB tahun 2008 beberapa bulan yang lalu adalah “Citta Wretti Nirodha: Pengendalian Diri Menuju Keseimbangan dan Keharmonisan”. Evaluasi yang dimaksud dalam rapat tersebut terkait 6 aspek dalam setiap pelaksanaan PKB : pawai, pagelaran, Sarasehan, pameran, lomba dan dokumentasi. Namun menurut tim pengawas PKB, 6 aspek ini hanya sekedar ‘aksesoris’, bukan hal yang hakiki dalam ajang Pesta Kesenian Bali. Aspek yang lebih layak untuk diangkat dalam rapat evaluasi ini misalnya terkait makna pelestarian itu sendiri, bagaimana mengkategorikan sebuah pertunjukan berdasar ritual dengan yang komersil. Karena harus diakui, sulit untuk melestarikan seni pertunjukan ritual jika tidak bernilai ekonomis, kesenian tersebut akan terhenti pada ritual semata. PKB seharusnya tidak terhenti sebatas pada pawai, pagelaran, pameran (yang kemudian menjelma menjadi semacam pasar yang hiruk pikuk). Ajang PKB sebenarnya merupakan ajang untuk mengapresasi high-class culture Bali termasuk para insan seninya. Sayangnya, agenda rapat evaluasi memang ‘terbatas’ pada keenam aspek tersebut, yang diupayakan pada tahun 2009 nanti akan mengalami perbaikan disana-sini.

 

Dari rapat ini terungkap beberapa permasalahan yang sebenarnya berulang dari tahun ke tahun pelaksanaan PKB, terutama masalah parkir dan pedagang. Untuk diketahui, pengertian kalangan di Bali adalah area para seniman seperti pemain gamelan, penari dan aktor untuk memamerkan serta mempertunjukan ketrampilan seni mereka. Kalangan ini berjarak sangat dekat dan terkesan berbaur dengan penonton, tidak ada jarak lebar yang memisahkan antar pemain dengan penonton. Sangat berbeda halnya dengan seni pertunjukan yang menggunakan panggung (elevated stage), yang kini digunakan di Bali seiring perkembangan pariwisata, demi menyuguhkan tontonan ‘seni panggung’ kepada wisatawan. Meski konsep kalangan seakan menghilangkan jarak dengan penonton, tetap saja kehadiran para pedagang yang bersliweran didekat panggung membuat seniman tidak nyaman dan membuyarkan konsentrasi.

 

Menurut salah seorang dosen ISI Denpasar yang melakukan ‘investigasi’ kecil-kecilan, para pedagang tersebut ada yang menyewa tempat berjualan dari ‘kapling-kapling imajiner’ yang kemungkinan besar diatur oleh orang dalam. Hal ini membuat sang dosen merasa pesimis, permasalahan pedagang ini akan dapat diatasi. Selain itu masih ada masalah areal parkir. Para panitia pelaksana PKB yang setiap hari stand-by di Art Center pun dibuat tidak berdaya, harus membayar parkir yang dinaikkan berkali-kali lipat. Untuk masalah satu ini, dalam rapat terungkap akan ada upaya-upaya mencegah hal tersebut terjadi kembali. Pengelolaan areal parkir terutama di pinggir jalan akan dikoordinasikan dengan dinas terkait, yaitu PD Parkir.

 

Dalam kesempatan tersebut, ISI Denpasar juga mendapat sorotan terkait kisruh pemilihan rektor ISI belakangan ini. Sangat disayangkan, sebuah institusi pendidikan seni seperti ISI –dengan sekian banyak dosen dan guru besar didikan luarnegeri- justru terpecah-belah demi sebuah jabatan. Institusi pun terbawa kedalam kegamangan yang tidak kondusif samasekali sebagai sebuah institusi pendidikan. Kebebasan berekspresi menjadi sesuatu yang absurd, karena justru terjadi di lembaga yang seharusnya ‘memberi jalan’ bagi kebebasan berekspresi. Atau justru karena institutionalized art –lah yang berlangsung selama ini, sehingga kisruh ini menjadi mungkin untuk terjadi? Entahlah. Meski PKB erat kaitannya dengan keberadaan ISI, rapat tentu saja tidak sampai membahas mendetail polemik di ISI karena agenda rapat hanya menyentuh 6 aspek tadi : pawai, pagelaran, sarasehan, pameran, lomba dan dokumentasi.

 

Agenda rapat juga membahas tema PKB ke-31 tahun 2009 nanti, yang akan mengambil tema : “Mulat Sarira” : Kembali ke Jati Diri Menuju Kemuliaan Bangsa dan Negara”. Menurut sebagian peserta rapat, tema-tema yang diangkat selama penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali merupakan tema yang bagus, sarat filosofi namun dirasa terlalu berat untuk dipahami masyarakat awam. Tema yang berat juga menjadi kendala tersendiri saat mengejewantahkannya ke dalam bentuk tarian/ pagelaran.

 

Rapat berlangsung selama 2 jam, dengan sekitar 6 peserta rapat yang menyampaikan pendapat dan saran terkait evaluasi PKB 2008 dan pelaksanaan PKB tahun depan. Ketika rapat berakhir, saya yakin sebagian besar peserta merasa tidak ada sesuatu yang baru dalam rapat tersebut. Mungkin karena ‘hanya’ rapat pendahuluan, sehingga yang diterima hanya janji bahwa permasalahan yang sama tidak akan terulang lagi tahun depan. Apakah masalah pedagang yang memenuhi areal PKB akan teratasi? Apakah lahan parkir akan lebih teratur dengan tarif parkir yang wajar? Bisakah materi PKB didistribusikan awal tahun (seperti janji di rapat ini) atau lagi-lagi akan sangat terlambat didistribusikan? Jika semua permasalahan ini terulang kembali tahun 2009, mungkin ada baiknya kita benar-benar MULAI mulat sarira atau introspeksi diri mengenai perhelatan akbar ini. Mungkin sudah saatnya membahas hal-hal yang lebih hakiki, karena dengan menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah hakiki, akan turut membereskan masalah-masalah ‘kecil’ yang rutin berulang dari tahun ke tahun. Wallahuallam.

 


 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: