Mayday! Bloody Flood!

Rumah kebanjiran sebenarnya bukan hal baru buat keluargaku. Banjir sampai terjadi bukan karena tinggal di perkampungan kumuh, bukan karena dilingkungan kami banyak sampah. Tapi hanya karena posisi rumah yang lebih rendah ketimbang jalan. Maklum, rumah kami dibangun tahun 70-an, sebelum aku lahir, dan merupakan rumah pertama ditengah-tengah sawah, sampai berangsur-angsur menjadi pemukiman padat seperti sekarang. Tata ruang yang tambal sulam, terutama masalah drainase, membuat lingkungan rumah selalu menerima kado banjir dari areal yang lebih tinggi di utara. Tetangga kanan kiri juga mengalami masalah sama, tapi tidak separah rumah kami.

Waktu SMA, yang paling aku inget adalah hari ketika tidak ada orang dirumah, cuma aku dan (alm) nenek. Hujan lebat banget. Nenekku bertubuh mungil, udah sepuh pula, jadi hari itu memang aku harus mengandalkan diri sendiri mengatasi banjir. Nenek-dengan muka khawatir tentu saja- gak henti-hentinya mbuntutin dari belakang ngasi instruksi ini itu. Saat itu, ‘penangkal’ banjir kami adalah 2 bidang papan yang beratnya bukan main, dipasang didepan pintu pagar, untuk meminimalkan aliran air dari jalan, masuk ke rumah. Jadilah waktu itu dengan gagah perkasa seperti kuli bangunan, masang papan-papan itu. Kehujanan pula. Hasilnya? Teteeeeeup.. aja banjir! Untung sebelumnya semua barang-barang sudah naik, cuma satu yang kelupaan, koper berisi buku-buku dan kaset bahasa Perancis. Sedihnya minta ampun, takut juga dimarahin kakak yang beliin perangkat belajar bahasa Perancis itu..Begitulah, selalu berulang dari tahun ke tahun. Hari ini banjir, besoknya gotong-royong ngepel sampe badan sakit semua.

 

Akhirnya, beberapa tahun kemudian, rumah direnovasi. Teras ditinggikan, antara garasi dan ruangan belakang ada undakan setinggi sekitar 30 cm sehingga meskipun air masuk garasi, rumah tidak sampai kebanjiran. Di areal belakang juga ada undakan, jadi kalau halaman belakang kebanjiran, rumah tetap kering. Demikianlah selama bertahun-tahun kemudian tidak pernah banjir lagi. Trauma banjir sebenarnya tidak ada, yang ada hanya cemas, karena kakak-kakakku suka iseng nyembunyiin boneka-boneka teman tidurku, trus katanya udah pada hanyut dibawa banjir..

 

Tahun 2008, 7 Oktober..sepertinya musibah banjir terulang lagi. Worst than ever, nobody’s home! Cuma ada Piko, anjing kampungku yang hobi tidur. Ortu melayat ke rumah sodara, my beloved udah pulang dari tadi. Begitu hujan mengganas, Piko udah ta bukain pintu, jadi dia bisa tidur didalam rumah. Maklum, Piko udah bertahun-tahun menolak mandi, jadi setiap hujan dia pasti cemas diluar. Hujan gak berenti-berenti..kamarku tiba-tiba bocor. Gak tanggung-tanggung, bocornya pas di areal bohlam terpasang! Daripada korsleting, lebih baik sekring ta putus aja sekalian.. (cerdas!)

 

Anjing sudah tertidur, listrik sudah mati…lilin gak ada! Alah alah..ya sudah, bergelap-gelapan saja. So I called him. Air sudah semakin tinggi, tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Dia bilang akan segera ke rumahku lagi. Ok..bersabar, sambil nyalain dupa banyak-banyak, berharap hujan mau berhenti 15 menit saja, supaya air bisa surut. Biasanya mau kok. Bukan karena sakti ato gimana, semesta kecil (tubuh kita) dan semesta besar (alam) kan pada intinya unsur-unsur pembentuknya sama, jadi kalau kita selaras ama alam, alam pasi mau membantu. Atau begitulah kira-kira..tapi rasanya malam itu, asap dupa yang membuatku sesak dan mata perih pun tidak mampu menghentikan hujan barang sejenak. Simply because it had to rain!

 

Air sudah mendekati bibir teras, kamar mandi belakangpun sudah banjir. Kebayang, kan..kecoak kiriman pun ikut berhamburan cari selamat! Nyaris pingsan rasanya liat kecoak sekeluarga berkerumun di tembok wc.. (untung keburu inget kalo Piko gak mungkin membantu menyadarkanku). Telpon ortu dan my beloved, semuanya masih di jalan menuju rumah, tapi terjebak macet. Jalan Gatot Subroto dan Suli macet total, banyak kendaraan mogok. Ya sudahlah, mungkin sudah nasibku menghadapi semuanya sendirian di rumah yang gelap gulita bersama seekor anjing yang tertidur pulas..

 

Akhirnya sudah tak bisa dicegah lagi, air masuk lewat pintu depan. Lantai dengan cepat tergenang air. Yang bisa aku lakukan cuma mengangkat barang-barang supaya tidak terendam air. Mencoba menutup celah-celah pintu depan dengan koran, sia-sia saja. Sampai akhirnya aku menghentikan semua usaha dan hanya duduk di sofa, nonton banjir. Keberadaan Piko lumayan menghibur, tampangnya bodoh banget, cemas dengan kakinya yang sudah terendam, sampe maksa ikut naik di sofa (tentu saja segera terusir). Tiba-tiba membayangkan seandainya ada istilah ‘sup kaki anjing’, Piko yang kakinya terendam cocok banget deh. Mungkin dia pengen dibukain pintu, berharap diluar lebih kering, seandainya dia tau, keluar berarti berenang untuknya! Untung Piko lumayan cerdas, dia masih inget ada lantai dua..ya sudahlah, berarti paling tidak Piko sudah aman..

 

Menit-menit berikutnya hanya menunggu..

 

Orang-orang akhirnya datang juga..tapi air sudah menggenang disemua kamar. My beloved came, dan kami berdua gotong-royong menguras air (ortu sudah uzur, kasian ikut nguras air). Sempat juga dia nanya, “kok airnya gak habis-habis ya?”..enteng aja aku jawab, “ya mungkin kita kena kutuk..”..hehe. Disela-selanya, kami menyempatkan diri untuk berpelukan..lengkap dengan ciuman kupu-kupu. Lumayan sih, serasa difilm. Tapi kalo saban hari kebanjiran begini dan hidup susah, sepertinya meski dihujani pelukan dan ciuman..kayaknya ogah deh J

 

Malam itu, aku terpaksa meringkuk tidur di sofa yang kependekan buat kakiku. Tempat tidurku basah. Nyaris tidak tidur karena badan tidak nyaman dan nyamuk segambreng. Jam 4 pagi pindah tidur ke lantai 2 (memberanikan diri karena kamar itu agak horror..padahal enak banget buat tidur!).

 

Sudah bisa ditebak, besoknya kerja rodi bersihin rumah, aku sekalian mengubah formasi kamarku. Alhasil, terpaksa nelpon orang-orang kantor : rumahku banjir, jadi aku meliburkan diri! Dari cerita abangku yang juga terjebak macet, ada banyak mobil yang hanyut terbawa air, bahkan mobil 4 Wheel Drive juga ngapung seperti perahu tak berdayung! Baca koran pagi semakin jelas bahwa hujan semalam memang luarbiasa.. Beberapa hari kemudian di koran ada juga seseorang yang –katanya- keturunan Majapahit, menjelaskan bahwa pulau ini “dibersihkan” karena hujan lebat itu bersamaan dengan perayaan Durga (di India nun jauh disana). Hal ini dianggap sebagai sebuah berkah..dan katanya tahun lalu sudah ada yang “menerima berkah/ pawisik”, yaitu seorang “tokoh” muda..bla bla bla. Bukannya tidak menghargai sejarah masa lalu, atau dewa-dewa, tapi tidak usah dihubungkan ke klenik, lah. Gak usah sebegitunya hidup di masa lalu..Gak usahlah terlalu banyak attach ourself  dalam segala pelabelan itu, keturunan majapahit lah, ketua yayasan ini itu, bahkan dengan agama sekalipun. Terlalu banyak gelar dan label..akan semakin sulit menjadi diri sendiri ketika semua itu tidak ada. The last question will be : “who the hell are YOU?”  Maklum, aku paling anti sama orang bodoh sok pinter, mengandalkan titel melancarkan pembodohan massal. Kalo aku boleh berniat mendoakan supaya karma segera sampai ke orang-orang tertentu, ada 2 orang di pulau ini yang aku harapkan segera menerima buah perbuatan mereka. God knows why..

 

Udah ah, malah bikin snewen aja memikirkan 2 orang yang membuat pulauku ini tercemar, memanfaatkan ketakutan masyarakatnya untuk sebuah spiritualitas palsu.

 

Anyway, begitulah cerita banjir di rumahku. Hikmahnya : rumahku memang jadi bersih, aku tau my beloved will be around me whenever things going upside down.. satu lagi, sekarang pintu depan sudan di-tutup lakban dibawahnya, jadi air tidak akan masuk..Semoga deh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: