BookWorm (3)

Seandainya disini ada Social Agency, mungkin Gramedia bukan satu-satunya pilihan berburu buku. Tapi syukurlah ada Toga Mas-alias ToMas biar gampang sebut- yang kurang lebih sama seperti Social Agency : toko buku diskon. Memang tidak se-chick tampilan Gramedia dalam hal display, tapi bagi mereka yang cinta buku, rasanya ini bukan masalah besar. Just scroll up and down the racks, you’ll find a lot of interesting books. Ini juga berlaku di Gangarams Book Bureau, di Bangalore. Display yang teratur dan rapi sama sekali bukan hal utama disini, tentu saja tanpa mengabaikan kualitas/ kelengkapan koleksi buku..

Perjalanan ke India adalah yang pertama kalinya dan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kegiatan selama di India cukup padat, sementara waktu yang tersedia sangat singkat. Begitulah resiko jika bepergian keluar negeri karena pekerjaan, bukannya berlibur..Kali ini baru terasa kebutuhan untuk tinggal lebih lama lagi, karena merasa belum benar-benar ‘menjelajah’ di kota ini, bahkan untuk sekedar menyambangi areal yang katanya bagaikan ‘Silicon Valley’ pun tidak sempat, padahal Bangalore terkenal karena itu.

Akhirnya menjelang hari keberangkatan (pulang) ke Indonesia, baru ada kesempatan untuk menjelajah sedikit. Aku langsung tanya dimana toko buku yang bagus, dan kita diarahkan ke toko buku Gangarams itu. Rasanya yang punya tujuan ke toko buku cuma aku dan jurnalis dari Tempo. Mungkin juga karena kami sekamar, rasanya lebih seru kalo ada teman untuk berburu buku juga.

Memasuki toko, rasanya seperti masuk ke toko-toko di tahun 80-an, bangunan yang agak kusam, dengan bau khas debu. Tentu saja jauh dari toko buku Kinokuniya yang super megah. Tapi ketika pandanganku tertumbuk di sebuah brosur yang tertempel di dindingnya, baru ada perasaan agak merinding-merinding..Brosur itu tentang jadwal meditasi Dynamic Meditation-nya Osho! My lord, I felt strongly connected again with Osho..

Begitu sampe didalam toko..My goodness. This is paradise! Memang sih ini toko buku, jadi kearah manapun mata memandang, tentu saja yang terlihat cuma buku dan orang-orang. Tapi disini buku seperti diletakkan begitu saja tanpa ada kode-kode tertentu seperti umumnya toko buku ‘normal’ yang pernah aku kunjungi. Dilantaipun ada tumpukan buku-buku yang mungkin tidak kebagian rak..they just left it there. Tapi memang buku-buku itu masih baru semua, dalam kondisi sangat baik, basically karena kekurangan tempat aja.

Buku Osho pertama yang aku temukan adalah The Book of Woman, nyaris terlompat kegirangan kalau saja tidak segera mengingatkan diri sendiri. Scanning..mencari-cari buku Osho yang lain, ternyata gak ada. Akhirnya memutuskan untuk nanya langsung ke penjaga tokonya. And then I was told that Osho’s Books were on the second floor. My goodness, second floor? Berarti masih ada lagi buku sebanyak ini? Ternyata memang benar, di lantai dua ada banyak buku-buku Osho! Seandainya tidak perlu memperhitungkan budget, mungkin sudah terborong semua itu buku. Anyway, akhirnya terbeli 8 buku Osho dan beberapa buku lainnya. Total kalau dirupiahkan, semuanya sekitar 500 ribu-an! Budget belanja buku terbesar yang pernah aku lakukan. God it felt good!

Teman seperjalanan ketika itu mungkin bertanya-tanya dalam hati, siapa sih orang bernama Osho ini,yang membuatku kalap begini.. Kalo dijawab saat itu juga, rasanya akan jadi jawaban yang panjang..Jadi untuk gampangnya, just google ‘osho’, and you’ll find millions of results. The rest, it’s really up to people how the’re gonna pictured him, a spiritual mystic or just another phony spiritualist. For me, he has a tremendous influence on how to be human being.

Waktu untuk berada di surga buku itu sama sekali tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu, rasa lapar..but I promised myself, “I will be back!”

Sekarang ini mungkin orang lebih memilih untuk ber-e-book ria. Karena ketika dunia sedang sibuk dengan topik ‘global warming’..semua tiba-tiba terkesan latah untuk Go Green. Buku yang terdiri dari kertas, menghabiskan banyak pohon (entah berapa angka pastinya, yang jelas membuat para environmentalist sejati menjerit ngeri) dan karena itu e-book dianggap lebih ramah lingkungan. I have my own FREE e-books (download it at some kindhearted website), but I guess e-books don’t have that nice smell like a brand new book, so I still prefer a real book in my hands..

Semua perjalanan ini, membuatku semakin kaya dalam batin dan merasa motivated to experience all the nice feelings I’ve had in those’book hunting’ moments. Semua buku memiliki judul masing-masing, demikian juga mereka memiliki ‘cerita’ mereka sendiri, hingga sampai ke tanganku. Those are my personal experience and I appreciate it all by taking a good care each of them because they’ve made me become more human..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: