Caleg: Cendawan di Musim Hujan

Pemilu 2009 semakin dekat. Atribut pemilihan calon legislatif sudah mulai marak dipasang sejak berminggu-minggu lalu. Sementara kabar-kabari yang mengarah ke arena pemilihan presiden 2009 masih berupa selentingan disana-sini lengkap dengan berbagi jenis prediksi. Hampir seluruh porsi berita di media massa habis untuk memuat berita politik, dengan berbagai cara penyajian. Ada yang menggunakan bahasa sederhana sehingga terlihat jelas motivasi untuk ‘menjual diri’, ada yang dengan cerdas mengemas gaya kampanye sehingga terlihat wajar dan santun.

Perubahan yang terjadi –sejak berakhirnya dominasi partai Golkar, membawa angin baru bagi dinamika politik di tanah air, terutama di daerah. Kini partai-partai memiliki akses ke daerah dan setiap orang bisa menjadi caleg, wakil rakyat, dengan persyaratan tertentu, namun sebagian besar karena pertemanan atau kekerabatan. Tidak harus teruji loyalitasnya terhadap partai dan tidak mesti seorang public figure yang sudah berkontribusi terhadap masyarakat umum. Pemandangan carut marut pemasangan segala macam atribut partai dan foto sang calon wakil rakyat kini hampir merata ditemukan dimana-mana. Hal ini cukup menarik untuk diperhatikan, tidak untuk dianalisa secara serius penuh teori politik, hanya dari kacamata ‘rakyat biasa’ yang rencananya diwakili oleh para caleg yang sebagian besar munculnya ‘out of the blue’ tersebut.

Di suatu siang yang terik, segerombolan anak muda berkumpul di mulut gang, semuanya terfokus pada kesibukan memasang bendera salah satu partai, termasuk foto hasil digital printing sang caleg. Dilirik sekilas, nama sang caleg ternyata sulit dieja, mungkin perlu lirikan berkali-kali untuk mengucapkan namanya dengan benar. Padahal tujuan pemasangan segala atribut ini adalah agar masyarakat familiar dengan sang caleg (apapun visi dan misinya, berguna atau tidak). Mungkin sang caleg tidak menyadari bahwa namanya sulit dieja sehingga hal ini tidak dianggap penting. Atau mungkin dengan nama yang sulit dieja, orang justru penasaran ingin memastikan nama sang caleg. Kadang hal-hal kecil seperti ini pun (berhasil mengeja nama sulit sang caleg) bisa menjadi achievement ditengah banyak hal besar-besar dan penting yang terjadi setiap hari.

Beberapa caleg rupanya menyadari pentingnya misi untuk membuat masyarakat familiar dengan profil sang caleg melalui jasa baliho dipinggir jalan. Di belakang nama formal, caleg tipe ini akan menambahkan nama lain, mungkin nama panggilan atau nama ‘gaul’, tentu saja agar masyarakat merasa lebih familiar seakan-akan para caleg itu seorang teman atau tetangga sebelah rumah.

Ada juga yang mencoba berinovasi menggunakan gaya berfoto yang lain daripada yang lain. Standar gaya berfoto untuk para caleg ini biasanya foto tampak depan dengan jas lengkap dasi maupun berpakaian adat untuk menunjukkan rasa kedaerahan. Ketua umum partai selalu menjadi latar belakang, seakan merestui sang caleg. Bahkan bung Karno juga sering ‘dimanfaatkan’ supaya sang caleg terlihat lebih meyakinkan, meskipun bung Karno tidak pernah benar-benar mengamini konsep multipartai seperti saat ini. Dan tentu saja, bung Karno terlalu BESAR untuk hanya dipasang sebagai latar belakang sang caleg, seakan-akan merestui. Kalau bu Mega sebagai latar belakang, bolehlah, karena memang ada hubungan langsung.

Ekspresi wajah juga umumnya cukup formal –karena berusaha tampak meyakinkan- senyum secukupnya, tidak terlalu lebar (kecuali untuk seorang pelawak lokal yang juga mencoba peruntungan menjadi caleg, tawa lebar adalah modal utama). Bisa juga berfoto tidak terlalu formal, berdiri sambil mencakupkan tangan di depan dada. Seorang caleg perempuan, memilih bergaya ala foto pra-wedding (badan agak miring, pandangan mata kearah kanan atas dan tersenyum lembut). Kalau saja ada yang memiliki waktu luang cukup banyak mengamati fenomena karya foto para caleg yang bertebaran dijalan-jalan, mungkin bisa dibuatkan sebuah survey yang agak serius, terutama bagi mereka yang tertarik dengan ilmu komunikasi visual. Dengan survey ini, bisa didapat sebuah kesimpulan, gaya berpose mana yang paling eye-catching untuk membuat orang lewat merasa perlu melirik berkali-kali dan bahkan menyimpan wajah dan nomer sang caleg dalam memorinya.

Terlepas dari segala teori politik, undang-undang atau segala jenis aturan hukum terkait pelaksanaan pemilihan caleg dan pemilu nanti, ruang bagi aktivitas berpolitik tampaknya semakin bervariasi saja. Namun sayangnya, kebanyakan masih sangat dangkal memaknai aktivitas berpolitik tersebut. Dengan ramai-ramai mengikutsertakan diri dalam sebuah partai politik, ramai-ramai mendaftar menjadi caleg, ramai-ramai muncul di artikel-artikel media massa, sudah dianggap “beraktivitas politik”. Atau bahkan untuk kalangan yang lebih awam lagi, menghadiri sebuah perhelatan politik dan kemudian mendapat goody bags seperti t-shirt, kalender atau stiker, sudah dikategorikan ‘berpolitik’. Masih bersifat euphoria nyaris histeria, belum terlalu menunjukkan adanya visi misi politik yang matang diantara sekian banyak individu dan lembaga yang menganggap dirinya sudah atau sedang ambil bagian dalam percaturan politik negeri ini.

Keterlibatan dalam politik praktis tidak cukup hanya dengan niat baik yang kemudian diumbar ke semua media massa. Ada banyak hal lain yang harus ada selain niat baik semata, agar akhirnya benar-benar dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat, seperti yang diniatkan semula. Sebut saja daya intelektualitas dan intelejensia yang memadai, pemahaman holistik terkait dunia- atau paling tidak paham sejarah dan arah bangsanya, serta  memahami kepentingan masyarakat lokal yang akan diwakili para caleg ini. Hal-hal lain seperti karakter termasuk rasa percaya diri, bisa saja dipoles sambil jalan, seperti juga misalnya public speaking dan personal appeareance atau image sang caleg.

Melihat fenomena ramainya keikutsertaan pada ajang pemilihan caleg ini sebenarnya perlu tetap di-appreciate, karena paling tidak- sudah berani tampil, terlepas dari segala kepentingan yang melatarbelakanginya. Namun sayangnya kesan dadakan dan karbitan ini agaknya sulit dihindari.

Ada pepatah : “..tak kenal maka tak sayang..”   Tapi sekali lagi, setelah kenal pun, tidak harus ada rasa sayang, KECUALI keberadaan para caleg ini memang bisa membuat sejumlah perubahan dan bermanfaat bagi masyarakat yang diwakilinya. That’s what it’s all about, right?

 

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Made Sudiana
    Jan 20, 2009 @ 03:46:15

    Jamur di musim hujan mulai meresahkan. Menjamurnya plakat, stiker, baliho, dan sejenisnya membuat kita miris. Pemasangannya tidak memedulikan lingkungan. Setelah dipasang, dibiarkan begitu saja, tidak dirawat. Coba perhatikan, banyak gambar, bendera, dan sejenisnya sudah robek. Tidak ada yang peduli. Kalau hal-hal kecil saja tidak dipedulikan, bagaimana hal yang lebih besar dipedulikan?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: