Rabies, Another Side of Story

Seandainya saat ini ada manusia se-kaliber Angling Dharma atau Santo Fransiskus dari Asisi, mungkin kita akan lebih mudah memahami berbagai penyakit yang disebabkan atau diperantarai oleh binatang. Kedua tokoh ini memiliki latar belakang yang jauh berbeda dan hidup di jaman berbeda. Angling Dharma seorang tokoh nusantara yang kisah hidupnya menempatkan sang tokoh antara kenyataan dan legenda cerita rakyat. Sejumlah tempat di nusantara mengenal tokoh ini, mulai dari Jawa Barat, Bojonegoro hingga Bali. Sementara Santo Fransiskus dari Asisi, Italia adalah santo pelindung binatang dan anak-anak, ia hidup antara tahun 1182 hingga 1226. Persamaan keduanya adalah kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan binatang-binatang dan menyatu dengan semua ciptaan. 

 

Ada banyak penyakit yang disebabkan/ diperantarai oleh binatang, sebut saja penyalit pes oleh tikus, demam berdarah dan malaria oleh nyamuk, dan yang sedang ‘marak’ di Bali belakangan ini adalah rabies (saat tulisan ini dibuat, pemberitaan tentang wabah rabies di media sudah mereda, berita terakhir adalah diadakannya vaksinasi massal untuk anjing).

Ketika wabah ini merebak, masyarakat memahami dari media dan dari berbagai komentar yang dilontarkan pejabat daerah dan instansi terkait, bahwa penularan rabies adalah melalui anjing. Itulah sebabnya anjing-anjing jalanan yang dianggap tak bertuan kemudian diburu, diracun sampai mati untuk mencegah jatuhnya korban lebih lanjut. Namun tindakan ini ibarat meminum obat diare super kuat yang mampu menghentikan diare seketika, tanpa perlu bersusah-payah mencari tahu apa penyebabnya dan bagaimana sebaiknya menanggulangi masalah ini tanpa harus membasmi anjing jalanan secara membabi-buta (yang mungkin saja hanya hobi berada di jalanan, namun sebenarnya memiliki rumah untuk pulang alias bertuan).

India adalah negara dengan tingkat kematian paling tinggi akibat rabies, yaitu sekitar 35 ribu orang per tahun menurut data WHO. Jumlah anjing jalanan di India juga meningkat dari tahun ke tahun, saat ini mencapai kurang lebih 27 juta ekor tersebar di seluruh India. Anjing-anjing jalanan ini dianggap ‘menguasai’ jalanan di India, menebarkan ketakutan dan marabahaya bagi para pejalan kaki, pengendara roda dua dan bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah ini. Tidak heran, seorang teman dari India ketika ditanya binatang apa yang paling membuatnya takut, jawabannya adalah anjing. Seorang teman perempuannya meninggal akibat rabies setelah digigit anjing.

Entah sudah ada penelitian atau tidak mengenai ada tidaknya pengaruh kondisi masyarakat terhadap keberadaan anjing jalanan, termasuk kondisi wilayah tertentu yang dianggap ‘kondusif’ terhadap penyebaran rabies ini. Misalnya jika kita bandingkan keadaan di Bali dengan India. Di Bali, hampir setiap rumahtangga memiliki seekor anjing atau lebih. Anjing-anjing ini merupakan anjing rumahan, meskipun tidak berarti mendapat ‘treatment’ nomer satu seperti yang ada di majalah-majalah penghobi anjing. Treatment ideal ini misalnya dimandikan setiap hari sehingga selalu wangi dan tidak berkutu, memakai kalung penanda yang layak, berkala dibawa ke dokter atau ke salon anjing dan lain-lain. Anjing di Bali yang bertuan sekalipun, sebagian besar tidak wangi tanpa kutu, tidak selalu memakai kalung penanda dan mereka memang gemar berkeliaran, karena mereka adalah makhluk bebas, tidak seperti anjing sejenis golden retriever atau anjing ras mahal lainnya yang dikandangkan agar tidak hilang atau diculik orang. Padahal namanya saja retriever (penangkap/ pengumpul), aslinya anjing ini adalah anjing berburu, menemani manusia yang hobinya berburu dan bertugas menangkap serta mengumpulkan hasil buruan. Secara alamiah mereka seharusnya hidup di areal luas, namun kini areal itu tak lebih dari sebuah kandang sempit, dipajang di halaman bak hiasan dan sesekali dilepaskan atau diajak berjalan-jalan.

Ada semacam logika umum yang berlaku di Bali, bahwa anjing adalah binatang yang akan selalu pulang ke rumah tuannya meski tidak terlalu dirawat, meski tidak cukup diberi makan atau tidak terlalu diperhatikan kebutuhan psikologisnya untuk diajak bermain-main. Sebuah behaviour terpuji dari anjing, yang membedakannya dengan kucing (at least menurut banyak teman yang lebih memilih anjing sebagai hewan peliharaan ketimbang kucing). Tak jarang, jika ada anjing tak bertuan nongkrong di sebuah rumah, sebuah koneksi segera terbangun antara anjing dan pemilik rumah. Si anjing mulai rutin mendapat makanan dari pemilik rumah, sampai akhirnya just like that, si anjing menjadi bagian dari rumah tersebut. Jika anjing ini beranak pinak, umumnya bayi-bayi anjing tersebut dijual atau dihibahkan ke tetangga, teman dan kerabat. Jika bibitnya cukup baik- meskipun anjing lokal- pemesanan sudah berlangsung dari mulut ke mulut, jauh-jauh hari bahkan sebelum bayi-bayi anjing ini lahir. Dengan kata lain, populasi bayi anjing yang baru lahir ini sudah ‘bertuan’ sebelum mereka sempat menjadi anjing jalanan.

Akan halnya anjing-anjing yang dicap sebagai anjing jalanan, seharusnya ada pendataan yang baik untuk mengetahui populasi anjing liar dengan anjing milik penduduk. Ini perlu mendapat perhatian sehingga tidak hanya berdasarkan pandangan sekilas mata untuk menyimpulkan bahwa anjing-anjing yang sedang berada di jalanan adalah anjing liar tak bertuan dan kemudian dianggap wajar untuk dibasmi begitu saja.

Bagaimana dengan di India? Jumlah anjing di India tercatat sebesar 27 juta ekor, 80% merupakan anjing jalanan. Dari kondisi ini, epidemiologi yang terjadi adalah setiap 2 detik seseorang digigit anjing, 40% dari mereka yang digigit anjing tidak melakukan atau mendapatkan perawatan yang selayaknya, dan setiap setengah jam seseorang meninggal akibat rabies. Sejak beberapa tahun lalu aktivis pelindung hak hewan berhasil mempengaruhi pemerintah untuk mengeluarkan peraturan mengenai kontrol kelahiran, dimana anjing liar ditangkap, disterilisasi dan dilepaskan kembali. Ini berarti pembunuhan massal terhadap anjing liar menjadi terlarang di India. Namun kontrol kelahiran ini kemudian dianggap kurang efektif, potensi anjing untuk terinfeksi rabies tetap ada karena tidak ada pemantauan atau tindak lanjut yang dilakukan setelah sterilisasi tersebut.    

Sedemikian ‘gawatnya’ rabies di India sehingga lembaga penelitian lokal berkolaborasi dengan lembaga asing termasuk WHO untuk mencoba menangani masalah ini. Dari pilot project tersebut didapat beberapa kesimpulan, diantaranya bahwa control kelahiran tidak mungkin dilakukan dengan besarnya populasi anjing liar di India dan salah satu cara yang dianggap paling efektif adalah dengan melakukan vaksinasi secara parenteral maupun oral. Melalui vaksinasi ini, diharapkan terbentuk semacam antibodi sehingga anjing tidak mudah terinfeksi rabies. Hanya saja, permasalahan yang masih harus dihadapi India adalah terbatasnya ketersediaan vaksin. Hal ini diakibatkan dana pemerintah terbatas untuk pengadaan vaksin ditambah lagi harga vaksin semakin mahal akibat kebijakan WTO terkait hak paten.

Jika boleh melakukan generalisasi, kondisi masyarakat di India tidak lebih baik daripada di Bali, terutama dari segi kesejahteraan masyarakat secara umum. Jumlah penduduk yang luarbiasa padat, dengan pendapatan perkapita rendah, merupakan perjuangan bagi banyak rumahtangga di India untuk bertahan hidup. Dengan kondisi ada begitu banyak mulut untuk disuapi, bagaimana bisa ada makanan tersisa untuk anggota keluarga ‘ekstra’ seperti hewan peliharaan alias anjing? Kemungkinan yang terbesar adalah setiap generasi anjing terbaru akan lahir dan hidup di jalanan, tak bertuan.

Sekali lagi, jika boleh melakukan generalisasi dari logika ini, kondisi populasi anjing di Bali lebih baik dari India. Ini dilihat dari segi kepadatan populasi, persaingan mencari makanan dan rasio anjing liar dengan anjing bertuan. Untuk itu, jika memang pemerintah cukup serius mengurus Bali yang wilayah, penduduk dan populasi anjingnya jauh lebih kecil daripada India, bukan hal yang sedemikian sulit untuk melakukan perencanaan strategis dan efektif daripada melakukan tindakan reaktif yang hanya manjur sesaat.

Rabies bukan penyakit baru, melainkan penyakit kuno, yang katanya sudah ada sejak jaman Mesir dan India kuno. Jika rabies ini masih ada saja sampai jaman millennium ini, mungkin Alam memang memiliki caranya sendiri untuk mengontrol populasi manusia. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di satu sisi dianggap meningkatkan kualitas kehidupan, namun disisi lain, jumlah penyakit fisik dan mental juga semakin bertambah, dan kemampuan manusia untuk hidup secara holistik semakin tumpul. Dunia kedokteran dianggap sudah canggih, padahal masih ada begitu banyak ‘penyakit’ yang belum dapat ditemukan obatnya, termasuk rabies. Pasien yang terinfeksi rabies bisa dipastikan meninggal, seperti halnya anjing yang terinfeksi rabies juga akan mati setelah melewati sekian gejala khas mengidap rabies.

Ini baru penyakit rabies dari anjing. Masih ada rabies yang ditularkan melalui kucing, kera dan yang terkenal paling berbahaya adalah kelelawar vampir di Amerika Selatan yang sering menggigit hewan ternak seperti sapi. Ribuan sapi terinfeksi rabies akibat gigitan kelelawar jenis ini. Dengan semakin terbukanya jalur dari satu belahan dunia ke belahan dunia yang lain, bukan tidak mungkin jalan masuk kelelawar jenis ini ke Indonesia semakin terbuka lebar- lewat para penghobi binatang. Jadi instansi berwenang juga perlu membuka mata dalam hal lalu lintas masuk binatang yang habitatnya diluar Indonesia, tidak hanya terfokus pada anjing lokal.

Belum lagi ‘kontribusi’ nyamuk menebar malaria dan demam berdarah. Dengan hanya satu gigitan untuk menghisap darah sebesar daya tampung tubuh kecilnya, seekor nyamuk bisa meracuni berliter-liter darah yang ada dalam tubuh satu manusia menjadi malaria atau demam berdarah, mengancam keseluruhan daya hidup seorang manusia.

Seandainya di jaman ini ada manusia yang paham bahasa binatang seperti tokoh Angling Dharma atau Santo Fransiskus dari Asisi, bisakah kita berandai-andai akan ada kemungkinan untuk mencapai satu kesepakatan dengan para binatang kontributor penyakit ini ? Bisakah, misalnya, bagaimana membuat nyamuk tidak usah sampai mengkonsumsi darah kita secara langsung, tapi cukup dari secawan kecil darah segar yang sudah disiapkan sebelumnya ? Atau, bagaimana cara bernegosiasi dengan kelelawar vampir agar hanya fokus menggigit satu sapi saja daripada menggigit ribuan sapi seperti icip-icip pesta kuliner saja ? Atau dalam kasus rabies ini, bagaimana mengingatkan para anjing agar bisa menjaga dirinya supaya tidak terinfeksi rabies atau agar berhati-hati bergaul dengan sesamanya, untuk segera menghindari teman anjing yang terlihat ‘tidak sehat’ ? Seandainya bisa berandai-andai dan berimajinasi..

Well, to simplify things, let’s just say that the Nature has its own intelligence and way to manage all the living beings on this planet.. 

1 Comment (+add yours?)

  1. Made Sudiana
    Jan 20, 2009 @ 04:05:59

    Angling Dharma tinggal cerita yang mungkin sudah ditinggalkan. Sekarang jaman “pangling dharma”….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: