Lemot Akut Bureaucracy (part 4)

Untuk kesekian kalinya, kembali mengunjungi kantor imigrasi yang sudah berhasil menginspirasi saya menulis hingga menjadi 3 bagian. Hari ini seharusnya waktu untuk mengambil paspor yang-seharusnya- sudah jadi. Saya membayangkan hari ini tidak akan perlu banyak membuang waktu dengan menunggu. Instruksi yang saya ingat ketika wawancara 4 hari yang lalu adalah, “..silahkan kembali 4 hari lagi untuk mengambil paspor baru, cukup serahkan bukti pembayaran (warna putih) di loket.”

Tiba di lokasi, saat menyerahkan bukti pembayaran di loket, saya lihat di ruangan bagian dalam ada kesibukan. Rupanya mereka sedang berbenah, meja kursi dipindah, sekat-sekat ruangan yang tadinya untuk wawancara dan foto juga dibongkar. What a mess. Saya berpikir, kenapa ‘kerja bakti’ seperti ini tidak dilakukan pada hari Minggu atau hari libur saja? Apa PNS tidak boleh kerja ekstra di hari libur, meski itu tujuannya untuk menambah kenyamanan kerja mereka sendiri atau meningkatkan efisiensi pelayanan publik? Kenapa justru memilih hari SENIN, jam paling padat dan sibuk, untuk ‘nyambi’ berbenah ruangan? Tentu saja semuanya bertambah lambat (dari yang tadinya memang sudah lambat). Saya diminta menunggu. Ok..

Pengeras suara tidak berfungsi, jadi penjaga loket harus nyaris berteriak saat memanggil orang-orang. Saya yakin kebanyakan orang yang sedang menunggu, seperti halnya saya sendiri, berusaha meluangkan waktu di hari SENIN pagi sebelum berlanjut ke seabrek aktivitas yang sudah menunggu. Tapi itu tidak mengubah ‘speed’ pelayanan di kantor ini, malah ditambah dengan acara berbenah-benah ruangan segala. Saya pikir siapapun ingin suasana kerja di kantor bisa nyaman sehingga semangat kerja tetap terjaga. Hanya saja, dari pengalaman saya sendiri, berbenah ruangan kerja harus sesuai kesepakatan dengan penghuni ruangan itu sendiri, biasanya di hari Minggu atau libur. Tempat saya bekerja bahkan bukan lembaga yang sarat dengan pelayanan publik, namun demi menjaga produktivitas, berbenah ruangan tetap dilakukan pada hari libur.

Setengah jam kemudian, saya tidak sabar lagi menunggu. Saya tanyakan lagi ke si petugas loket, apakah semua ini masih lama atau tidak. At least tolong beri saya estimasi waktu! Lagi-lagi jawaban lemot yang sama, “tunggu dulu ya..” My goodness! Jarang sekali jawaban yang melegakan hati sejak dua minggu lalu..What take them so long? Darn! Setengah jam kemudian, nama saya dipanggil. Dengan sedikit terbata-bata, “ini sudah dicek (entah apa yang dicek lagi)..silahkan kembali jam setengah 4 sore ini…blah blah” Goddamn it.

Dialog berikutnya : Saya harus menunggu lagi?Kenapa?O karena Bapak (entah bapak siapa) belum datang? Baru bisa jam setengah 4? Apakah saya ada waktu anda bilang, tidak, saya tidak ada waktu sore ini. Bisa diwakilkan?Apa? Harus pakai surat kuasa anda bilang?O kalau begitu, berarti tidak bisa diwakilkan. Tutup jam berapa? Jam stengah 4 juga? Bisa diambil besok?Saya ambil besok.

And I just left. I didn’t even say thankyou. It may be my bad for not saying thankyou. But I just didn’t care. Why not telling me that it can only be done by 3.30 pm, why I should wait for an hour for nothing? This office is really terribly managed. Public service? Well here, nobody seem to understand the meaning at all.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: