Miss-identified Self

Buat yang suka shopping, atau sekedar window shopping, kejadian berikut pasti pernah dialami: masuk ke sebuah toko, branded, harga barangnya ratusan hingga jutaan rupiah, tapi disambut oleh pegawai toko yang tampangnya ‘blank’, melayani setengah hati dan sibuk stengah mati terlihat se-level dengan barang jualannya yang branded. Sound familiar? Tidak hanya untuk barang yang branded, bahkan ketika window shopping atau menyelesaikan transaksi di kasir sebuah supermarket –yang sangat biasa- pun, hal ini kadang-kadang terjadi.

Jika kejadiannya di kasir supermarket atau di toko yang biasa-biasa saja, saya bisa memaklumi, karena mungkin saja, they have a very hard life, atau mungkin terlalu lelah berdiri seharian dengan gaji sangat pas-pas-an (and then life become pretty hard). Then I may take a pity on them dan menganggap semua pelayanan kurang ramah itu angin lalu saja, meski dalam hati tetap jengkel. If it happen di sebuah mal yang terang benderang, sophisticated, wangi..this is quite intolerable. People- the shop assistants-should be more aware dengan segala ‘perang’ gaya hidup yang terjadi dan customer mungkin akan more demanding.

Dalam hidup, ada saat-saat dimana kita kadang menyesuaikan diri dengan hal-hal diluar diri kita, namun kita menjadi bagian dari hal tersebut. Sebut saja, ketika kita merepresentasikan perusahaan tempat kita bekerja (bagi yang masih berstatus ‘employee’, dan tidak/ belum ‘owner’). Tetap saja ada standar-perilaku atau manner tertentu yang harus kita lakukan supaya tidak ‘memalukan’ institusi yang kita wakili. Namun tidak berarti hal itu menjadikan kita pribadi yang super palsu dan salah kaprah mengidentifikasi diri kita dengan produk/ institusi yang kita wakili, se-‘bergengsi’ apapun produk/ institusi yang kita wakili.

Tentu saja, misalnya, ketika saya hadir dalam sebuah acara mewakili perusahaan tempat saya bekerja saat ini, ada semacam tombol imajiner yang secara alami saya tekan untuk terlihat dan terasa klop antara saya sebagai individu dengan perusahaan yang saya wakili. Lupakan semua ketidakpuasan yang kadang-kadang terjadi di kantor, and be positive about the whole thing concerning the company I represented. Be helpful jika ada yang ingin tahu bahkan jika ada yang protes atau mengkritik performance perusahaan. Kalaupun ada kebanggaan yang menguar ketika kita berada dalam situasi tertentu, keep it low.

Kembali ke manner si penjaga toko branded, saya mencoba berempati dengan memberikan alasan-alasan pada diri sendiri, mungkin mereka hanya sedikit lelah sehingga tidak ada energi tersisa untuk menjaga mood melayani pembeli/ calon pembeli dengan cukup tulus. Tapi dengan segera, segala alasan penghibur ini terpatahkan jika saya berada cukup lama di toko tersebut. Segera saja dengan mudah bisa terlihat mana penjaga toko yang cukup ‘terdidik’ menepis segala ego-nya sebagai individu dan berkonsentrasi melayani pengunjung, mana yang super jaim karena miss-identified themselves dengan produk yang dijajakan (yang memang branded dan harga selangit). Sayang sekali, karena kesempatan untuk transaksi jual beli terjadi, bisa hilang begitu saja.

It happened to my sister once, yang saat itu perlu sepatu untuk travel overseas. Tujuannya hari itu adalah ke toko sepatu merk favoritnya. Sayang sekali, penjaga toko yang sedang bertugas saat itu, mannernya tidak bisa diterima : belagu, tidak senyum, asal-asalan, dsb. My sister left the store, meski ada sepatu yang sangat disukai, she just lost the mood dan beralih ke Hush Puppies, tepat disebelahnya. Ternyata the way they treated the customer sangat jauh berbeda dengan toko sebelumnya, sehingga –karena memang perlu juga- my sister bought 2 pairs and a couple of other stuff. Barang belanjaan juga dibawakan oleh si penjaga toko, part of the services. What a pity, semua itu disaksikan oleh penjaga toko sebelumnya, yang super belagu tersebut. Sebenarnya sayang tokonya, sih, peluang transaksi jadi melayang CUMA karena pelayan toko yang belagu, yang miss-identified dirinya dengan the well-branded products.

Pernah juga saya baca di sebuah artikel, seorang perempuan yang sangat branded-minded, khususnya untuk koleksi tas tangannya. Dia mengakui, ketika memakai tas yang ‘palsu’ alias tiruan, dia mengalami ketegangan luarbiasa, merasa terjepit dengan perasaan rendah diri yang tiba-tiba muncul, cemas jika ada yang tau jika tas tanggannya ‘hanya’ imitasi. Rupanya hanya pada sebuah tas-lah this women identified herself! Tentu ada semacam kepuasan ketika memakai branded products, karena entah bagaimana produk tersebut memiliki image yang kuat, langka dan disepakati ‘spesial’ oleh khalayak umum. Tapi kan gak perlu se-paranoid itu juga.

Anyway, miss-identified ini bisa terjadi in any walks of life, beware, and keep telling yourself to be genuine enough, tidak terlalu attached onto something. Rasanya perlu untuk mengamati tombol-tombol di pikiran dan memori sehingga kita semakin lihai untuk menghindari miss-identified self ini dalam kehidupan sehari-hari..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: