Acquaintance With Death: A Brand New Beginning

Most people fears Death because it is something unknown, or one thing that most people avoid to talk about, or even to think about. Kematian identik dengan ratapan tangis keluarga yang ditinggalkan. Perasaan kehilangan yang menyisakan sebuah lubang di hati, yang mungkin akan pulih seiring waktu, mungkin tidak akan pernah pulih.

Pertemuan pertama saya dengan kematian adalah ketika Kakek (paman dari Bapak) meninggal karena gangguan paru-paru. Kakek memang perokok berat. Sampai sekarang saya masih ingat aroma rokok yang menguar dari t-shirt putih tipis yang dipakainya jika kebetulan tidur bersamanya. I love that smell. And the way he breathed, it’s quite funny. Sometimes I just watched him breathing, and that moment was such a personal moment for me. Ketika itu saya mungkin masih kelas 3 SD.

I knew death come by to our home when I got up one day dan melihat Ibu sedang memasukkan baju-baju ke dalam tas sambil menangis. Dalam memori saya, she told me to ‘see’ him in the next room. I just sat there quietly, watched his dead body, trying to grasp the idea that he’s already gone. He died in his sleep, quiet and calm. I watched my grandma cried, my sister cried heavily and so silently I cried.

Ambulance datang, kami semua pulang kampung karena upacara ngaben diadakan disana and the rest was just a memory fading by..

He has done a lot for his nephews and nieces, he never did had his own children. My father was his most concern to get appropriate education, He continued to do so to us, my father’s children. He taught us a lot, how to have dignity, to behave as an educated and qualified person. Ada kebanggaan tersendiri ketika pulang kampung menyerahkan buku raport kami masing-masing dan melihat wajah sumringah nya karena kami memang selalu juara kelas. Bersamaan dengan buku raport, kami selalu membawakan Bobo. To think about it now, I thought it’s kinda sweet, mungkin kakek juga punya rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia anak-anak, atau mungkin cuma karena haus bacaan. Somehow it makes us, unconsciously, have the same eager to read anything. Ada juga hari-hari dimana kami merasa bosan membuat ‘gigi barong’ kedalam berlembar-lembar buku tulis, agar tangan terbiasa menulis tegak dan melatih konsistensi kemiringan/ ukuran huruf. Latihan yang melelahkan dan membosankan bagi anak-anak yang sering sulit memusatkan perhatian pada satu hal dalam waktu lama. Manfaatnya saya rasakan sekarang, tulisan tangan yang terbilang nyaman dimata, tidak cakar ayam.

The time to ‘have’ him as somebody I dearly called grandfather, maybe too short to learn many things from him or to know him better as a person, not only as a ‘grandfather’, but I knew that those time was so precious, which we valued until this very day.

Masih dalam memori masa anak-anak, ada seorang saudara jauh di kampung yang cukup dekat dengan kami. Usianya sepantaran kakak sulung saya, berarti 11 tahun lebih tua dari saya. Saya selalu menikmati waktu dengannya, meski jarang bertemu, tapi dia pribadi yang luar biasa hangat. Selalu tersenyum lebar, memberikan pelukan yang luarbiasa nyaman untuk anak-anak seusia saya ketika itu, yang kadang-kadang merasa gamang berada di tengah-tengah orang-orang ‘besar’. Dia juga tidak pernah keberatan untuk membawa saya ke pangkuannya. Senyuman, pelukan, percakapan sederhana yang khas ditujukan ke anak-anak, saya ingat dengan baik. Seperti saya masih ingat dengan baik ketika kabar buruk itu datang dan saya ingat harus melanjutkan menjemur cucian sambil menangis. Saudara jauh itu meninggal akibat luka bakar tingkat tiga, karena api menyambar tubuhnya ketika menghadiri upacara ngaben dikampung kami. Dia seorang penari, dan menurut kepercayaan orang-orang, sudah takdirnya meninggal di usia muda, karena ‘alam sana’, ‘alam para dewa’, yang memintanya.

Apapun alasan yang mencoba menjelaskan kehidupannya yang singkat, saat itu juga saya menyadari, things will be way different. Tidak ada lagi sambutan hangat, godaan khasnya yang selalu berhasil membuat saya merasa senang dan nyaman berlama-lama duduk didekatnya. Saya tidak ingat pasti apakah saya hadir saat upacara ngabennya atau tidak. Yang jelas her warmth is really something worth to be remembered.

Kematian nenek dari pihak ibu, terjadi ketika saya SMP. Kami sudah menduga ini akan terjadi, ketika ia mengalami stroke yang kedua. Nenek dulu seorang penari arja, an artist. Memori saya tentangnya, sosok ringkih dan sangat lembut yang selalu mencoba kuat memangku saya, meski saya seringkali menolak karena tahu, fisiknya tidak cukup kuat berlama-lama memangku saya. Aroma tubuhnya yang khas, juga saya ingat dengan baik. Ketika itu yang ada di pikiran saya, apakah semua orang yang sudah tua, aroma tubuhnya kurang lebih seperti ini? Campuran antara keringat dan minyak ramuan tradisional yang bahkan aromanya melekat di alas tempat tidur.

Saya tidak pernah benar-benar mengenal nenek dari pihak Bapak karena sudah meninggal ketika saya masih kecil. Tapi ada ingatan samar-samar waktu nenek menyelipkan uang seratus rupiah lama berwarna merah. Belakangan saya tahu dari cerita kakak-kakak saya, nenek memang menyimpan uangnya dalam buntalan kecil di lipatan kain yang dipakainya. Bagaikan kantong doraemon, seperti itulah kira-kira keajaiban buntalan kecil itu di mata kakak-kakak saya.

Kedua kakek saya (dari pihak ibu dan bapak) meninggal dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, suatu kejadian yang membuat kami merasa ‘kehilangan’ berturut-turut. Kakek dari pihak ibu (kami memanggil beliau Gungkak = kakek) adalah petualang, sejak muda malang melintang di Sumatera sana, dan kami sering menjuluki kakek : pendekar, dengan segala macam jurus silat yang dulu sekali sering diperagakannya, terutama ke kakak laki-laki saya. Sementara kakek dari pihak bapak (kami memanggilnya Sikak = kakek), kurang lebih juga petualang, karena di masa itu Sikak sudah melaut sampai ke Temasek atau Singapura, menjual sapi. Jika dibawa ke konteks sekarang, rasanya wajar sekali jika bapak sudah melakukan perjalanan ke sekian banyak negara, tidak hanya Singapura, karena memang seharusnya seorang anak mampu melampaui pengalaman orangtuanya.

Yang paling membekas, jika tidak bisa disebut pengalaman traumatik saya selama sekian tahun adalah ketika Sikak meninggal. Ada momen tertentu pada hari ketika Sikak meninggal, which made me cry EVERYTIME I remember him. I wish that day never came, I wish I had more time with him, to realized just how great this man I called grandfather was. Even when am writing this sentences at this very moment, I couldn’t help myself from crying. I still connecting myself to his soul whenever I need guidance, once a while in my life (I usually easily find that courage in my big brother’s and—now– my husband’s). I always being grateful and proud to be his youngest grandchildren, to whom he can’t resist to tell folklore each time he’s been asked to.

Yang saya sebut nenek sebenarnya bibi dari bapak. Sebagai anak bungsu dengan jarak umur cukup jauh dan kedua orangtua bekerja, praktis waktu saya lebih banyak bersama nenek ketimbang siapapun yang ada di rumah kami. Bahkan dalam bank memori saya, terutama di usia balita hingga SD, lebih banyak diisi nenek ketimbang orangtua saya sendiri. Nenek pelindung saya, teman bermain, teman tidur, “tong sampah” saya setiap kali bete, dan tentu saja, ‘bankir’ saya dalam hal jajan. Nenek yang tidak tahu baca tulis, bahkan ikut ‘sekolah’ ketika saya ada di bangku TK, karena saya memang sering merasa tidak aman jika tidak melihat wajah nenek diantara para pengantar. Saya memilih untuk menyendiri ketimbang berlarian di halaman sekolah bersama anak-anak lain. I thought it was just so tiring and uninteresting activity, running around for nothing. Tidak heran, di raport TK saya, tercantum “sering murung”, meski tidak ada masalah dlm hal menangkap pelajaran. I simply having a bad mood (all the times). I guess it was just an evil side for being the youngest in the family, and quite a spoiled one. Ha-ha.

There were times when I felt such a tremendous love for her, at my young age. I will set up the table, prepared the plates and glass just for the two of us having a ‘decent’ table manner. She was just sat there and watched me doing all this. I even cleaned all the dishes. It was fun.

I got so attached with her at my young age, I always have the same prayer everyday, I prayed to “God” that I’ll be dead at the same time with her. What a prayer. I didn’t remember another prayers at that time but that one. Dan ketika saya sedang menyelesaikan skripsi di Jogja, berita buruk itu datang. Nenek jatuh dari tempat tidur, dan kehilangan kesadaran. I cried so hard that night, dada terasa sangat sesak. I thought am gonna lose her. Saya tidak bisa pulang, karena waktu yang sangat terbatas, sehingga basically setiap hari di Jogja saya cemas setiap saat, akan ada berita dari rumah bahwa nenek benar-benar akan ‘pergi’. Setiap deringan telpon membuat dada saya sakit. Belakangan kami tahu, bahwa panggul nenek patah terlebih dahulu (yang membuatnya terjatuh dari tempat tidur), mungkin karena usia. Mengenai kehilangan kesadarannya ever since, I really didn’t have a clue.

Ketika akhirnya saya menyelesaikan skripsi, kesadaran nenek datang dan pergi. Kadang dia terlihat mengenali saya, kadang terlihat terlalu ‘sopan’ dengan saya, seakan saya orang baru, tamu yang sedang membesuknya. She saw things we didn’t see. Perlahan tapi pasti, I lost her, I didn’t know her anymore. Tubuhnya masih ada, dengan fungsi biologis yang masih normal, but her soul hidden somewhere in between. Nenek berada dalam kondisi tersebut selama sekitar 2 tahun setelahnya, dan ada banyak peristiwa yang membuat saya semakin siap untuk ‘ditinggalkan’. Sekarang saya tahu, seandainya nenek meninggal saat saya di Jogja, luka hati itu pasti takes a very long time to be healed. Nenek akhirnya benar-benar ‘pergi’ hanya sehari sepulang saya dari Australia. Saya percaya sepenuhnya, she really knew me by heart and know that I might ‘mentally’ died if she gone that fast without ‘preparing’ me to be ready to let her go.

I dreamt about her a few times after she’s gone. It was always the same old feeling, she still there for me, watching me close and never let me taking foolish choices in my life.

Acquaintance with death, every now and then, makes us grow within. Death brings to life a new beginning, a new way to see life we often take for granted. The most valuable lesson that death give us, is the power of letting go and guts to embrace a fresh new beginning, another lesson to experience this moment of life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: