Eat Love and Pray: Another Personal Experience of Knowing Bali

Setiap orang yang berkunjung ke Bali memiliki pengalaman pribadi yang bisa jadi membuka wawasan, atau bahkan mengalami pencerahan yang kelak diingat sepanjang hayat. Bagaikan candu, banyak orang ingin mengulangi momen bahagia tersebut, berkali-kali di pulau ini. Pengalaman pribadi ini tentu saja tidak melulu pengalaman manis dan positif, bisa juga pahit dan tidak layak diingat sepanjang hayat. Mungkin ada yang kecewa ketika berkunjung pertamakali, menemui kenyataan bahwa Bali tidak seindah gambarnya di internet, TV atau kartu pos. Atau kecewa karena setelah berkali-kali datang ke pulau ini, kemudian menyadari bahwa Bali sungguh membosankan sebagai tempat berlibur. Terlepas dari segala pengalaman dan pendapat pribadi terkait Bali, masyarakat Internasional tampaknya sepakat bahwa Bali layak menyandang berbagai predikat atas keberadaannya. Sebut saja, The Best Spa in The World- versi majalah Senses Wellness, The Best Island in Asia Pasifik- versi majalah pariwisata DestinAsia (4 kali berturut-turut), The Best Island of The World- versi Majalah Travel and Leisure, dll. Penghargaan ini berdasarkan hasil polling para pembacanya, dilihat dari berbagai sisi sebuah destinasi wisata.

Beberapa waktu lalu, saya menerima e-mail dari sebuah LSM yang concern pada perkembangan perfilm-an dan aktif berkontribusi untuk penyelenggaraan festival film. Isi e-mail tersebut, pengumuman mengenai kesempatan bermain film mendampingi “bintang film internasional“. Ketika e-mail itu saya terima, sudah banyak artikel/ posting yang beredar tentang syuting film Eat Pray Love (EPL) yang akan dilakukan di Ubud Bali, dan kabarnya akan diperankan oleh Julia Robert (salah satu favorit saya), sehingga e-mail itu tidak terlalu mengejutkan. Buku karya Elizabeth Gilbert ini sendiri sudah lama saya masukkan dalam list buku-buku yang ‘ingin’ saya beli. Namun selalu batal, tergantikan oleh buku-buku lain yang lebih menarik dan fulfilling. Jadilah buku ini semakin terdesak semakin ke belakang, dalam list must-have books imajiner saya. Ketika akhirnya ada kesempatan ke toko buku, saya MEMUTUSKAN untuk membeli buku EPL dan berusaha keras mengabaikan yang lain. Sebenarnya edisi bahasa Inggris jauh lebih menarik karena dengan bahasanya sendiri, tentu pengalaman si penulis lebih ‘berasa’ ketimbang terjemahan Indonesia-nya yang hanya ‘mendekati’, ditambah lagi pengalihbahasaan yang disana sini mungkin kurang tepat dan sulit dicari padanan katanya. Tapi lagi-lagi, tetap ada perasaan ‘tidak rela’ harus mengeluarkan uang ekstra untuk edisi bahasa Inggris, padahal kalau dibandingkan dengan harga buku-buku Osho, rasanya belum seberapa. Anyway, EPL sudah ditangan, siap dibaca.

Fast-forwarding…

Ketika ada beberapa buku yang secara bersamaan saya baca (biasanya dua- tiga buku) atau memilih beberapa DVD, seringkali ada ‘benang merah’ diantara buku atau DVD tersebut. Seperti saat tulisan ini dibuat, ada 3 buku yang bergantian saya baca: ‘The Winner Stands Alone’ –Paulo Coelho, Perahu Kertas –Dewi Lestari dan ELP –Elizabeth Gilbert. Secara singkat, benang merahnya kira-kira begini: Perahu Kertas dan ELP sama-sama memiliki bagian berlatar belakang Ubud Bali, lekat dengan nuansa inspiratif yang dipancarkan Ubud. Namun yang memiliki pertalian paling kuat adalah antara EPL dan The Winner Stands Alone.

Seperti banyak kisah berlatar belakang ‘penemuan jati diri’, ELP secara garis besar menceritakan perjalanan si penulis yang berusaha menemukan keseimbangan batin setelah bercerai dari suaminya. Perjalanan bernuansa spiritual tersebut membawanya ke Italia, India dan Bali, Indonesia. Saya mencoba membaca buku ELP sambil ngopi bersama kakak laki-laki dan suami saya, namun ternyata tidak cukup berhasil. Buku itu sebenarnya menarik, tapi entah apa yang kemudian membuat saya kehilangan minat melanjutkan membaca. Apakah terjemahannya/ pemilihan padanan kata yang kurang ‘mengalir’, atau karena ketika membaca saya merasa semuanya ‘standar’ dan biasa-biasa saja.

Setiap orang adalah pribadi yang unik, yang seringkali hidup dalam dunia subyektif, meski selalu mengagung-agungkan objektifitas. Pengalaman yang terjadi pada setiap orang -oleh karenanya- juga sangat unik dan very personal. Pengalaman mencerahkan yang dialami penulis ELP ketika bertemu dengan Ketut Liyer, juga merupakan pengalaman yang sangat personal. Penulis menyebut Ketut Liyer sebagai healer, medicine man dan kemudian diterjemahkan dalam edisi Indonesia sebagai ‘dukun’. Dukun generasi kesembilan. Dalam konteks Bali, apakah maksudnya adalah ‘balian’? Pemilihan kata yang berbeda dapat memberikan makna yang berbeda dalam konteks yang juga berbeda.

Saya tertarik dengan ungkapan ‘dukun generasi kesembilan’. Di Bali ada begitu banyak Ketut Liyer- Ketut Liyer yang lain, yang mungkin juga merupakan generasi ke-sekian dari silsilah keluarga mereka, dan mungkin jauh lebih ‘mandraguna’. Ada sisi ke-Bali-an saya, yang sempat memunculkan pikiran: dengan publikasi sebanyak ini, apakah pak Ketut Liyer dalam posisi berbahaya, apakah ada kiriman-kiriman ‘tak terlihat’ yang berniat menguji kedigjayaan pak Ketut Liyer? Well, dalam dunia ‘perdukunan’ segala hal mungkin terjadi. Pikiran adalah energi, yang dapat mewujud menjadi materi. Ada banyak sekali cerita seputar ‘lalu lintas pengiriman energi’ini. Orang Bali manapun familiar dengan hal ini, hanya dengan kadar percaya-tidak percaya yang berbeda-beda.

The Winner Stands Alone memberi banyak insight mengenai kehidupan para aktor/ artis internasional, segala macam intrik yang terjadi dalam sebuah industri super-mahal perfilman. Taburan ‘bintang-bintang internasional’ di Festival Cannes terkesan memang sebatas ‘taburan’ saja, dengan arti keberadaan yang ala kadarnya, pemanis, sama sekali jauh dari kesan penting dan VIP seorang ‘superstar’. Taburan bintang ini siap melakukan banyak hal demi sebuah kesempatan diundang makan siang/ malam, siapa tahu mendapat pulung kebagian peran kecil dari film yang akan dibuat atau dekat dengan segelintir orang penting di industri film. Bagaimanapun juga, toh akan selalu bermunculan bintang film baru. Dengan kata lain, movie stars are replaceable, the (movie) industry stay (= dari kreasi ulang jawaban Prince Edward kepada Queen Victoria yang bertanya mengapa harus menyelamatkan dirinya sampai Prince Edward terluka tembak dalam film Young Victoria: “I’m replaceable, YOU stay.” )

Dalam buku itu juga digambarkan kompromi-kompromi yang dilakukan oleh perusahaan film ataupun representatifnya dengan para penulis buku ayang bukunya akan diadopsi menjadi film layar lebar. Ada ‘prosedur’ tertentu yang kerap dilakukan, yang membuat saya kehilangan sebagian minat saya terhadap film-film yang diadopsi dari buku. Penulis skenario film semakin langka dan mungkin perlu waktu dan biaya yang lebih besar ketimbang mengadopsi cerita dari buku ke layar lebar.

Membaca buku Paulo Coelho untuk saya pribadi memang selalu berhasil membuka wawasan dan melihat hal-hal yang saya pikir saya ketahui, melalui jendela yang berbeda. Begitu menutup halaman terakhir buku The Winner Stands Alone, lagi-lagi saya berhitung: seandainya buku untuk membeli EPL itu saya beli untuk buku yang lain…. misalnya bukunya Jumpha Lahiri atau Chitra Banarjee Divakaruni, mungkin efeknya kurang lebih sama seperti ketika saya menutup halaman terakhir Paulo Coelho. I was regretting, to buy EPL, sorry to say. Memang impresi setiap orang terhadap sesuatu akan selalu berbeda-beda, dan EPL mungkin memang bukan untuk saya. Anyway..

Di mata industri film, mungkin EPL menawarkan tema yang sangat layak jual. Putus cinta, perceraian, kehilangan jati diri..those can happen to us all, no? Berhasil keluar dari depresi yang mendera dan menemukan jati diri (yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar ‘hilang’), merupakan alur yang membangkitkan harapan, bahwa semua akan berakhir bahagia. Dan umumnya orang lebih menyukai cerita yang happy ending.

Balik lagi ke hiruk pikuk media tentang syuting film ini di Bali, hampir semua media memberikan laporan yang sama, betapa sulitnya menembus penjagaan di lokasi syuting. Hampir semua,let’s say: semua, belum pernah berhasil memotret Julia Roberts maupun lawan mainnya dengan cukup baik, selalu dari kejauhan. Apalagi jika kameranya kualitas pocket, bisa dipastikan, pembaca hanya menebak-nebak dari postur/ gesture profil yang dipotret dan meyakinkan diri bahwa itulah Julia Roberts. Penjagaan di lokasi syuting begitu ketat, bahkan kunjungan sekelas Menteri ke lokasi syuting pun tidak mampu membuat bintang Holywood tersebut muncul ke hadapan publik diluar jadwal syuting yang mungkin sangat padat.

Pasar tradisional Ubud yang menjadi salah satu lokasi syuting film EPL pun dipermak sedemikian rupa, ditutup sana sini demi kepentingan setting yang pas. Satu dua pedagang mengeluh karena pada hari tersebut pemasukan kosong – meski mereka sebenarnya sudah mendapatkan kompensasi. Dan tidak semua pedagang mengetahui SIAPA Julia Roberts. Yang mereka tahu, ada syuting film dan bintangnya bernama Julia Roberts. Semua orang sibuk dengan kegiatannya, dan rasanya tidak ada yang tergerak untuk meminta tandatangan atau foto bersama..

Dengan perhatian yang sedemikian besar tertuju pada Bali, khususnya Ubud dan sekitarnya, masyarakat Bali umumnya tidak terlalu peduli atau mengalami euphoria karena kedatangan bintang film tenar. ‘Fenomena’ ini sempat diulas oleh salah satu majalah wanita, betapa kehidupan berjalan seperti biasa di Bali, ditengah hiruk pikuk ekspose media terhadap syuting ini. Kendaraan-kendaraan trailer super besar yang merayap di sepanjang jalan-jalan Ubud yang memang sempit, pasar Ubud yang tiba-tiba jadi tertutup, pantai Padang-padang dijaga ketat, seharusnya bisa menarik perhatian orang-orang, tapi sepertinya yang bersemangat ingin melihat atau bahkan bertemu Julia Roberts adalah wisatawan asing yang kebetulan berada di Bali. Bahkan ada yang sengaja datang ke Bali untuk mencoba peruntungan bertemu dengan Julia Roberts atau lawan mainnya,

‘Sumber inspirasi’ memiliki banyak bentuk dan makna yang berbeda bagi setiap orang. Inspirasi adalah penambah energi untuk moving forward, bertumbuh sesuai potensi diri dan berada dalam ranah pribadi. Inspirasi bisa didapat dari mana saja, hal-hal sederhana pun bisa menjadi inspirasi terciptanya karya besar di bidang apapun.

Sudah banyak film yang dibuat berlatar belakang budaya/ kehidupan di Bali sejak dulu, bahkan ada film hitam putih produksi luar negeri (saya lupa judul dan tahun produksinya). Tapi sepertinya belum pernah ada yang betul-betul dengan tepat menggambarkan ‘Bali’. Entah gaya berpakaiannya yang kurang pas, gaya bahasanya yang dengan lebay dibuat beraksen kental, atau yang parah, cara pandang yang ditampilkan di film jauh dari kenyataannya. Hal-hal inilah yang berpotensi membentuk image tentang Bali yang lagi-lagi berbeda dari aslinya, bentukan dari mereka yang datang ke Bali sejak tahun 20-an yang sebenarnya juga sedang berusaha mengerti tentang pulau kecil ini dengan way of life nya yang unik.

Apakah setelah sekian tahun, disaat jurnal-jurnal ilmiah tentang Bali semakin menumpuk, dimana ada 40.500.000 hasil pencarian dengan kata kunci ‘Bali’ di Google, dan penggarapan film Holywood- salah satunya EPL – sudah semakin ‘mahal’,professional dan mumpuni, there’ll be something ‘missing’, STILL? Let’s just wait and see and hoping that it’ll be a box office anyway..it’s Bali, for God’s sake!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: