Lighten Up, Be More Responsible to Your Dear-Self!

Akan selalu ada pahlawan-pahlawan kesiangan yang ingin mendapatkan kredit berhati mulia dihadapan orang banyak. Motivasi mereka adalah untuk mendapatkan sebanyak mungkin dukungan dari orang lain jika suatu saat mereka menghadapi masalah. Yang mendasari kejahatan mental semacam ini adalah kurangnya rasa tanggung jawab untuk mengurus diri sendiri, kekecewaan hidup, ketidakpuasan terhadap pasangan, kebiasaan untuk membuat orang lain terlihat buruk dalam segala kesempatan..dengan kata lain, para pecundang, big losers. Mereka adalah pribadi-pribadi palsu yang lemah jiwanya, gampang tersesat dalam berbagai agenda kepentingan to save their own ass.

Sangat melelahkan untuk berdekatan dengan orang-orang seperti ini. They will drag us down, untuk ikut berkubang dalam kegelapan jiwa tersesat mereka. Jika mereka merasa terancam, mereka akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan diri, dengan menghasut orang-orang lain untuk setuju dengan cara pandang mereka yang terkontaminasi. Ditengah berbagai masalah pribadi yang seharusnya mereka bereskan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap diri sendiri, justru menyibukkan diri mengurus orang lain, mengamati orang lain, mencuri-curi kesempatan untuk intervensi dan membuat diri mereka sendiri terlihat baik, peduli, dan yang mulia-mulia palsu lainnya.

They will never know themselves any better, karena mereka moving outwards, bukannya inwards,meniti jalan ke dalam diri.

Penyakit alias dis-ease, kurang lebihnya bisa diartikan akibat ketidaknyamanan, ketidaktenangan. Semua penyakit adalah psikosomatis, that’s what I believe. Tumpukan-tumpukan emosi, kekecewaan, pikiran-pikiran menyakiti orang lain..semuanya akan end up pada penyakit dalam berbagai bentuknya. Salahkan bakteri, salahkan virus, salahkan orang lain yang mungkin ‘menularkan’ penyakit ..whatever, you name it. Tapi satu yang harus diingat, energi mewujud menjadi materi. Pikiran-pikiran sesat akan mewujud menjadi penyakit. Kalaupun kita kadang-kadang sakit, don’t blame it on anything. Your body is your responsibility, so watch out your mind. Sadari saja, tubuh punya kecerdasannya sendiri, if people get sick, that’s the time they should really have big acceptance for it, to then evaluate themselves, looking inward. Jangan buru-buru kalap nyari dokter. Apalagi koar-koar menginformasikan orang lain supaya semakin banyak orang yang prihatin. Even if the worst thing happen, you should have some guts to accept, that it happened because of you. Something in you allows it. Kadang-kadang tubuh mencoba menginformasikan kita if something goes wrong. Just sit back and listen. If people get so sick, it’s really depend on them how the next phase is going to be. Akan menjadi sehat, tetap sakit tapi menerima penyakit tsb sbg bagian dari kehidupan saat ini, atau semakin memburuk karena tidak ada penerimaan dari dalam, or what?

Jika pikiran kita isinya hanya lack of self respect, strategi-strategi untuk mencelakakan orang, it registers. Apapun hal negative yang kita sempat pikirkan, rencanakan, lakukan, akan tercatat dalam buku kehidupan kita. Kita sendiri yang mencatatnya, without our conscious knowing. Dan alam semesta juga punya arsip ini, sehingga kenapa kaget if something ‘bad’ is happen to us? Tidak bisa juga kita kategorikan itu sesuatu yang buruk, let’s say it’s a happening that we don’t wish to happen.

Jika sesuatu terjadi pada diri kita, just accept, don’t seek for sympathy, gak usah terlalu mengasihani diri apalagi minta orang lain membezuk. Bukannya yang dibutuhkan ketika sakit adalah istirahat (body and mind), jadi jika terlalu banyak pengunjung, mereka yang sedang “sakit” seharusnya terganggu,kan? Karena harus berulang-ulang melewati ‘adegan’ yang sama. Pembezuk datang, basa basi, dialog yang kurang lebih sama..dst dst. Tentu saja, bagi sebagian orang, this kind of visit might help, to make them feel that people have attentions for them. Mungkin malah bisa jadi obat yang lebih mujarab ketimbang obat dokter. Tapi jika kita memang tidak berharap DARI AWAL bhw people will visit or showing sympathy (jangan lupa, bagi para pembezuk, kegiatan ini juga menimbulkan feeling good dalam diri mereka, diakui maupun tidak, they can see themselves as such a nice people, misalnya).. apakah dengan tidak ada penjenguk, membuat sakit mereka tambah parah? Gak perlu juga begitu, toh?

Kalau saja semua orang mengurus dirinya sendiri dengan baik, dengan layak, karena segala tanggung jawab kelahiran kita adalah milik kita sendiri, tidak akan ada cukup waktu untuk mencari-cari kesalahan orang lain, kekurangan orang lain, bahan-bahan gossip gres untuk dijadikan topik diantara para pengemis perhatian itu. Sebuah pikiran yang sangat sederhana, uruslah diri sendiri dengan baik, selesaikan dulu masalah-masalah pribadi (yang mungkin masih sangat banyak), sebelum sibuk membicarakan orang lain behind their back, seolah-olah sudah beres dengan kehidupannya sendiri. Please deh, ah..buktinya masih bisa sakit, masih DIS-EASE, berarti belum cukup beres to be called sehat jasmani dan rohani.

Nobody’s perfect, true. But that’s why we have to WORK ON IT. Hentikan kesibukan mengasihani diri sendiri and blaming others. Lighten up, be more responsible to your dear self, and things will be just fine. Get to know yourself, terlalu banyak yang bisa ditelusuri, dan mungkin bisa mengurangi sekian banyak waktu yang dihabiskan untuk menyusun strategi-strategi ajaib untuk membuat orang lain terlihat buruk dalam berbagai kesempatan dan mendapatkan nama baik out of it. \m/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: