Plain Truth on One Fine Family Outing

….(dalam sebuah bus pariwisata yang sesak oleh wisatawan asing yang berangkat dari Denpasar) ..”now, ladies and gentlemen..we’re heading to Taman Soekasada Ujung, located in Karangasem regency. But I must remind you to put on your eye mask, and only open it when I asked you to. The journey is meant to make you only remember the beauty of Bali, so THAT will be my main priority. Now please put on your eye mask…”

….(bus melewati sebuah jalan by pass)…hening selama sekitar 15 menit dan para turis mulai gelisah.

…”NOW! Open your eye mask! “ (para turis bergegas membuka penutup mata masing-masing dan mengerjapkan mata, menahan silau. Dan si pramuwisata pun meneruskan, “at your left you can see the beautiful rice paddies. You see, this kind of view, can be found nowhere else but here! Now…may you please put it on again..” (the journey continues).

Ketika para turis mengenakan penutup mata kembali, si guide dengan nanar menatap pemandangan sepanjang jalan tersebut. Sebelah kiri, bertebaran warung-warung sederhana nyaris kumuh, yang dibangun seadanya..pedagang kaki lima yang menjual kacamata merk palsu, sandal/ sepatu buatan luar daerah. Belum lagi sekian banyak truk yang sedang bongkar muat maupun sedang di-servis di bengkel-bengkel yang bertebaran disepanjang jalan. Semuanya jauh dari asri. Jauh dari pemandangan yang layak diingat wisatawan. Tidak ada penataan sama sekali.

Sambil menghela nafas, si guide mengarahkan pandangannya ke atas, menatap langit dan…lampu jalan. Betapa mengecewakan desainnya, mencuat memanjang bagaikan huruf “T” besar. Dan bentangan kabel-kabel listrik bagaikan benang kusut, sulit rasanya mendapatkan ruang untuk menatap langit tanpa melihat kabel terlebih dahulu. Tadinya si guide berpikir, mungkin desain ini berguna untuk menerangi kedua sisi jalan dengan lebih optimal..namun belum habis berpikir, tatapannya tertumbuk pada lampu jalan YANG LAIN di sisi kiri. Untuk apa ada dua lampu jalan, karena dari kondisinya, lampu di sisi kiri sepertinya lampu yang lama, namun belum dihilangkan.

Mencoba mengalihkan perhatian, si guide melihat ke sisi kanan, dan matanya terpaksa melihat kekacauan yang lain. Proyek jalan beton sedang berjalan, dan kenapa beton, si guide juga tidak tahu. Samar-samar ia ingat sebuah artikel tentang dampak konstruksi beton terhadap lingkungan. Tidak ada pilihan, si guide melirik kearah puluhan tamu asingnya, sambil berharap pemandangan akan segera berganti di depan sana.

…(tiba-tiba) “QUICK!Open the eye mask now NOW! So you’ll see at your right are the uniquely designed traditional Balinese houses..” etc…etc..

Dan tentu saja, situasi tadi hanya sebuah analogi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: