A NOTE – A REMINDER

Mengikuti saran seorang teman kuliah untuk mulai ‘mencatat’ kejadian penting yang sempat kita alami, seperti bencana alam yang sedang mendera tanah air ini..saya mencoba mengingat kembali pengalaman pribadi yang rasanya sulit dilupakan.

Pada bulan Mei 2006, saya mendapat tugas dari kantor untuk berangkat ke Bangalore India, untuk menghadiri undangan sebuah brand sepeda motor yang akan melebarkan sayap ke Indonesia. Bersamaan dengan itu, saya juga memenuhi undangan sebagai narasumber dalam acara ‘kuliah bersama praktisi’ –mewakili dirut- di almamater tercinta, jurusan komunikasi, Fisipol UGM. Dua peristiwa penting untuk saya pribadi: mengunjungi negara yang berada dalam daftar visualisasi kreatif saya, dan kebanggan pribadi untuk saya kembali ke kampus tidak dalam posisi sebagai mahasiswa lagi, tapi boleh menyandang embel-embel ‘praktisi’. Tidak terbersit akan ada pengalaman ketiga: menghadapi dampak dari sebuah bencana alam bahkan ketika saya tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi saat itu.

Jadilah tersusun jadwal, berangkat ke Bangalore via Jakarta- 5 hari kemudian kembali ke Jakarta- keesokan harinya pesawat pertama ke Jogakarta- titip barang-barang di Jogja TV (krn saat itu saya tidak punya kontak temen2 kuliah-tidak seperti sekarang, berkat FB)- menikmati sharing dengan mahasiswa dan nostalgia di kampus- pesawat terakhir ke Bali.

Bisa dibayangkan, barang-barang yang harus saya bawa ketika berangkat ke Jogja cukup banyak, mengingat dari Jogja langsung pulang ke Bali. Sebut saja 1 koper tanggung, 1 travel bag, tas tangan yang besar untuk memuat semua pernak-pernik saya, kamera foto, handycam. Bagai kuli barang, semuanya bisa bergelantungan di bahu.

Di bandara Soekarno-Hatta, semuanya terkesan normal. Kalau tidak salah (inilah perlunya catatan untuk membantu memori!), menunggu cukup lama untuk boarding. Sudah duduk manis di pesawat, siap-siap membuka buku, ada pemberitahuan bahwa karena sesuatu dan lain hal, sepertinya tidak bisa mendarat di bandara Adi Sucipto. Turunlah kami semua dari pesawat- kembali ke ruang tunggu dengan wajah bertanya-tanya. Tidak ada yang memberikan keterangan jelas apa yang terjadi di Jogja.

Seorang ibu di sebelah saya sibuk dengan HP nya, dengan muka cemas mencoba berulang-ulang menghubungi kerabatnya. Si ibu ini menerima kabar kalau Jogja dikhawatirkan terjadi tsunami. Tersebut juga kata gempa, dan landasan pacu di Adi Sucipto retak, dll tapi semuanya simpang siur. Terakhir melakukan kontak dengan sopir JogjaTV yang akan menjemput saya di bandara, dia sudah siap berangkat menjemput, jadi saya merasa sudah cukup aman.

Pada akhirnya, ada pemberitahuan bahwa pesawat akan mendarat di Solo dan perjalanan ke Jogja diteruskan melalui jalan darat yang akan dibantu oleh pihak maskapai. Saat itulah saya mulai benar-benar khawatir. Saya kabari keluarga di Jakarta, mencoba kontak dengan sopir yang akan menjemput (tp sdh tidak bisa dihubungi). Sepanjang penerbangan, pikiran kalut karena benar-benar tidak ada informasi apa yang sedang terjadi dan bagaimana ‘nasib’ saya setelah sampai di Solo.

Bandara Solo yang sama sekali asing buat saya, semakin menambah kekhawatiran. Tapi dengan tekad kuat berusaha untuk tetap tenang dan melakukan afirmasi bahwa apapun yang terjadi, saya akan baik-baik saja.

Kepanikan diantara penumpang sangat terasa pada saat mengambil bagasi. Ruangannya sangat sempit, seluruh penumpang berdesakan, situasinya kurang lebih sama seperti antre zakat. Saya menguatkan diri untuk tidak sempoyongan dengan berbagai beban di bahu. Setelah bagasi saya dapatkan, langkah selanjutnya merupakan keputusan penting. Dengan kondisi HP lowbat, saya mencoba menghubungi sopir, sangat sulit dihubungi, namun akhirnya saya mendapatkan info putus-putus, dia tidak mungkin menjemput saya ke Solo, karena kondisi Jogja yang sepertinya cukup parah. Menghubungi keluarga di Jakarta (yang sudah khawatir karena mereka sudah tahu dari TV) untuk menjemput saya (lagi) di Soekarno Hatta. Saya memutuskan untuk pulang kembali ke Jakarta. Pihak panitia di UGM tidak bisa saya hubungi, tapai saya tahu, acara tersebut sudah pasti batal.

Rupanya keberuntungan masih bersama saya. Dengan maskapai yang sama, saya mendapatkan tiket untuk balik ke Jakarta saat itu juga, TUNAI. Tidak bisa menggunakan kartu kredit. Syukurlah, di dompet ternyata cukup. Tidak sampai 10 menit, saya mendapati diri saya kembali berada di ruang tunggu. Di sebelah saya duduk satu keluarga, si istri menggunakan kursi roda karena kakinya di-gips. Rupanya keluarga ini tadinya berlibur ke Jogja dan ketika gempa terjadi, si istri panic, lompat dari jendela kamar di lantai sekian dan kaki patah. Mereka memutuskan untuk segera pulang ke Jakarta.

Sisanya terjadi dengan cepat. Duduk di pesawat yang sama, berulang-ulang membaca tulisan di tray makanan didepan saya, mengatur nafas, menahan tangis dengan semua huru hara sepanjang pagi itu. Baru ketika berada di mobil, ketika semua beban (barang dan pikiran) itu terlepas dari pundak dan kepala, saya ingat menangis sangat keras di mobil. Untungnya sang penjemput- sangat memahami kekalutan sekaligus kelegaan saya hari itu.

Hanya ketika sampai di rumah keluarga di Jakarta lah, saya baru mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi di Jogjakarta. Betapa parahnya Jogja akibat gempa. Yang membuat saya masih merinding adalah bahwa saya bisa saja menjadi salah satu korban akibat bangunan di bandara roboh. Jika saja saya tiba di Jogja lebih pagi, saya mungkin berada disana. Jika saya tiba di Jogja malam sebelumnya, saya tidak tahu apa yang mungkin terjadi, karena saya pasti akan mengalami sendiri gempa tersebut.

Saya pulang ke Bali hari itu juga, dengan pesawat terakhir dan baru di sore hari bisa menerima telpon dari panitia di kampus, karena situasi yang masih kacau. Tempat saya rencananya hadir (kalau tidak salah ruang seminar di Fisipol), atapnya jebol. Salahsatu narasumber yang sudah tiba di Jogja malam sebelumnya, sudah kembali ke kota asalnya, syukurlah dalam keadaan baik-baik saja.

Apa yang saya alami mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan masyarakat Jogja yang langsung mengalami dan menerima dampak dari bencana alam tersebut. Namun bagi saya pribadi, ketidakpahaman akan situasi ketika bencana terjadi- meski berada jauh dari lokasi, bisa membuat orang mengambil langkah yang kurang tepat. Saya sangat bersyukur, berbekal intuisi memutuskan kembali ke Jakarta, meski ada sebagian dari diri saya ingin berada diantara banyak orang yang memilih jalan darat ke Jogja.

Akhir tahun itu juga, saya menjejakkan kaki di Jogja, untuk pelatihan dokumenter. Dan ketika ada kesempatan shooting di daerah Kasongan dan sekitarnya, kembali saya diingatkan peristiwa gempa itu, karena teryata masih ada penduduk yang bernaung di tenda. Bahkan profil yang saya ambil, seorang perajin, sebagian tembok rumahnya masih roboh.

Semoga Jogjakarta Berhati Nyaman segera pulih.. dan kembali menjadi kota yang BERWARNA, tidak abu-abu seperti sekarang. Alam punya intelegensianya sendiri, hukum yang tidak pernah bisa diprediksi dengan tepat oleh manusia. Namun sangat penting bagi kita sebagai bagian dari alam, untuk ‘tanggap bencana’. Perlu lebih dari sekedar mencukupi kebutuhan untuk para pengungsi (yang memang sangat dibutuhkan saat ini), tidak sekedar menghibur anak-anak tapi juga memberi mereka pengetahuan berharga mengenai cara menghadapi bencana, karena di masa mendatang, siapa yang bisa memprediksi kehendak alam?

Teriring doa untuk Jogjakarta …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: