JENDELA DUNIA

Waktu kecil dulu, bacaan saya paling awal adalah si Kuncung (inget dengan kertasnya yang buram dan bau khasnya) trus Bobo, Ananda..Donald Bebek. Dari cerita 4 kakak saya, mereka waktu kecil dulu dilangganin Bobo oleh ortu. Jadi ketika harinya tiba, mereka berempat sudah stand-by menunggu loper Bobo. Kadang sampe rebutan dan musuhan (berempat jadi dua group). Heran juga, pas saya seusia mereka, kok tidak langganan Bobo lagi, ya? Mungkin karena umur saya terpaut jauh dari mereka, ya?

Anyway, saya selalu menemukan cara supaya punya bahan bacaan. Waktu SD, ada temen dekat yang langganan Bobo, saya sampai kalap melihat koleksi Bobo nya yang satu lemari! Tapi koleksi itu diatur oleh kakaknya, jadi kalopun boleh bawa pulang beberapa, harus benar-benar dijaga-jangan sampe robek-dll sederet persyaratan lain. Mungkin itu yang membuat saya sampe sekarang sangat merawat koleksi buku dirumah..

Kemudian ada buku-buku dongeng hard cover yang gambarnya luar biasa indah penuh warna. Seakan-akan memang sedang bertualang ke negeri dongeng! Buku-buku dongeng bergambar indah ini sudah pasti mahal. Entah bagaimana saya menemukan cara untuk bisa baca buku dongeng itu, yaitu dengan menyewa di perpustakaan mini milik seorang teman yang memang dari keluarga berada. Biasanya saya naik sepeda (waktu itu masih SD), transaksi (lupa sewanya berapa), dan buku-buku indah itu nangkring di keranjang depan sepeda. It was just a paradise for a little girl like me. Waktu itu sih tidak terpikir untuk minta ortu membelikan, entah karena ortu memang tidak mampu membelikan buku-buku dongeng itu, atau memang karena buku-buku itu tidak dijual di Denpasar.

Trus ada komik remaja Nina, dengan ceritanya yang penuh penderitaan dan akhirnya pasti happy ending. Saya sudah baca hampir semua serinya, lagi-lagi menyewa di depan rumah. Rasanya uang saku ketika itu cukup besar, sehingga bisa foya-foya menyewa apapun yang saya mau.

Setelah Nina, ada komik Tintin, semua serinya juga sudah terbaca semua, tapi lupa apakah dari meminjam, menyewa atau beli sendiri. Asterix dan Obelix, Iznogud, Agen Polisi 212, Cedric..memang kebanyakan komik-komik ini dari Belgia, atau Perancis. I love them all. Masa kecil yang penuh buku-buku itulah yang membuat saya selalu cinta buku, terutama aroma buku baru..mmmmm. Bikin mabok.

Ketika kuliah pun selalu berusaha mencari taman bacaan, tapi jarang yang mempunyai koleksi buku baru, sampai akhirnya nemu satu kios penyewaan buku. Tempatnya bersih, keren, deket kost, yang punya cewek pula. Bukunya baru-baru, masih bau toko, majalah-majalah luar juga baru..Huah! Kalap. Agak mahal dan waktu sewanya juga singkat, dendanya gila-gilaan..tapi saya tetap menjadi pelanggan setia. Apalagi di Jogja ada Social Agency yang bukunya selalu diskon, bahu membahu dengan kakak mengumpulkan buku-buku..Kamar kost kami penuh buku. Dari Social Agency juga yang membuat saya terbiasa membungkus buku dengan sampul plastik. Buku bisa jauh lebih awet. Seperti kata Dewi Lestari, melipat halaman buku adalah kejahatan terhadap buku. Jadi mulai juga mengumpulkan beberapa pembatas buku..(aksi dan reaksi banget ya, plus antisipatif).

Sampai sudah waktunya cabut dari Jogjakarta Berhati Nyaman..buku-buku (gabungan milik saya dan kakak) yang dipaketin kerumah sampe 3 dos buesaaar! Apalagi ketika sudah punya uang sendiri..”kecanduan” aroma buku baru ini masih nyangkoolll aja. Bertambah lagi, bertambah lagi..Tapi puncaknya adalah ketika sempat ngikut pelatihan di Sydney beberapa tahun lalu, hobi berburu buku semakin menjadi-jadi…

Book-hunt       

Sebelum berangkat ke Sydney, ada pre-departure dulu selama 3 bulan di Jakarta. Uang saku per bulan cukup besar, terutama buat mereka yang dari daerah. Pernah sekali waktu saya ‘di-drop’ di Gramedia Matraman. Dari Kuningan ternyata jauh sekali, membuat badan lemas. But once nyampe di Gramedia..langsung merasa bugar kembali! I end up beli buku se-plastik besar, trus ngopi di cafetarianya (sempit sekali) sambil baca buku. I thought to myself, THIS IS LIFE, mau beli buku.. uang ada, dengan kopi dan buku di depan mata, life IS good! But that was only the beginning of my journey with books..

Cerita dipercepat..fast forwarding..I found myself in a beautiful city : Sydney. I adjust myself quite well here. I just love it! I never felt home-sick, never missed anybody back home actually. Selama disana, saya menemukan dua toko yang sangat exciting, koleksi bukunya  banyak. Waktu itu yang terpikir adalah my big brother, setiap kali ke toko buku, I thought a lot about him. He’s my guiding star  through life. Saya sangat menyadari, tidak akan mampu membalas everything he did for me, at least saya tahu dia pasti senang dengan buku-buku baru..

Lagi-lagi karena allowance yang lumayan, dan ternyata harga buku disana lebih terjangkau..lagi-lagi saya mengumpulkan buku. Kind of books that interest me most adalah buku-buku tentang kehidupan, Tarot, Occultism, religions..again, because he likes those kind of books. Toko buku ini letaknya di subway, jadi pulang kuliah biasanya motong jalan di stasiun TV ABC, nyampe deh. Banyak toko-toko lucu disepanjang lorong, kebosanan adalah sesuatu yang mustahil. I can spent hours there. Disitu juga nemu buku otobiografi nya Osho, so I simply believe that it was not a coincidence. I found Him! (or maybe he found me)..

Ada juga Kinokuniya, kalo gak salah tempatnya deket George Street. Yang memperkenalkan Kinokuniya adalah seorang teman pujangga dari Riau, karena ketika ada event sastra di Italia, teman ini sempat ke Kinokuniya disana.

Bahkan sebelum sampe di Kinokuniya saya sudah berdebar-debar..wondering how it would be.. Jadi on one fine day, we decided to go there. My lord..it was soooo big! Serasa satu lantai mal itu cuma ada Kinokuniya.. Buku-buku berbagai warna bertebaran, it smelled so goooood! Lantainya kayu, it’s just a fabulous feeling, being surrounded by great number of books. Cuma sayangnya harganya muahal-muahal, karena mungkin kualitasnya juga berbeda. Akhirnya saya beli buku Deepak Chopra dan buku tentang televisi. It cost me a lot but it’s really worth it. Mungkin ketakjuban saya ini tidak cukup beralasan, mungkin banyak org yang tidak lagi heran dengan toko buku sebesar ini, tp untuk saya pribadi, it’s a WOW.

Saking rajinnya beli buku-buku yang mungkin menurut sebagian besar teman-teman saya topiknya “aneh”, mereka jadi hafal juga dengan buku-buku yang kira-kira menarik menurut ukuran saya. Jadi kalo ada yang kebetulan menemukan buku sejenis itu, biasanya nelpon, apa saya berminat/ tidak, uangnya diganti ketika udah sampai di apartemen kembali. You’re all so nice, guys..thanks a lot.

Masih ada Paddington Market (yang jual buku bisa bahasa Indonesia!), trus The Rock, tempat dimana saya akhirnya menemukan kartu Tarot untuk kakak..I bought 2 set of cards, for my brother and me. Feeling so good, bisa membawakan sesuatu untuknya, meskipun hanya satu set kartu.

Ketika harus say goodbye to ’spectacular Sydney’..buku-buku yang harus saya bawa pulang sampe sekoper.. Untung sebelumnya sudah mendahului mengirim paket ke alamat masing-masing, dan Garuda berbaik hati mengijinkan kami menambah beban bagasi, tapi masih ada juga teman yang over limit bagasinya, jadi harus dibongkar dan di-share dengan teman-teman yang lain..

It was a beautiful experience, yang membuat saya semakin bersemangat berburu buku kalo ada kesempatan traveling kemudian..

Seandainya disini ada Social Agency, mungkin Gramedia bukan satu-satunya pilihan berburu buku. Tapi syukurlah ada Toga Mas-alias ToMas biar gampang sebut- yang kurang lebih sama seperti Social Agency : toko buku diskon. Memang tidak se-chick tampilan Gramedia dalam hal display, tapi bagi mereka yang cinta buku, rasanya ini bukan masalah besar. Just scroll up and down the racks, you’ll find a lot of interesting books. Ini juga berlaku di Gangarams Book Bureau, di Bangalore. Display yang teratur dan rapi sama sekali bukan hal utama disini, tentu saja tanpa mengabaikan kualitas/ kelengkapan koleksi buku..

Perjalanan ke India adalah yang pertama kalinya dan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Kegiatan selama di India cukup padat, sementara waktu yang tersedia sangat singkat. Begitulah resiko jika bepergian keluar negeri karena pekerjaan, bukannya berlibur..Kali ini baru terasa kebutuhan untuk tinggal lebih lama lagi, karena merasa belum benar-benar ‘menjelajah’ di kota ini, bahkan untuk sekedar menyambangi areal yang katanya bagaikan ‘Silicon Valley’ pun tidak sempat, padahal Bangalore terkenal karena itu.

Akhirnya menjelang hari keberangkatan (pulang) ke Indonesia, baru ada kesempatan untuk menjelajah sedikit. Saya menanyakan dimana toko buku yang bagus, dan kami diarahkan ke toko buku Gangarams itu. Rasanya yang punya tujuan ke toko buku cuma saya dan seorang jurnalis dari Tempo. Mungkin juga karena kami sekamar, rasanya lebih seru kalo ada teman untuk berburu buku juga.

Memasuki toko, rasanya seperti masuk ke toko-toko di tahun 80-an, bangunan yang agak kusam, dengan bau khas debu. Tentu saja jauh dari toko buku Kinokuniya yang super megah. Tapi ketika pandangan saya tertumbuk di sebuah brosur yang tertempel di dindingnya, baru ada perasaan agak merinding-merinding..Brosur itu tentang jadwal Dynamic Meditation-nya Osho! My lord, I felt strongly connected again with Osho.. Begitu sampe didalam toko..My goodness. This is paradise! Memang sih ini toko buku, jadi kearah manapun mata memandang, tentu saja yang terlihat cuma buku dan orang-orang. Tapi disini buku seperti diletakkan begitu saja tanpa ada kode-kode tertentu seperti umumnya toko buku ‘normal’ yang pernah saya kunjungi. Dilantaipun ada tumpukan buku-buku yang mungkin tidak kebagian rak..they just left it there. Tapi memang buku-buku itu masih baru semua, dalam kondisi sangat baik, basically karena kekurangan tempat aja.

Buku Osho pertama yang saya temukan adalah The Book of Woman, nyaris terlompat kegirangan kalau saja tidak segera mengingatkan diri sendiri. Scanning..mencari-cari buku Osho yang lain, ternyata gak ada. Akhirnya memutuskan untuk nanya langsung ke penjaga tokonya. And then I was told that Osho’s Books were on the second floor. My goodness, second floor? Berarti masih ada lagi buku sebanyak ini? Ternyata memang benar, di lantai dua ada banyak buku-buku Osho! Seandainya tidak perlu memperhitungkan budget, mungkin sudah terborong semua itu buku. Anyway, akhirnya terbeli 8 buku Osho dan beberapa buku lainnya. Total kalau dirupiahkan, semuanya sekitar 500 ribu-an! Budget belanja buku terbesar yang pernah saya lakukan ketika itu. God it felt good! Tp lagi2, bagi sebagian org, budget 500rb msh sangat minim, but what to do, sekianlah stamina dompet yang ada😀

Teman seperjalanan ketika itu mungkin bertanya-tanya dalam hati, siapa sih orang bernama Osho ini,yang membuat saya kalap begini.. Kalo dijawab saat itu juga, rasanya akan jadi jawaban yang panjang..Jadi untuk gampangnya, just google ‘osho’, and you’ll find millions of results. The rest, it’s really up to people how they’re gonna pictured him, a spiritual mystic or just another phony spiritualist. For me, he has a tremendous influence on how to be human being.

Waktu untuk berada di surga buku itu sama sekali tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu, rasa lapar..but I promised myself, “I will be back!”

Sekarang ini mungkin orang lebih memilih untuk ber-e-book ria. Karena ketika dunia sedang sibuk dengan topik ‘global warming’..semua tiba-tiba terkesan latah untuk Go Green. Buku yang terdiri dari kertas, menghabiskan banyak pohon (entah berapa angka pastinya, yang jelas membuat para environmentalist sejati menjerit ngeri) dan karena itu e-book dianggap lebih ramah lingkungan. I have my own FREE e-books (download it at some kindhearted website), but I guess e-books don’t have that nice smell like a brand new book, so I still prefer a real book in my hands..

Semua perjalanan ini, memperkaya batin dan make me even more motivated to experience all the nice feelings I’ve had in those’book hunting’ moments. Semua buku memiliki judul masing-masing, demikian juga mereka memiliki ‘cerita’ mereka sendiri, hingga sampai ke tanganku. Those are my personal experience and I appreciate it all by taking a good care each of them because they’ve made me become more human..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: