a wanna-be celebrity when death comes

Saya tertarik pada topik-topik kematian. Tertarik juga dengan semua serial investigasi, detektif, kriminal, psikopat, untuk tahu bahwa kehidupan dapat tercerabut dari siapapun dengan cara apapun dan kita dipaksa untuk mencari makna dari kejadian tersebut sampai kita bisa untuk benar-benar let-go. Namun keinginan untuk ‘dikenang’ kadang membuat orang berharap akan kedatangan banyak pelayat di hari kematiannya, menganggap semakin banyak pelayat, semakin hebatlah orang itu semasa hidupnya. Dalam tulisan saya sebelumnya, ada beberapa pengalaman pribadi ‘kehilangan’ orang-orang terkasih dan anjing-anjing kesayangan secara fisik. Mereka tetap hidup dalam kenangan hangat, sepanjang nafas saya. Kematian selalu berada di depan pintu, siap mengetuk kapan saja jika waktunya sudah tiba. People just died, you know. Seberapapun dalam rasa sedih maupun rasa tidak terima kita kehilangan orang-orang terdekat, it won’t bring them back to life. It’s not a finish line anyway, but in this moment of life, those people just have to go. And we have to let them go.

Kematian seharusnya dirayakan, karena terhentilah penderitaan di dunia, terlepas dari apakah jiwa-jiwa tertentu akan kembali terlahir menuntaskan ikatan karmanya di dunia. Sementara kelahiran mungkin juga tidak perlu dirayakan sedemikian gempitanya, mengingat ada banyak tugas berat menanti, semoga saja ‘ingat’ dengan tema yang harus dituntaskan. Namun begitu, untuk yang percaya terhadap leluhur, kelahiran seorang bayi dalam keluarga juga patut disyukuri karena leluhur memiliki jalan untuk menuntaskan hutang piutang karma dari kehidupan sebelumnya. Tidak hanya kita belajar to celebrate Life, but to celebrate Death as well. Begitu kira-kira. Buat saya lebih mudah cukup menyadari bahwa dalam masa kehidupan yang INI, people do come and go. And we have to deal with it.

Ketika seorang tokoh meninggal, seringkali jumlah pelayat yang datang begitu mengagumkan. Mereka datang untuk menunjukkan penghormatan terakhir pada sang tokoh. Belum lagi jika melibatkan media. Keluarga dan kerabat, sahabat dan rekan menyampaikan pada wartawan,  kesan-kesan yang tentunya hal-hal baik dari diri sang tokoh.  Yang bisa dikategorikan tokoh adalah orang-orang yang dianggap berpengaruh besar terhadap kehidupan orang lain apapun bidang dan skalanya. Tidak selalu orang yang dari awal merupakan public figure,  bisa saja orang tersebut meninggal karena memperjuangkan atau korban dari sesuatu dan mendapatkan penghormatan  karenanya. Kematiannya membuat perubahan besar pada masyarakat yang ditinggalkannya.

Saat ini ada begitu banyak bermunculan motivator, meski dengan penampilan dan suara yang tampak dibuat-buat, banyak orang yang terpesona dan melupakan bahwa si motivator menjadikan ini sebagai profesi. Untuk saya pribadi, rasanya saya tidak akan rela mengeluarkan uang sekian banyak hanya untuk mengikuti seminar-seminar motivasi. Lebih baik saya menggaji diri sendiri dengan memotivasi diri sendiri, meski kadang sulit. Terlebih saya memiliki kakak-kakak yang rasanya jauh lebih enlightening di saat galau meraja ketimbang mendengarkan ocehan si motivator terkenal itu.

Sebagian orang terobsesi dengan kalimat motivasi ‘make your mark in the world so people will remember you after you leave this world’. Tapi ketika kehidupan terasa sesak oleh kepentingan dan upaya survival sesaat, tidak sedikitpun jejak yang sempat dibuat di dunia. Harapan terakhir adalah, paling tidak  di hari kematiannya nanti akan sesak oleh para pelayat. Mungkin terlihat tidak berhubungan, but what else can you expect? Padahal, ketika ajal sdh menjemput, ketika tak ada lagi tubuh, siapa yang tahu akan muncul kesadaran bahwa semua itu tidak lagi penting? Bahwa ketika berada di alam kematian, semua masa kehidupan terpampang jelas dan ternyata masih banyak PR yg belum juga terselesaikan? Banyaknya pelayat yang datang, mungkin memang mengindikasikan that he/ she is loved/ remembered well. Hanya saja kita tdk bisa mengklaim bahwa banyak sedikitnya pelayat yang datang merupakan indikasi almarhum orang baik atau bukan. Baik disini maksudnya orang yang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, tidak membebani/ menyusahkan orang lain. Orang yang menjalani hidupnya dengan nurani. Kalau anda mau pemakaman anda ramai, undang saja group band terkenal, saya yakin pasti areal kuburan akan sesak dengan orang.

‘Harapan’ semacam ini juga yang membuat orang berbaik-baik di masyarakat, rajin hadir dalam kegiatan apapun, tidak selalu karena keinginan murni ingin membantu, tapi juga karena ada pertanyaan terselip, kalau saya meninggal nanti, siapa yang akan mengurus jenazah saya nanti, siapa yang mengusung peti mati saya, dsb dst. Seolah-olah setelah jiwa meninggalkan raga, hal-hal semacam dikerubuti lalat atau ulat dan perlakuan orang-orang thd mayatnya akan bisa dirasakan atau membuatnya sakit hati. Apakah ada orang yang secara sadar tidak ingin merepotkan siapapun saat ia meninggal kelak? Pastinya tidak terlalu banyak.

Buat orang kita, yang mengklaim diri orang ‘timur’, cenderung memandang  masyarakat di ‘barat’ negatif atau bahkan sedikit merendahkan dengan bilang gaya hidup orang di barat (atau dimanapun ada mayarakat modern) hidupnya sangat individual, hubungan-hubungan sosial semakin langka dan orang menjadi asing satu sama lain, budaya gotong royong tidak ada, tidak ada kepedulian dengan sesama dan banyak ‘kekurangan’ lain. Tapi bagi saya, ada banyak sisi positif dengan memiliki private area kita sendiri: lebih mandiri, lebih percaya diri dalam membuat keputusan-keputusan dan benar-benar bisa ‘memilih’ untuk mengelilingi diri kita dengan orang-orang positif. Tidak terlalu diganggu oleh ‘bisik-bisiik tetangga’. Hiruk-pikuk kehidupan bermasyarakat kadang tidak mengijinkan kita memiliki priviledge semacam itu.  

Ada begitu banyak harapan terpendam disaat nyawa dan tubuh masih menjadi satu. Kematian menjadi saat mengerikan karena kita berpikir ada banyak hal didunia yang tidak bisa kita lakukan lagi dan orang-orang yang tidak bisa kita temui lagi. Jika anda membiarkan pikiran ttg hal itu semakin merasuk, anda bahkan bisa menangisi pikiran mengenai kematian anda sendiri. Tapi bukankah tidak akan ada bedanya jika saat hidup anda memang tidak melakukan apa-apa? Orang berharap keluarga dan kerabat akan merindukannya dan merasa sangat kehilangan..meski ada semacam kesadaran didalam diri, kehidupan pastinya akan terus berjalan seperti biasa. Ada beberapa orangg yang mungkin sulit pulih dari trauma akibat kehilangan orang terkasih, but Time will Heal. Dan sekali lagi, kehidupan akan berjalan seperti biasa.

Orang-orang yang terpusat mewujudkan Legenda Pribadi mereka, saya yakin tidak bercita-cita pemakamannya akan padat oleh pelayat. Mereka terlalu sibuk Hidup dan they’re died at each moment. Mereka hidup di saat ini, disini.  Dan ketika Kematian hadir saat ini disini, mereka pun akan embrace Death selayaknya  mereka embrace Life. Ketika anda menghadiri upacara pemakaman seseorang dan anda hanya salahsatu dari ratusan/ ribuan pelayat, you may want to observe for a moment, apakah yang meninggal memang orang yg telah mewujudkan legenda pribadinya, sehingga orang benar-benar tidak mau kehilangan kesempatan utk terakhir kalinya pay respect? Atau anda termasuk dalam crowd yang tidak bisa menghindari kewajiban utk pay respect karena anda bagian dari masyarakat dengan segepok aturannya, mengabaikan bagaimana perasaan individu didalamnya? Atau anda termasuk dalam crowd yang tengah berjuang menghadapi rasa takut akan kematian sekaligus memiliki cita-cita, bahwa kematian anda nanti bagaikan selebritis dengan lautan pelayat mengiringi anda ke kuburan?

The answer will appear from somewhere within you, almost instantly. But maybe you’ll promptly shifting it to another things, another reasonings..

Badung©Januari 2013

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: