An Acquaintance with ‘Village Dogs’

Beberapa waktu lalu saya punya kesempatan ikut survey lokasi untuk keperluan produksi salah satu program stasiun TV tempat saya bekerja. Program ini mengangkat profil orang-orang yang secara fisik dan finansial mengalami  kekurangan, sehingga layak dibantu. Sebagian besar memang  berlokasi jauh di luar kota Denpasar, yang membuat produser program ini harus keluar kota rata-rata 2 kali dalam seminggu. (Way to go, Made!)

Saat itu orang yang kami kunjungi adalah lelaki berusia sekitar 40 tahun yang selama 2 tahun terakhir seluruh tubuhnya menjadi kaku akibat tertimpa pohon.  Survey ini untuk mengetahui kondisi profil yang diangkat, menentukan jadwal syuting yang tentunya telah disepakati kelurga, atau pada intinya, untuk mengetahui kisah mereka. Tahap pra produksi ini penting sehingga produser mengetahui betul bagaimana menerjemahkannya ke dalam bahasa gambar. Maaf, kok jadi berasa ruang kuliah..mari kita lanjutkan kembali.

Seperti umumnya di Bali, satu areal rumah biasanya terdiri dari beberapa KK dan keluarga lelaki itu menempati bagian paling belakang. Kedatangan kami disambut gonggongan meriah, sudah hal biasa di Bali, terutama di pedesaan. Kita ‘disapa’ dulu oleh anjing sebelum bertemu empunya rumah. Buat mereka yang sudah biasa menerima ‘sambutan selamat datang’ begini, tentunya tidak merasa cemas. Apalagi yang memang menganggap anjing makhluk istimewa, pastinya tertarik mengamati mereka dan menjaga sikap sehingga mereka tidak sampai menjadi agresif karena merasa wilayah otoritasnya terganggu.  Dan saya pun tak kuasa untuk mengabaikan mereka. I need to observe them! Mengamati lekat-lekat.

Pertama kali masuk, ada 2 anjing dengan corak khas anjing Bali, corak yang sangat umum ditemui: sapi belanda. Anda tahu kan rupa sapi belanda? Nah, letakkan corak kulit sapi Belanda itu pada tubuh seekor anjing. Perkecil luas pola bulatan2 warna hitam atau putih. Voila! Jadilah anjing yang jamak ditemui di Bali. Sebenarnya ini corak favorit saya, saya pernah 2 kali memelihara jenis anjing ini. Begitu melihat mereka, saya sedikit surprised karena bayangan saya, tampilan mereka pasti ala kadarnya..tidak pake kalung/ peneng (yang ini benar, leher mrk telanjang tanpa dog collar),  penyakitan terutama kulit karena tidak kenal vaksin (tapi ternyata terlihat sangat sehat), tidak pernah dikunjungi dokter (tapi baik-baik saja), dan jarang mandi (tapi kok yang ini bulunya bagus-bagus?).

Mereka menggonggong tidak lama, endus-endus sedikit dan kembali leyeh-leyeh di tempat favorit masing-masing. Tapi kok masih ada suara anjing menggonggong? Ternyata di belakang rumah ada satu lagi berwarna putih, sibuk menggonggong sambil jalan mundur. (awas belakangmu parit, nak..). Diluar tampangnya yang snewen, dia anjing yang ganteng, dg raut muka nyaris seperti serigala (yang mini).

Dari tempat saya duduk, saya bisa cukup leluasa mengambil foto duo sapi belanda itu. Tidak lama, muncul satu lagi, warnanya hitam pekat, jantan dan matanya coklat. Saya langsung bisa membayangkan dia ini cocok sekali dengan Tamtam, anjing betina saya dirumah. Oh, mereka bisa jd perfect couple! Sama-sama hitam pekat dengan sedikit corak abu-abu di dada, mata coklat.. tiba-tiba jadi agak terharu..if only..

Bos si hitam ini sepertinya nenek yang duduk di ujung, karena duduknya nempel terus, disisi kanan  nenek itu. Setiap kali si Hitam menggeram kecil, nenek itu menyikut badan si hitam, mendekatkan wajah ke si Hitam sambil mendesis “sssstttt!”, dan kembali menyimak dengan serius pertemuan produser dengan keluarga si lelaki.

Ada sesuatu dari cara si nenek memberitahu si Hitam untuk diam, sebuah kedekatan yang langka saya temui. Bahasa tubuh menyikut si hitam sambil “ssst” itu, membuat saya geli dan terharu, si Hitam memang sudah menjadi anggota keluarga, bukan sekedar dekorasi penjaga rumah. Bukan hal sulit bagi saya untuk membayangkan adegan si nenek bercakap-cakap (tepatnya monolog) dan si Hitam mendengarkan sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang coklat, atau mungkin dengan mata setengah lilin karena mengantuk mendengar monolog nenek yang berirama membosankan?

Masih ada beberapa kali gerakan menyikut dan ‘sssttt’ itu, karena si Hitam tidak bisa menahan dorongan untuk menggonggong (nyaris melolong karena sempat tertahan ‘ssstt’ itu, mungkin). SI Hitam berpindah dari sisi nenek dan duduk tepat di hadapan orang-orang yang duduk di teras. Lagi-lagi saya melihat tanda-tanda kedekatan orang Bali dengan anjingnya, mereka menepuk si Hitam dlm rangka mencoba membuatnya turun dari teras, tp ketika tidak berhasil, si hitam mendapat belaian dan pelukan. Semua itu mereka lakukan sambil menyimak percakapan produser dengan istri si lelaki, lagi-lagi sebuah momen indah.

Perjalanan tersebut, pertemuan dengan ‘village dogs’ membuat saya merasa optimis kembali, hubungan orang Bali dengan anjing sejak ribuan tahun lalu, akan tetap harmonis setelah sempat didera kekhawatiran berlebihan terhadap bahaya rabies. Kekhawatiran yang dihembuskan oleh media, para pemegang kebijakan, pembunuhan massal yang tak terbayangkan pernah terjadi selama ribuan tahun saat manusia Bali menjalin hubungan harmonis dengan anjing mereka. Bisa jadi kedekatan yang saya saksikan hari ini karena tempat ini jauh dari hiruk pikuk kesimpangsiuran informasi tentang rabies, jauh dari penghakiman-penghakiiman sepihak terhadap keberadaan anjing Bali. Mereka disini tidak tertular virus kekhawatiran berlebihan  itu. They’re well connected. They trusted and understand each other. Long live, dear ‘balinese village dogs’!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: