INDIVIDU LEBAY MENCIPTAKAN MASYARAKAT LEBAY

Dari pagi menjelang siang, ada banyak semangat untuk memulai hari dan hamburan kata-kata manis dan berenergi baik terlontar dari bbm saya. Tapi tengah hari ada kabar yang sangat menjengkelkan, undangan masyarakat ke pejabat ternyata mendapatkan jawaban positif. Jadi lah masyarakat ini akan repot menyambut kedatangan si pejabat. Tolong diingat, hari ini adalah malam tahun baru, dan kegiatan seremonial seperti ini adalah kegiatan yang least expected. Saya bukan tipe yang euphoria terhadap pergantian tahun, tapi saya memang menganggap bahwa pergantian tahun penting untuk PRIVATE moment, untuk melakukan refleksi, kontemplasi, menjaga awareness dalam diri. Jadi bukan hiruk-pikuk histeria malam tahun baru yang saya anggap penting, tapi bagaimana ada private moment yang lebih khusus to connect with my very own self, connected with those people that matters to my life.


Himbauan untuk berjibaku dalam rangka persiapan menyambut sang pejabat membuat saya benar-benar jengkel. Masyarakat ini masih saja begitu memuja kehadiran pejabat. Tiba-tiba cuping hidung dan kepala mereka membesar sekian senti hanya karena sang pejabat bersedia hadir dalam event kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh mereka sendiri. Ketika sang pejabat memberikan bantuan, kenapa muncul ekspresi terimakasih tak terhingga sampai merunduk-runduk (secara mental dan fisik terbungkuk-bungkuk)? Bukankah memang FUNGSI dari pemerintah via sang pejabat untuk menyejahterakan masyarakat, menyediakan fasilitas umum yang layak, dll? Selain itu, dana yang seolah-olah dihambur-hamburkan dari kocek sang pejabat (terlihat dari berbagai liputan di media massa: desa ini mendapat bantuan sekian puluh juta/ ratus juta/ miliar rupiah dst) tentu saja bukan dari koceknya sendiri. Tapi penyerahan bantuan itu dibungkus sedemikian rupa sehingga terciptalah image si pejabat ini murah hati, pejabat itu pelit, dll. O-M-G

Saya percaya, masyarakat yang katanya terdiri dari individu-individu mandiri, punya potensi untuk mengevaluasi kinerja pemimpinnya. Konteks ‘pemimpin’ disini tentunya tidak otomatis berarti memiliki karakteristik pemimpin yang baik. God knows apa sejarah perjalanan karier sang pejabat, apa memang memulai kariernya dengan wajar, atau ada banyak upaya-upaya ‘penyelamatan’ atas berbagai skandal yang mewarnai kehidupan si pejabat sehingga bisa berada di posisinya sekarang. Sayangnya, masyarakat seringkali terpukau oleh tampilan-tampilan fisik yang menyertai kedatangan sang pejabat. Sebut saja sekian banyak protokoler yang dibuat seram, mobil mewah pejabat dengan plat minim angka (kalau orang biasa, plat mobilnya jarang mengundang kekaguman), voorijder dengan sirine membahana, dll. Pertunjukan. Kecuali Jokowi, mungkin, yang katanya tidak mau memanfaatkan kawalan voorijder.

Segala macam ‘bantuan’ pemerintah, bukannya pada dasarnya memang layak diterima oleh masyarakat? Ketika pasar tradisional dibuat dengan lebih layak, kenapa ada kesan rasa terimakasih ‘mendalam’ padahal kalau memang pemerintah berfungsi dengan baik, pejabat dan staff nya memang bekerja dan bukannya rajin menghitung libur bersama saja, segala macam ‘bantuan’ itu bukanlah charity, tapi memang layak diterima oleh masyarakat, layak dianggarkan untuk kebaikan masyarakat yang sedang berada dibawah kepemimpinannya. Mengapresiasi atau menghargai pemberian ‘bantuan’ itu boleh saja, tapi mbok ya jangan terlalu lebay, kok kesannya ada mental inlander, padahal Belanda sudah lama hengkang dari Indonesia.

Sejak menikah, pengetahuan saya mengenai ‘hidup bermasyarakat’ banyak bertambah. Dari awal saya tidak bermaksud ‘berprestasi’ dimasyarakat, dalam arti melakukan banyak upaya untuk mendapat predikat sebagai orang yang paling piawai, lihai dalam bermasyarakat. Hadir dalam setiap event, berjibaku smapai bolos di tempat kerja hanya supaya bisa setor muka dan lagi-lagi mendapat pujian sebagai perempuan serba bisa, pintar mengatur waktu dll. Hell with that.

Kenyataannya, banyak orang yang dalam kehidupan nyata nya samasekali tidak mengenal dirinya sendiri, menjalankan hidup bagaikan mimpi, hanya membawa bingkai kemana-mana dan mengepas-ngepaskan dirinya ke dalam bingkai yang sudah ditetapkan ukurannya oleh masyarakat. Seringkali ada kekecewaan tapi tidak cukup bernyali untuk step forward (atau step back ketika keadaan sudah begitu diluar ukuran diri) melainkan terus pantang mundur mengepaskan diri dalam bingkai tersebut. Bingkai semacam ini juga bisa digunakan untuk mengukur orang lain, seberapa ‘lihai’ mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga orang-orang seperti saya -yang lebih banyak mengikuti kenyamanan dan kerelaan saya sendiri dalam menjalankan/ mengikuti sesuatu, adalah yang paling banyak dikecam- meski belum ada yang complain didepan saya menyatakan keberatannya atas perilaku saya yang berbeda, yang tidak mengikuti agenda setting mereka. Toh saya tetap senang mengingat kata-kata Eleanor Roosevelt, “do what you feel in your heart to be right, for you’ll be criticized anyway.” Jadi begitulah.

Ada satu kejadian yang menurut saya aneh, tdk terpikirkan sebelumnya. Saat arisan keluarga, setelah membagikan kopi dan kue, otomatis saya duduk dekat suami. Belakangan baru saya sadar ternyata peserta arisan duduknya terpisah, para istri disisi satu, para suami di sisi lainnya. Memang tidak selalu setting tempat duduk seperti ini, tergantung kondisi lokasi arisan, tapi rasanya itu terjadi karena kebiasaan. Pada pertemuan/ rembug banjar, perempuan dan laki-laki terpisah jadwal. Pada rapat laki-laki bahasannya menurut saya lebih menarik, karena membahas soal seputar desa, system yang baru, peraturan2..dll, sementara rapat perempuan (arisan)lebih banyak membahas upacara dan hari-hari baik menurut kalender Bali. No offense, saya menulis ini menurut my personal opinion, saya tidak ingin berdebat soal betapa system yang beginilah yang membuat Bali ‘bertahan’ (?). Hanya ketika ada agenda khusus/ penting saja rasanya pertemuan perempuan dan laki-laki menjadi satu. Contohnya? Ya kedatangan sang pejabat yang agung.

Para pemimpin dalam skala kecil lah yang menurut saya berpotensi menciptakan sistem masyarakat yang bermanfaat sebesar-besarnya bagi semua individu2 yang ada didalamnya. Atau lebih ‘kecil’ lagi, dari diri kita sendiri. Seringkali presiden yang harus menanggung jutaan telunjuk yang menuding ke arahnya ketika things don’t work as (people) expected. Tapi pemimpin-pemimpin kecil dalam lingkupan banjar atau desa yang sebenarnya bisa mengarahkan, mendidik masyarakat untuk tetap melihat segala sesuatu as the way it is, bukan seberapa banyak ‘bantuan’ yang digelontorkan. Untuk membiasakan masyarakat tidak silau oleh kemeriahan acara seremonial, karena sebenarnya that’s just another stage for politician untuk kembali mengumbar kata-kata bijak bestari yang membuai.

Ada pepatah Cina yang mengatakan, give man a fish and you feed him for a day. Teach a man to fish and you feed him for a lifetime. Sekedar menggelontorkan uang tidak memberi banyak makna. Hanya membuat masyarakat semakin pandir dan lebay saat berhadapan dengan ‘orang penting’, melemahkan fungsi kontrol down top karena sudah banyak ‘dibantu’. Selamat Tahun Baru!
My room, 31 Dec 2012 (yes I know, this is a late post)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: