Laki-laki Misterius

Laki-laki itu selalu mengenakan celana panjang putih dan kemeja lengan panjang yang tergulung mendekati siku. Kemejanya paling sering berwarna putih juga, atau kadang-kadang biru tipis. Selalu rapi dan pakaiannya tidak terlihat kusut. Umurnya mungkin sekitar 40-an tahun, dengan perawakan agak jangkung. Sekilas kalau dilihat, akan langsung menyimpulkan : bodi junkies.

Wajahnya lumayan, seandainya saja ada sedikit kecerahan disana. Ekspresi wajahnya selalu sama, seperti tidak ada pikiran yang terbaca pada wajah itu, wajah datar tanpa emosi. Hanya satu yang jelas terbaca: laki-laki itu akan berjalan dan berjalan. Langkahnya pasti, ritmis, pandangan selalu terpaku di satu titik di depan. Dia sering membawa tas plastik berwarna hitam yang entah apa isinya. Di lain waktu dia tidak membawa apapun, hanya berjalan dg langkah ritmis dan ekspresi kosong.

Entah kapan kami menyadari keberadaannya. Sepertinya baik saya maupun kakak, telah mengalami pengulangan melihat laki-laki itu secara terpisah. Hanya ketika suatu saat topik mengarah ke karakter-karakter misterius dalam ‘normal-daily-life, barulah kami sama-sama menyadari bahwa kami “mengenali” orang yang sama.

Sejak saat itu, kami sering bertukar informasi jika salah satu melihat laki-laki itu di jalan. Kadang saya melihatnya di dalam kota, random places, random time. Kadang di pinggir kota, yang sepertinya terlalu absurd untuk dilewati oleh laki-laki yang selalu berjalan kaki itu.

Setiap kali melihat laki-laki itu, terbayang sepotong adegan dari film Robert de Niro (lupa judulnya), yang  menampilkan kehidupan seorang kepala keluarga, selalu berpakaian necis, membawa koper dan seolah-olah berangkat ke kantor. Suatu waktu kopernya terjatuh dan terbuka, dan hanya ada 1 buah apel di dalamnya.Hanya apel.  Tidak ada berkas apapun yang umumnya mengisi sebuah tas kerja.

Ada kebisuan yang getir dalam adegan itu. Ternyata si tokoh harus selalu berpura-pura berangkat kerja dengan teratur padahal ia pengangguran, tidak ingin membuat khawatir keluarganya, bahwa ia ‘baik-baik saja’. Laki-laki misterius yang selalu berjalan kaki itu, bagai perwujudan si tokoh dalam kehidupan nyata.

Pertanyaan yang selalu muncul memang selalu pertanyaan standar, siapakah dia, darimana asalnya/ rumahnya, apa dia sebatangkara/ memiliki keluarga, apa yang dia lakukan, apakah dia mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya harus tetap berjalan,meski tanpa tujuan? Tapi nuansa pertanyaan itu sangat tidak standar, mengapa kami harus sering melihatnya di jalan? Sesuatu terjadi bukan karena ‘kebetulan’ yang sederhana. Something behind it, and that’s a bit CREEPY.

Kadang muncul keinginan, suatu waktu kami harus mengikuti- atau lebih tepatnya menguntit- laki-laki itu untuk mendapatkan semua jawaban dari pertanyaan standar tersebut. Untuk menjawab kekhawatiran kami sendiri: is there something that he want to tell us, atau apakah ada keterikatan karma dengan laki-laki itu? Mungkin terdengar berlebihan, tapi it’s just that: nothing happen just by a mere coincidence. There must be a reason…

2 Comments (+add yours?)

  1. jarot2878
    Mar 17, 2013 @ 14:41:14

    Tidak ada salahnya say hay ke laki-laki itu & mengajak minum secangkir kopi atau teh…dan semuanya akan terjawab, jika waktunya tiba>

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: