So You Think You Knew Me?

Sudah lama ingin menulis sesuatu tentang opini orang-orang disekitar saya, tentang saya. Mungkin anda pikir ini tulisan narsis, tapi bukan sama sekali. Ini sesuatu yang bahkan sangat sering anda jumpai dlm kehidupan sehari-hari, saat dimana orang lain sok tahu tentang kehidupan kita MELEBIHI pengetahuan kita ttg diri kita sendiri. Atau jangan-jangan, disadari maupun tidak, mungkin saja anda atau saya tergelincir menjadi si orang sok tahu tersebut. Itu sebabnya kita harus menjadi penonton yang sadar sepenuhnya akan setiap momen, menjadi ‘polisi’ bagi segala pikiran dan tindakan kita sendiri.

If you want to continue reading this, pertama-tama saya informasikan, saya orang yang lebih menyukai kesendirian, sangat jarang- bahkan sejak masih belia- sampai ada rasa ‘kesepian’. Saya tumbuh dan besar dikelilingi oleh orang tua dan kakak-kakak yg hangat, kami terbiasa dengan pelukan dan hujan ciuman, jadi menikmati kesendirian tentu saja bukan upaya saya untuk tercerabut dari dunia. Dunia memperlakukan saya dengan baik, jd tidak ada pentingnya saya memalingkan diri dari dunia. Keep in mind, alone-ness is never meant a loneli-ness. Tapi kebanyakan orang menganggap, mereka yg terlihat menikmati kesendirian adalah orang-orang kesepian. Menurut saya, hanya orang-orang kesepian yg tidak bisa menikmati mewahnya kesendirian ditengah hiruk pikuk manusia yg berkoar-koar tdk penting- dimana setiap orang merasa ‘dikejar oleh waktu’ sebelum kematian memanggil, hanya orang-orang kesepian yang perlu lebih banyak dan lebih banyak orang untuk mengisi a big hole within their heart. Terkadang orang-orang yang mereka biarkan masuk dlm kehidupan mrk justru dragging them down, membuat mereka semakin jauh dari kesadaran sebagai human being.

Ok, do you still with me, reading this? Good. Sekarang let me share you, apa saja opini orang tentang saya- meski saya  menganggap itu sebagai perbuatan ‘baik’ mereka pada saya karena memiliki begitu banyak waktu untuk memikirkan saya :

– “kenapa memutuskan berpisah stlh berpacaran ckp lama?”

Lamanya waktu tentu saja bukan ukuran kebahagiaan. Jika anda jujur pada diri anda sendiri, jika anda cukup bersikeras untuk mewujudkan rasa syukur terhadap Sang Hidup dengan cara membuat diri anda bahagia, ada saat2 untuk letting-go. Be brave dan syukuri semua kenangan manis, but Life has to move on. Semua orang layak mendapatkan cinta yg penuh, dan akan tidak adil bagi salah satu pihak untuk hanya mendapat setengah dari cinta yang layak didapatkannya. So say thankyou and goodbye. Anda bisa lihat kan, kehidupan MEMANG berjalan terus. Jika ada hati yang sempat patah, ia akan pulih kembali. Dan kedewasaan meningkat sekian level. Setiap gelas kristal yang indah melalui proses pembakaran yang panas membara.

– “kenapa selalu diantar-jemput suami? Apakah tdk bs berangkat sendiri? Suaminya kok mau ya? Apa gak kasihan ama suaminya?”

Terus terang saja, sampai hari ini saya masih takjub dengan pertanyaan2 ini. Suami saya juga sama takjubnya, kami merasa sangat asing dengan pertanyaan ajaib itu. Saya tidak pernah dengan sengaja mencaritahu apa saja opini org tentang saya, itu bukan prioritas sy dlm hidup. Tapi informasi itu masuk tanpa saya minta. Se-ajaib apapun opini yg disampaikan ke saya, it’s ok, semua itu tidak akan menambah apa yang saya kenal dari diri saya sendiri. Toh semua orang bebas mengarahkan pikirannya sendiri, dan saya bebas untuk menentukan apakah itu penting atau omongkosong. Hanya karena saya cukup senang menulis, ini bisa jadi bahan tulisan yang menarik.

Ok, kembali lagi soal ‘transportasi’ tsb. Dengan gampang saya bisa saja bereaksi, “apa urusannya?Mau suami kek, temen kek, shahrukh khan kek, ngapain ngurusin siapa yg antarjemput saya? Toh bukan kamu yg bayar bensinnya?”

Saya ingin sekali tertawa terpingkal-pingkal saat nulis ini, tapi suami dan anjing sy sedang tidur lelap..so I will just have this wiiiddee smile,ok.

Pertanyaan yang diajukan dengan campuran rasa jengkel dan prihatin itu, benar2 terasa ajaib buat saya. Setiap orang punya pola hubungan pribadi, perlakuan2 satu sama lain yang bukan urusan orang lain. Ini bukan pelajaran sejarah, yang jika ada mencuat cerita lain, org akan bilang: “..bukan begitu kata sejarah..” Apa mereka hadir dalam setiap momen kehidupan saya sehingga merasa berhak “mengoreksi” bgmn sy menjalani kehidupan saya? Apa mereka tahu, dlm klrg saya, bapak sll mengantarjemput ibu, mulai sejak mrk pacaran sampai hari ini, selama 47 tahun usia pernikahan? Dan msh banyak manusia lain yang juga diantarjemput pasangannya, tdk sll laki-laki ke perempuan, tp jg sebaliknya. Samasekali bukan kegiatan yg aneh atau dilakukan oleh makhluk luar angkasa. Sangat wajar dan manusiawi. Apa mrk tahu jadwal harian org lain pastinya berbeda dg dirinya, jumlah kendaraan yg ada di setiap rumah berbeda jumlah dan fungsinya? Ada pepatah yang bilang, lebih baik diam dan terlihat cerdas, daripada bicara tapi terlihat bodoh. Sepertinya mereka memilih pilihan kedua..

Apa saya tidak punya kendaraan sendiri?– Oh ada, malah skrg ganti dengan yang baru.|| Apa saya lupa caranya naik motor? –Mau balapan? Semua org yang mengenal sy cukup dekat, pasti bisa membayangkan sy di lintasan balap, dg terampil dan high speed melampaui yg lain. Dan jgn salah, pendapat ini dari kaum laki-laki yg biasanya terobsesi dg kecepatan. ||apa gak kasian ama suaminya? — suami saya org paling bertanggungjawab dan penuh kasih yg pernah sy tahu. Dan saya tdk akan memilih sembarang orang utk bisa menikah dg sy. Empatinya yg tak terbatas lah yang membuat saya mrs terlindungi, my knight in shinning armor yang membuat sy menguar bahagia. Sayangnya, justru tindakan/perlakuan yg sgt gentleman dlm memperlakukan perempuan itu dianggap lemah, “mengganggu” konsep sebagian laki-laki (sekali lagi sebagian) yang bangga jika istrinya tdk pernah membuatnya “repot”, bangga istrinya merunduk ketakutan kalau dia marah, bangga bisa membicarakan betapa tidakpentingnya istrinya, bahwa dialah sang kepala keluarga yang menentukan segalanya.

Jadi, dg melihat bgmn “repotnya” suami antarjemput saya, sepertinya telah mengganggu tatanan teori kejantanan yg sdh melekat dalam otak purba mereka, otak yang masih lekat dg visual manusia purba menyeret perempuan masuk ke dalam gua batunya. Visual ini membantu saya untuk tidak emosijiwa menanggapinya, karena sy memahami betapa itu mengganggu mereka. Apa terpikir di otak purba mereka, bahwa proses antarjemput itu punya efek mendekatkan pasangan? Entah sudah berapa juta masalah yg terselesaikan dalam kesempatan itu, entah sudah berapa juta kali pelukan dan ciuman (dan juga tangisan-teriakan marah) yg mengisi sela-sela percakapan yg terjadi? Just try it for yourself first, maybe you’ll learn something about yourself and your relationship.

Dan yang paling cetar diantara ini semua, adalah:

-kok belum punya anak? Mau nunggu apa lagi sih? Inget umur lho..kalo telat nanti disangka kakek dan neneknya lho..dst

Masyarakat, menurut saya, jika boleh saya visualkan, sangat mirip dengan penggambaran nenek sihir di film Walt Disney,  dengan seringai jahat di wajahnya, yang selalu haus akan rasa ingin tahu, dan memiliki rasa tidak sabar untuk meluncurkan kutukan terbaru, kesigapan utk menyebarkan pikiran-pikiran jahat.. Masyarakat terdiri dari individu2, bukan? Apakah masyarakat yang culas merupakan cerminan individu2 tersebut? Nobody knows. Yang jelas, mereka sibuk berspekulasi, sibuk menganalisa layaknya ilmuwan yang akan menemukan pengobatan bagi kanker langka. Kalau boleh mengajukan saran, kenapa tidak mengarahkan mikroskop ke diri mereka sendiri, mungkin ada miliaran bakteri ketidaksadaran yang akan mereka temukan?

Mengapa mereka memelihara pikiran buruk dengan menganggap org-org yang memutuskan untuk menunda, belum atau bahkan tidak akan berketurunan sebagai org-org yang hanya mengejar materi, menyalahi kodrat dll? Terlahir mjd manusia pada hakikatnya adalah bertanggungjawab pada dirisendiri, tdk akan menyalahkan Tuhan atau dunia atas apapun yang terjadi pd dirinya, tdk merengek agar doanya dikabulkan, betapapun doa itu sangat terdengar transaksional. Live life the way you want it, be a giver and have no regrets towards life.

Komentar-komentar umum yang biasanya dilontarkan pada saya ataupun suami diantaranya, “yang sabar aja ya..”, “lebih ‘sering’ dong..” dll. Apa mereka juga hadir di ranjang sy utk bisa sedemikian sok tau mengoreksi apa yg harus dilakukan agar “berhasil”? With all my respect, kejantanan sering dipahami sebagai ‘keberhasilan membuahi’, seperti halnya pelajaran biologi. Hanya dengan beranakpinak seolah-olah kualitas diri sebagai manusia bisa naik sekian peringkat, melebihi mereka yang belum/tidak punya anak. Saya teringat dengan jawaban Katy Perry yang sangat jujur ketika ditanya wartawan mengapa dia belum juga memiliki anak. A very simple but honest answer: “how can ‘babies’ have babies?” Dengan kata lain, age never define how mature you are as a human being. Katy Perry menganggap dirinya blm mencapai tingkat kedewasaan yg menurutnya layak untuk memunculkan manusia lain ke bumi ini, lebih2 untuk memanusiakan anak, yg mrpk kewajiban dari siapapun yang menyebut dirinya orangtua. Ini merupakan sikap yang sangat rendah hati, padahal semua org tahu, Katy Perry menginspirasi sekian juta remaja didunia untuk menghargai diri mrk sendiri, untuk berani mewujudkan mimpi, mencegah mereka kehilangan arah di masa remaja yg membingungkan.

Hanya menjadi orangtua biologis tidak berarti anda bisa mengklaim anda sudah cukup ‘manusia’. Disadari maupun tidak, orangtua sering tergelincir mendidik anak dalam kerangka ‘itu baik untuknya’, memaksakan harapan dan mimpi si orangtua (yg blm sempat terwujud) ke si anak, padahal anak menyimpan potensi begitu besar untuk menjadi diri mrk sendiri tanpa harus dijejali berbagai macam pelabelan sesuai kehendak orangtua.

Sebagian orang terbiasa melabelkan mrk yang tidak punya anak seperti manusia tanpa tujuan, yang mencoba begitu keras untuk jd “seperti yang lain” (beranakpinak), sehingga kemudian tanpa mereka sadari, mereka merasa prihatin, kasihan dg yang belum berketurunan. Dan bonusnya, sorry to say, hanya dg memikirkan ‘kemalangan’ org yg blm/ tdk akan berketurunan, membuat mrk mrs lebih baik terhadap diri mereka sendiri. Itu sebabnya sy tdk lagi emosi jiwa menanggapi rasa ingin tahu berlebihan ttg mengapa saya blm juga beranakpinak, krn sy tahu, adalah karma baik untuk saya-  karena mrk jadi mrs lebih baik thd diri mereka sendiri. LOL.

Kalo masih juga ada yg tanya, trus apa tujuannya menikah? Saya menikah dg suami bukan karena mabuk kepayang, bukan keputusan sesaat. Menikah karena kami tahu akan menjadi team yang super. Dua manusia dewasa yang enjoying each others’ company, bertumbuh bersama, making the best out of each other. Suami adalah orang yg paling sy percayai selain diri sendiri dan  klrg inti. Dan saya paling anti dengan sebagian laki-laki yang berkomentar ‘hamili dlu, coba dulu, baru dinikahi..nanti klo gak bs punya anak kan berabe urusannya’. Menurut saya, itu sikap mental paling memalukan yang hanya menganggap istri sebagai mesin pembuat anak, bukan sbg teman hidup. Dan apakah mereka tahu, dari awal pun menikah itu bukan salah satu hal yang sy anggap ‘prestasi’, sehingga kalaupun sy single sampai mati, it won’t disturb me. Suami lah yang membuat saya merasa dia orang yang terlalu sayang untuk dilewatkan. LOL.

Dalam persekutuan dua individu, tidak sekedar persenggamaan jasmani yg terjadi, tapi yg lebih penting lagi adalah persenggamaan pikiran dan spiritual. Dan ketika semua persenggamaan itu tidak seimbang, tdk sehat, sekali lagi, be brave to let it go. Namun ada begitu banyak pernikahan yg tidak membahagiakan, yang tidak ‘menghidupkan’ (meski bisa menghasilkan makhluk hidup), tetap saja diteruskan dg berbagai alasan. Demi anak-lah, nanti anak jd brokenhome lah, dll. Tapi just think for a moment, apakah juga tdk berpengaruh buruk bagi anak, ketika kedua orangtuanya menjelma mjd individu2 tidak bahagia, lelah batin, mski masih hidup seatap? Dari sana anak-anaklah yg menjadi sumber pelipur lara, pelampiasan hasrat dan kehendak terpendam. When THAT happen, do you still have some proud-ness left?

Sederhana saja, if being a parent makes you happy, GOOD FOR YOU. Gak usah repot-repot memikirkan atau merasa prihatin dengan mereka yang belum/ tidak menjadi orangtua (biologis). To be a giver, tidak harus terbatas pada anak kandung kok. Bahkan tidak harus pada manusia saja. Semesta ini maha pemurah, anda harus beresonansi untuk juga pemurah, then you have it all. Buat apa koar-koar bahwa anda laki-laki subur yang bisa menghamili siapa saja (apa sdh anda buktikan ke kuda/ sapi tetangga juga-kah?), jika anda tidak mencerminkan kindness dalam setiap langkah anda? Tidak menghormati way of life org lain? Memang ada saja pertanyaan yg merujuk ke mitos, nanti org tuamu gak bs masuk sorga klo kamu tdk berketurunan..nanti tdk ada yg melanjutkan garis keturunan..dll. Sayangnya, sy percaya setiap org membawa karmanya sendiri, dan surga neraka itu bukan tempat, tp state of being. Apakah ada Life after Death? Itu jg rumit, so no, thanks. Cukup curahkan energi now and here, itu mnghemat energi dan kita bisa lbh bertanggungjawab terhadap diri sendiri.

Ok, so there I’ve shared my thoughts. Kalau kebetulan anda membaca ini dan ingin org lain yang sepertinya msh penasaran dg hidup saya, silahkan dibagi juga. Siapatau msh ada opini2 lain yg blm sy tahu..dengan senang hati sy akan menuliskannya di kesempatan berikutnya.

Until then, don’t waste your energy, be responsible for your own life. Bye now.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: